Jika Anda berlangganan Netflix, kemungkinan besar Anda sudah tidak asing lagi dengan serial Black Miror. Pertama kali dirilis pada 2011, Black Mirror berhasil mencuri perhatian masyarakat dan kritikus dengan ide-idenya yang unik, penuh satire, dan menggugah pemikiran. Setiap episode Black Mirror mengusung tema teknologi terkini, tetapi dengan pandangan yang lebih gelap, yang sering kali mengkritik dampak negatif teknologi terhadap kehidupan manusia. Meskipun bersifat fiksi, beberapa episode dari serial ini menggambarkan kemungkinan yang tak jauh dari kenyataan, di mana teknologi telah mengubah sisi kemanusiaan kita.
Apakah Anda tahu bahwa beberapa episode dalam Black Mirror sebenarnya sudah atau kemungkinan akan terjadi dalam kehidupan kita? Fakta ini mungkin membuat Anda merasa cemas, namun tak dapat dipungkiri bahwa teknologi selalu berkembang tanpa henti. Berikut adalah lima episode Black Mirror yang teknologi di dalamnya mendekati kenyataan—dan beberapa bahkan sudah mulai kita lihat di dunia nyata.
1. “White Bear” (Season 2, 2013)
Dalam episode ini, kita diperkenalkan dengan Victoria Skillane, yang terbangun dalam kebingungannya setelah kehilangan ingatan. Ia dikejar-kejar oleh orang-orang yang tampaknya berusaha menyakitinya, sementara orang-orang yang ditemuinya justru tampak tidak peduli dan hanya menonton tanpa membantu. Ternyata, Victoria adalah seorang pelaku kejahatan yang mendapat hukuman melalui simulasi di mana ia terus dihukum ulang setiap hari, dipertontonkan kepada masyarakat yang marah di White Bear Justice Park.
Ide ini mencerminkan fenomena dalam masyarakat kita yang kadang terlalu cepat menghakimi tanpa melihat sisi kemanusiaan seseorang. Sistem seperti ini sudah mulai berkembang dalam dunia nyata, dengan berbagai negara menerapkan hukuman publik melalui media sosial atau kampanye penghukuman yang tanpa ampun. Meskipun masih jauh dari kenyataan, konsep penghapusan ingatan, seperti yang ditunjukkan dalam episode ini, bisa saja menjadi kemungkinan di masa depan. Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan saraf di Harvard, Steve Ramirez, yang mengklaim berhasil menghapus dan memanipulasi ingatan pada tikus, memberikan gambaran bahwa teknologi ini suatu saat bisa diterapkan pada manusia.
2. “Nosedive” (Season 3, 2016)
Dalam episode ini, manusia dinilai dan diberi rating berdasarkan interaksi sosial mereka—mirip dengan sistem rating di aplikasi seperti App Store atau Google Play. Lacey, tokoh utama, berusaha keras menaikkan rating sosialnya, meskipun ia harus menghadapi kenyataan bahwa sistem ini membuat orang berbuat baik hanya untuk mendapatkan rating yang tinggi. Ketika rating seseorang menurun, mereka mulai kehilangan akses ke berbagai keuntungan dalam hidup.
Fenomena seperti ini sudah mulai diterapkan di dunia nyata. Di Tiongkok, pemerintah berencana memberlakukan sistem Social Credit pada 2020. Dalam sistem ini, setiap aktivitas warga, mulai dari interaksi sosial hingga kebiasaan sehari-hari, akan dinilai dan dikategorikan sebagai positif atau negatif. Sistem ini tidak hanya mengancam privasi, tetapi juga bisa mempengaruhi kesempatan kerja, pendidikan, dan berbagai aspek hidup seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa pengawasan sosial melalui rating bisa menjadi kenyataan yang semakin nyata.
3. “Arkangel” (Season 4, 2017)
Di episode ini, Marie, seorang ibu, menggunakan teknologi untuk menanamkan chip di tubuh anaknya, Sara, dengan tujuan untuk melindunginya. Namun, teknologi ini justru membuat Sara merasa terperangkap, sementara Marie menjadi semakin obsesif terhadap pengawasan dan kontrol. Konsep pengawasan orangtua ini mengingatkan kita pada kecenderungan orangtua yang terlalu protektif terhadap anak mereka.
Sementara chip yang ditanamkan dalam tubuh manusia seperti yang ditampilkan dalam episode ini belum menjadi kenyataan, teknologi serupa sudah mulai diterapkan dalam kehidupan kita. Pada 2016, di Jerman, ada eksperimen di mana pengunjung pameran teknologi secara sukarela menanamkan microchip kecil di tubuh mereka untuk tujuan membuka kunci ponsel atau pintu. Meski teknologi tersebut belum meluas, pengawasan melalui chip atau teknologi wearable yang bisa melacak dan memonitor aktivitas manusia bukanlah hal yang mustahil di masa depan.
4. “The Waldo Moment” (Season 2, 2013)
Waldo, karakter animasi yang dikenal dengan gaya kritis dan lucu, akhirnya digunakan sebagai alat untuk menyerang politisi dalam episode ini. Waldo, yang awalnya hanyalah karakter kartun, dijadikan tokoh yang berkompetisi dalam pemilu, menciptakan kekacauan dengan kampanye negatif terhadap politisi. Masyarakat pun mengikuti pendapat Waldo, tanpa memedulikan substansi kebijakan.
Konsep ini sudah terlihat di dunia nyata, di mana figur anonim atau akun media sosial sering kali menjadi pusat penyebaran opini atau bahkan kampanye hitam. Selain itu, teknologi yang digunakan untuk menciptakan karakter animasi mirip Waldo juga sudah ada, seperti Animoji pada iPhone X yang memungkinkan pengguna mengubah ekspresi wajah mereka menjadi karakter animasi. Meski tak sepenuhnya sama, teknologi ini menunjukkan bahwa penggunaan avatar digital dalam konteks politik atau sosial bisa menjadi lebih nyata dalam waktu dekat.
5. “Fifteen Million Merits” (Season 1, 2011)
Episode ini menggambarkan dunia di mana manusia harus bekerja keras untuk mengumpulkan “Merits”, sebuah mata uang yang digunakan untuk membeli barang, hiburan, dan kesempatan untuk keluar dari rutinitas monoton. Setiap individu harus bersepeda untuk menghasilkan energi, dan mereka dipaksa menjalani kehidupan yang terkekang oleh teknologi.
Meski konsep Fifteen Million Merits mungkin terlihat futuristik, kenyataannya sudah ada upaya untuk mengonversi energi manusia menjadi daya. Sebagai contoh, sebuah perusahaan teknologi Eropa, Digital Trends, telah mengembangkan perangkat yang dapat mengubah gerakan tubuh menjadi energi untuk mengisi ulang daya perangkat seperti power bank. Teknologi semacam ini menunjukkan bahwa konversi energi manusia menjadi daya adalah sesuatu yang mungkin dikembangkan lebih lanjut di masa depan.
Black Mirror adalah sebuah serial yang menyuguhkan kisah-kisah gelap dan mengerikan tentang bagaimana teknologi dapat membawa dampak negatif bagi umat manusia. Meskipun banyak dari cerita tersebut bersifat fiksi, kenyataan bahwa teknologi serupa sudah atau akan hadir di dunia nyata adalah hal yang patut diperhatikan. Mulai dari sistem rating sosial yang mirip dengan yang ada di Tiongkok, hingga penggunaan teknologi untuk mengontrol dan memonitor kehidupan pribadi, kita sudah berada di titik di mana teknologi dan etika sering kali berbenturan. Sebagai masyarakat, penting bagi kita untuk terus mempertanyakan dampak dari teknologi terhadap kebebasan dan kemanusiaan kita, agar kita tidak terperangkap dalam distopia yang digambarkan oleh Black Mirror.
