Hubungi Kami

The DioField Chronicle: Menyusuri Jalur Baru untuk SRPG

Ketika seseorang menyebut genre RPG strategi atau taktis, sering kali yang terbayang adalah pertempuran berbasis giliran di atas grid. Meski ada beberapa pengecualian, medan pertempuran dalam game seperti Tactics Ogre, Final Fantasy Tactics, Disgaea, dan Fire Emblem telah menjadi ciri khas genre ini. The DioField Chronicle, yang dikembangkan oleh Square Enix dan Lancarse (yang dikenal dengan Shin Megami Tensei: Strange Journey) dan diterbitkan oleh yang pertama, menawarkan nuansa baru dalam pertempuran strategis, meskipun aspek cerita di antara pertarungan terasa kurang berkembang.

Latar Belakang Cerita: Ketegangan di Pulau DioField

The DioField Chronicle berlangsung di pulau DioField, yang terletak di lepas pantai tanah yang disebut “benua.” Dua faksi yang berperang, Kekaisaran Schoevian dan Aliansi Rowetale, telah terjebak dalam konflik bertahun-tahun dan kini mengalihkan perhatian mereka ke DioField, yang kaya akan Jade, bahan bakar untuk sihir modern. Perhatian mendadak dari benua ini mengacaukan keseimbangan kekuasaan di DioField, menciptakan intrik di antara rival domestik dan penyusup asing.

Pemain mengendalikan Andrias, mantan pengawas pangeran muda dari keluarga penguasa DioField yang kini menjadi tentara bayaran. Bersama tiga karakter utama lainnya—teman dekat Andrias, Fredret, seorang ksatria pengembara bernama Iscarion, dan seorang bangsawati muda bernama Waltaquin—mereka membentuk perusahaan tentara bayaran bernama Blue Foxes. Pemain mengalami gejolak di DioField melalui perspektif mereka, diiringi drama internal di antara karakter-karakter yang semakin berkembang.

Pengembangan Cerita: Intrik dan Ketidakpastian

Pada awalnya, narasi terasa agak sulit dipahami. Banyak istilah dan nama yang tidak familiar, sementara sedikit dari intrik politik yang berlangsung berdampak pada kehidupan karakter. Sebagian besar peristiwa dalam cerita disampaikan melalui monolog narator yang tak terlihat antara pertarungan, membuatnya terasa kurang personal. Namun, seiring berjalannya waktu, cerita ini terbukti menarik dan menegangkan. Pemain akan terus ditebak-tebak tentang siapa yang memanipulasi siapa, seiring loyalitas dan idealisme bertabrakan.

Cerita dalam The DioField Chronicle mengingatkan pemain akan Final Fantasy Tactics, Tactics Ogre, dan Fire Emblem. Bagi audiens yang lebih mainstream, seri Game of Thrones mungkin menjadi perbandingan yang lebih tepat, dan Square Enix tampaknya memanfaatkan hal ini dengan menyewa komposer Ramin Djawadi dan Brandon Campbell untuk mengisi skor permainan. Musik mereka yang halus sangat cocok dengan narasi dan bisa dinikmati dalam waktu yang lama.

Sistem Pertempuran: Dari Giliran ke Real-Time

Berbeda dengan pertempuran berbasis giliran, The DioField Chronicle mengadopsi sistem “real-time tactical battle”. Meskipun istilah ini terdengar baru, sistem ini akan terasa akrab bagi siapa pun yang pernah bermain game MOBA seperti League of Legends atau Defense of the Ancients. Pertempuran berlangsung secara real-time, tetapi waktu akan berhenti saat memberi perintah. Pemain mengendalikan empat karakter, memberikan mereka perintah saat terlibat dalam pertempuran melawan musuh, bergantian antara menyerang otomatis dan mengaktifkan keterampilan.

Elemen strategis tidak hanya bergantung pada posisi yang kuat, meskipun menyerang dari belakang memberikan “damage ambush” yang lebih tinggi. Sebagian besar strategi pemain berfokus pada sinergi antar unit, memaksimalkan DPS, serangan area, buff yang terjadwal, dan waktu refresh keterampilan.

Tantangan dan Keberagaman dalam Pertempuran

Sebagai seseorang yang tidak terlalu mahir dalam permainan MOBA, saya merasa The DioField Chronicle tidak terlalu menantang. Saya dapat melewati pertempuran di tingkat normal dengan mudah, dan hanya mengalami sedikit kesulitan pada tingkat yang lebih sulit. Pemain dapat meningkatkan kecepatan permainan hingga 1,5x atau 2x, namun tantangan ini terasa kurang memuaskan karena mengandalkan kepanikan daripada taktik yang lebih cerdas atau musuh yang lebih tangguh. Meski demikian, dasar-dasar pertempuran dalam The DioField Chronicle tetap solid, sehingga saya tidak pernah merasa bosan dan terus menemukan pertempuran yang menarik bahkan setelah puluhan jam bermain.

Antara Pertempuran: Basis Rumah yang Kurang Terlaksana

Di antara pertempuran, pemain dapat menjelajahi markas Blue Foxes, Elm Camp. Di sini, pemain dapat berbicara dengan karakter lain, mengambil misi sampingan, membeli item, dan meningkatkan keterampilan serta senjata. Meskipun awalnya tampak mirip dengan Skyhold di Dragon Age: Inquisition atau Garreg Mach Monastery di Fire Emblem: Three Houses, pemain segera menyadari bahwa tempat ini kurang mendalam atau berkarakter dibandingkan markas tersebut.

Percakapan antar karakter tidak interaktif dan tidak ada sistem ikatan karakter. Setiap percakapan seperti misi sampingan yang memberikan sumber daya untuk meningkatkan unit atau membuka pertarungan opsional. Percakapan sepenuhnya linier dan hanya nominalnya opsional, membuat markas terasa sebagai bagian yang tidak terpakai, seolah desainer awalnya berencana untuk lebih banyak mengembangkan sistem ini tetapi kemudian kehabisan waktu atau dana.

Meskipun aspek markas rumah dalam permainan ini kurang berkembang, pertempuran yang menjadi inti dari The DioField Chronicle adalah napas segar. Dibalut dengan cerita yang penuh intrik dan drama, The DioField Chronicle kemungkinan akan memuaskan penggemar genre ini dan mungkin mengarahkan jalur baru untuknya di masa depan.

unimma

Leave a Reply

  • https://ssg.streamingmurah.com:8048
  • Copyright ©2025 by PT. Radio Unimma. All Rights Reserved
  • http://45.64.97.82:8048
  • Copyright ©2025 by unimmafm. All Rights Reserved
  • http://45.64.97.82:8048/stream
  • Copyright ©2025 by unimmafm All Rights Reserved