Triangle Strategy adalah sebuah permainan strategi taktis yang menawarkan alur lambat namun mampu menarik perhatian penggemar genre ini, khususnya mereka yang menyukai permainan klasik seperti Fire Emblem atau Final Fantasy Tactics. Dikembangkan oleh Tomoya Asano, kreator Bravely Default dan Octopath Traveler, game ini adalah bagian dari seri “HD-2D” milik Square Enix, yang menggabungkan karakter piksel dengan latar belakang mendetail. Meskipun fokusnya pada pertarungan taktis alih-alih RPG khas Jepang, Triangle Strategy tetap membawa semangat yang sama, dengan cerita yang rumit, karakter yang beragam, dan pilihan taktik yang tidak terlalu kompleks.
Latar Belakang dan Karakter
Triangle Strategy berlatar di benua Norzelia yang terbagi atas tiga negara: Glenbrook, Aesfrost, dan Hyzanthe. Pemain akan mengendalikan Serenoa Wolffort, seorang bangsawan muda dari Glenbrook, yang memimpin salah satu rumah utama kerajaan. Tiga puluh tahun sebelum permainan dimulai, terjadi konflik besar bernama Perang Saltiron yang disebabkan oleh kekayaan alam berupa besi di Aesfrost dan garam di Hyzanthe. Setelah konflik ini, perdamaian rapuh terjalin berkat Serenoa ayah Serenoa, yang mengorbankan kekuatan militernya demi kedamaian.
Seiring permainan dimulai, Serenoa bertemu dengan tunangannya, Frederica Aesfrost, seorang perempuan keturunan Rosellan yang sering dipandang rendah karena statusnya sebagai anak dari seorang selir. Meski mengalami diskriminasi dari keluarga Aesfrost dan Hyzanthe, Frederica mendapati dirinya diterima oleh keluarga Wolffort. Selain Frederica, kita juga bertemu Pangeran Roland, sahabat Serenoa yang juga pangeran Glenbrook, dan penasihat keluarga Wolffort, Benedict. Setiap karakter utama ini merepresentasikan satu dari tiga “kebajikan” dalam permainan: utility (kemanfaatan), morality (moral), dan liberty (kebebasan) – yang akan memengaruhi perkembangan cerita.
Alur Cerita yang Intens
Setelah beberapa bab pengenalan dunia dan karakter, pemain dibawa ke dalam konflik besar yang melibatkan banyak faksi. Konflik di Triangle Strategy mengingatkan pada Game of Thrones, di mana berbagai pihak mencoba memanfaatkan kekacauan untuk mencapai ambisi mereka masing-masing. Ceritanya mengalir dengan menarik, meskipun banyak kejutan dalam permainan yang sudah tertebak berkat foreshadowing yang kuat. Alur permainan ini membuat setiap twist dan pengkhianatan terasa lebih sebagai suatu keniscayaan daripada kejutan besar.
Sistem Pilihan dan Konsekuensi
Permainan ini memiliki dua mode utama: cerita dan pertempuran. Dalam mode cerita, pemain menguatkan “keyakinan” Serenoa berdasarkan tiga kebajikan yang disebutkan sebelumnya melalui pilihan dialog. Pemain tidak dapat melihat kemana arah keyakinan Serenoa, tetapi pilihan ini akan menentukan karakter yang bergabung dan alur cerita yang berkembang. Pada titik tertentu dalam cerita, pemain menggunakan Scales of Conviction (Timbangan Keyakinan), di mana Serenoa dan tokoh-tokoh lainnya menentukan pilihan penting. Sering kali pemain diberi kesempatan untuk mempengaruhi tokoh-tokoh lain dalam memilih satu keputusan, tetapi hal ini berdampak pada kebajikan tertentu. Setiap pilihan melalui Scales of Conviction membawa konsekuensi yang meningkat, sehingga membuat pemain merasa benar-benar berperan dalam nasib Serenoa.
Mode Pertempuran yang Menantang
Mode pertempuran berlangsung di peta 3D di mana posisi dan ketinggian medan sangat mempengaruhi hasilnya. Pemain akan memberikan kerusakan lebih besar ketika menyerang musuh dari tempat lebih tinggi, atau dari posisi belakang. AI musuh akan memanfaatkan setiap celah, sehingga pemain harus berhati-hati dan strategis. Permainan ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, di mana kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Setiap karakter memiliki kemampuan unik dan memerlukan Tactical Points untuk digunakan. Pemain harus bijak dalam mengatur kapan menggunakan poin ini, sebab karakter yang tidak memiliki poin pada momen krusial bisa sangat merugikan.
Sayangnya, pemain tidak dapat “membagi” gerakan karakter setelah melakukan aksi. Pemain harus memilih apakah akan menyerang lalu bergerak, atau bergerak dulu baru menyerang. Sistem ini memang memaksa pemain untuk membuat keputusan yang lebih sulit, tetapi juga membatasi beberapa taktik dalam pertarungan.
Pengembangan Karakter dan Strategi Penggunaan Sumber Daya
Di luar pertempuran, pemain bisa meningkatkan karakter melalui promosi untuk membuka kemampuan baru atau dengan memperbarui senjata mereka. Sumber daya di Triangle Strategy terbatas, sehingga pemain harus memilih karakter mana yang akan difokuskan. Ini menambah dimensi strategi dalam pengelolaan sumber daya dan membuat setiap keputusan terasa lebih berarti.
Pace yang Lambat, tapi Memuaskan
Bagian paling divisif dari Triangle Strategy mungkin adalah tempo permainan yang lambat. Seperti Octopath Traveler, permainan ini berlangsung dengan sangat berhati-hati. Jika pemain ingin menonton setiap cutscene dan menjelajahi peta secara mendalam, mereka mungkin harus menunggu sekitar satu jam di antara pertempuran. Pertempuran juga bisa memakan waktu lama, sebab setiap karakter memiliki kekuatan yang relatif setara dengan musuh, sehingga tidak ada yang bisa dengan mudah menguasai pertarungan.
Meski pertempuran di Triangle Strategy menuntut kehati-hatian, saya menyukai bahwa setiap langkah dalam pertempuran terasa taktis dan berdampak besar. Pemain tidak akan menemukan pertarungan “cepat” dalam permainan ini, dan itulah yang membuat pengalaman bermain terasa begitu strategis.
