Voice of Cards: The Isle Dragon Roars adalah RPG unik yang dikembangkan oleh Square Enix dengan sentuhan berbeda dari RPG pada umumnya. Meski judulnya mungkin mengarah pada gameplay berbasis kartu seperti Card Hunter atau Card of Darkness, kenyataannya permainan ini tidak melibatkan pembuatan deck atau mekanisme pengundian acak seperti yang biasanya ditemukan pada permainan kartu. Sebaliknya, Voice of Cards menghadirkan gameplay JRPG tradisional yang dibalut dalam presentasi yang sangat khas, menggunakan kartu sebagai alat untuk bercerita. Game ini diciptakan oleh Yoko Taro dan Yosuke Saito, dua tokoh yang dikenal melalui Drakengard dan NieR, membawa gaya yang sama sekali berbeda dengan RPG lain yang ada.
Memahami Konsep Gameplay yang Unik
Dalam Voice of Cards, hampir semua aspek dunia dan gameplay diwakili oleh kartu. Ada kartu karakter, kartu monster, kartu item, hingga kartu keterampilan. Peta dunia pun disusun menggunakan kartu yang disusun terbalik di area yang berbahaya. Pemain harus mendekati kartu-kartu tersebut untuk membaliknya dan mengungkapkan rahasia yang tersembunyi. Konsep ini juga berlaku pada cara pemain berinteraksi dengan permainan. Antarmuka pengguna dan menu yang muncul selama pertempuran ataupun saat berinteraksi di luar pertempuran, semuanya menggunakan kartu. Bahkan, dialog dalam permainan juga ditampilkan dengan cara yang serupa, di mana pemain bisa menahan tombol untuk sedikit melihat efek dari pilihan dialog yang mereka buat.
Elemen visual selain kartu adalah hanya satu figur seperti pion yang mewakili pemain di peta, sebuah papan permainan terpisah yang muncul saat pertempuran dimulai, dan dadu yang digulung untuk beberapa efek keterampilan. Seorang “gamemaster” menceritakan setiap alur cerita dan mengisi suara untuk setiap karakter, mirip seperti seorang DM dalam permainan tabletop. Pendekatan ini mengingatkan pada elemen eksplorasi di Unlimited Saga dan estetika tabletop yang lebih terasa dalam Crimson Shroud.
Dunia dan Gameplay yang Terbuka Lewat Imajinasi
Meskipun banyak yang mungkin mengira bahwa penggunaan kartu ini akan mengurangi rasa imersi dalam permainan, kenyataannya justru menciptakan suasana yang santai dan mendorong pemain untuk menggunakan imajinasinya untuk mengisi celah-celah presentasi yang ada, mirip dengan pengalaman bermain game tabletop. Suara Todd Haberkorn sebagai gamemaster mungkin tidak sepenuhnya meyakinkan saat mencoba berakting sebagai karakter, tetapi Voice of Cards berhasil memberikan banyak gerakan dan ekspresi melalui kartu-kartu yang ada. Misalnya, saat Anda melemparkan mantra angin, kartu monster akan terbang di udara. Kartu-kartu ini bergerak dinamis dan jatuh dalam bahaya saat cerita berkembang. Flip kartu juga bisa mengungkapkan versi berbeda dari ilustrasi karakter yang sangat indah dari Kimihiko Fujisaka di momen-momen dramatis.
Pengalaman yang Menonjolkan Aspek Tabletop
Membangun dunia dengan kartu berarti bahwa pemain hampir tidak pernah lupa bahwa mereka sedang memainkan sebuah permainan. Yoko Taro dan timnya sangat memanfaatkan hal ini, menampilkan mekanisme dan tropes yang menjadi fondasi dari genre RPG secara jelas dan terbuka. Di banyak JRPG lainnya, angka-angka dan dadu sering kali “disembunyikan di balik layar” untuk menciptakan ilusi, namun dalam Voice of Cards, pemain bisa melihat setiap lemparan dadu yang dilakukan oleh karakter atau monster dalam permainan. Bahkan, banyak kemampuan yang mengacu pada pemain atau gamemaster dalam teks mereka. Permata, yang merupakan mata uang yang digunakan untuk melempar mantra dan mengaktifkan kemampuan lainnya dalam pertempuran, tidak hanya diwakili oleh angka abstrak, melainkan permata fisik yang jatuh ke dalam wadah di sisi papan pertempuran tempat skenario pertempuran dimainkan.
Cerita yang Sederhana namun Penuh Perputaran
Di permukaan, cerita Voice of Cards sangat sederhana, seperti kebanyakan RPG klasik. Seorang naga menakut-nakuti wilayah, dan ratu menjanjikan hadiah kepada siapa saja yang berhasil membunuhnya. Namun, seperti kebanyakan karya Yoko Taro, permainan ini terus menggali ekspektasi pemain dan membongkarnya dengan cara yang tak terduga. Protagonis utama bukanlah seorang pahlawan altruistik, melainkan seorang oportunis yang hanya mengejar hadiah. Kelompok pemain sering kali bertentangan dengan tiga pahlawan berjubah putih dari Ivory Order yang merupakan tipe klasik dari arketipe pahlawan fantasi, namun menunjukkan sedikit kehangatan terhadap orang-orang yang mereka lindungi. Para penulis juga menambahkan sedikit lelucon metatekstual yang mengkritik NPC yang hanya mengulang satu kalimat dan desain dungeon yang tidak praktis.
Selain itu, pemain akan mengumpulkan kartu untuk setiap karakter yang mereka temui dan setiap monster yang mereka lawan. Setiap kartu tersebut menjelaskan sejarah karakter atau makhluk tersebut. Berinteraksi cukup sering dengan individu atau jenis monster tersebut akan membuka cerita sisi baliknya, yang biasanya mengungkapkan twist gelap layaknya cerita dari Twilight Zone ala JRPG. Namun, tanpa memberi spoiler lebih lanjut, ini hanya sebagian kecil dari subversi yang lebih besar yang menanti pemain dalam cerita ini.
Kekurangan dalam Gameplay
Voice of Cards: The Isle Dragon Roars mungkin akan sulit diterima bagi mereka yang mengharapkan adegan cutscene anime atau visual yang sangat imersif dari RPG mereka. Durasi permainan juga tidak bisa dibandingkan dengan JRPG tingkat atas lainnya, dengan waktu bermain sekitar 12 jam. Pertempurannya, meskipun cepat dan sederhana sesuai dengan suasana game yang intim dan tidak rumit, mulai terasa repetitif pada paruh kedua permainan, terutama di dungeon yang hampir sepenuhnya dihuni oleh monster-monster dengan kelemahan elemen yang sama. Selain itu, dengan menghindari mekanik berbasis kartu, game ini tidak menawarkan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh JRPG konvensional. Estetika game ini adalah daya tarik utamanya, dan jika estetika ini tidak menarik bagi pemain, mungkin ada sedikit alasan untuk terus melanjutkan.
