Serial Black Mirror yang pertama kali tayang pada 2011 sudah lama mencuri perhatian banyak orang berkat ide cerita yang gelap, penuh sindiran, dan satir tentang perkembangan teknologi. Meskipun ceritanya fiksi dan berlatar dunia distopia, tema-tema yang diangkat dalam setiap episode seolah memberikan gambaran tentang masa depan yang mungkin sangat dekat dengan kenyataan.
Kebanyakan episode Black Mirror mengeksplorasi sisi kelam dari teknologi dan dampaknya terhadap kemanusiaan. Meskipun teknologi dalam serial ini terlihat berlebihan, kenyataannya beberapa konsep yang dihadirkan justru semakin mendekati realitas. Jadi, episode mana saja yang ternyata bisa menjadi kenyataan dalam beberapa tahun ke depan? Berikut beberapa episode Black Mirror yang teknologi di dalamnya mungkin sudah atau akan terjadi.
1. “White Bear” (Season 2, 2013)
White Bear menceritakan kisah Victoria Skillane, seorang wanita yang terbangun tanpa ingatan dan dikejar oleh orang-orang yang tampaknya ingin menghakiminya. Ternyata, Victoria adalah seorang yang telah melakukan kejahatan besar, dan dia menjalani hukuman dalam bentuk sebuah pertunjukan publik, di mana masyarakat bisa menyaksikan penderitaannya setiap hari di White Bear Justice Park.
Di dunia nyata, fenomena “main hakim sendiri” atau menghakimi tanpa memberi kesempatan untuk perubahan sudah semakin marak, terutama di media sosial. Banyak orang yang terlibat dalam “perang opini” di internet tanpa mempertimbangkan konteks atau kesempatan bagi pelaku untuk bertobat atau berubah. Masyarakat kita bahkan bisa dengan mudah mengakses kehidupan pribadi seseorang dan menjadikannya konsumsi publik.
Dari sisi teknologi, riset di bidang neurologi menunjukkan bahwa menghapus atau memanipulasi ingatan manusia bukanlah hal yang mustahil. Beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh ilmuwan dari Harvard, telah berhasil mengubah ingatan pada tikus. Walaupun masih ada masalah etika, bukan tidak mungkin bahwa suatu saat teknologi ini bisa diterapkan pada manusia.
2. “Nosedive” (Season 3, 2016)
Nosedive menggambarkan dunia di mana setiap orang diberikan rating berdasarkan interaksi sosial mereka, seperti yang kita lihat di aplikasi-aplikasi seperti Uber atau Airbnb. Dalam episode ini, Lacey berusaha meningkatkan ratingnya yang rendah agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tetapi pada akhirnya ia terjebak dalam ketidakpastian dan kepura-puraan.
Fenomana ini tak jauh berbeda dengan sistem Social Credit yang sedang dikembangkan di Tiongkok. Di negara tersebut, setiap warga negara dinilai berdasarkan perilaku mereka, mulai dari pembayaran utang hingga interaksi sosial. Sistem ini bisa berdampak pada banyak aspek kehidupan, termasuk pekerjaan, pendidikan, dan bahkan kemampuan seseorang untuk bepergian. Dengan semakin banyaknya platform sosial yang mengumpulkan data pribadi, kemungkinan untuk hidup dalam dunia yang dinilai secara digital semakin dekat.
3. “Arkangel” (Season 4, 2017)
Di Arkangel, seorang ibu bernama Marie menggunakan teknologi untuk memasang chip di tubuh anaknya, Sara, demi memantau kesehatannya dan melindunginya dari bahaya. Teknologi ini memberi ibu kontrol penuh atas kehidupan anaknya, namun efeknya justru merusak hubungan mereka dan kebebasan sang anak.
Konsep mengontrol atau memantau kehidupan seseorang lewat chip atau perangkat wearable sudah mulai berkembang. Di Jerman, beberapa orang telah menjadi relawan untuk mencoba memasang microchip di tubuh mereka, yang memungkinkan mereka membuka pintu atau mengakses perangkat dengan hanya menggesekkan tangan. Sementara teknologi ini masih terbatas, ada kemungkinan bahwa di masa depan, teknologi serupa akan digunakan untuk memantau atau mengendalikan lebih banyak aspek kehidupan manusia, yang dapat menimbulkan masalah privasi dan kebebasan individu.
4. “The Waldo Moment” (Season 2, 2013)
The Waldo Moment menceritakan tentang karakter animasi bernama Waldo, yang awalnya dibuat untuk mengkritik politisi namun kemudian dipaksa untuk menjadi kandidat politik dalam kampanye yang penuh dengan manipulasi dan serangan personal. Episode ini menggambarkan bagaimana karakter buatan dan teknologi bisa mengubah dinamika politik dan opini publik.
Saat ini, kita sudah melihat beberapa elemen yang mirip dengan Waldo dalam kehidupan nyata, seperti penggunaan karakter animasi atau avatar dalam kampanye politik. Apple misalnya, mengembangkan fitur Animoji yang memungkinkan pengguna untuk mengubah ekspresi wajah mereka menjadi avatar animasi. Selain itu, kampanye politik yang dipengaruhi oleh media sosial dan manipulasi opini publik melalui informasi yang disaring juga semakin marak. Teknologi yang memungkinkan tokoh fiktif untuk berinteraksi dengan dunia nyata semakin menjadi kenyataan.
5. “Fifteen Million Merits” (Season 1, 2011)
Fifteen Million Merits menggambarkan dunia di mana orang-orang hidup di ruang kecil yang penuh dengan layar besar, dan mereka harus bekerja keras untuk mendapatkan “merits” yang bisa mereka tukarkan dengan barang atau hiburan. Teknologi di dunia ini memaksa setiap orang untuk terus berlari dan menghasilkan energi agar bisa bertahan hidup dalam sistem yang menilai mereka berdasarkan aktivitas sehari-hari.
Di dunia nyata, kita semakin bergantung pada pekerjaan yang menuntut kita untuk terus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, sementara teknologi seperti perangkat wearable mulai digunakan untuk memantau aktivitas fisik kita. Bahkan, ada riset yang menunjukkan bahwa energi manusia bisa diubah menjadi sumber daya yang bisa digunakan untuk mengisi daya perangkat elektronik, seperti yang dilakukan oleh perusahaan Digital Trends. Jika teknologi ini berkembang lebih jauh, kita bisa jadi berada dalam sistem yang serupa dengan yang ada di Fifteen Million Merits, di mana segala aktivitas kita bisa menjadi komoditas yang diperdagangkan.
Masa Depan yang Terhubung dengan Teknologi
Meskipun Black Mirror berfokus pada sisi gelap teknologi, banyak dari cerita-cerita yang ada sebenarnya mencerminkan tren dan potensi perkembangan teknologi yang kita hadapi di dunia nyata. Sementara beberapa teknologi ini mungkin masih jauh dari kenyataan, ada kemungkinan besar bahwa sebagian dari konsep-konsep tersebut akan menjadi bagian dari kehidupan kita dalam waktu dekat. Seiring dengan perkembangan teknologi, kita perlu selalu berhati-hati dan mempertimbangkan dampak sosial, etis, dan moral yang mungkin muncul di masa depan.
