Hubungi Kami

Pusat Kolaborasi Uji Tak Merusak, Aplikasi Teknologi Nuklir untuk Masa Depan

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) terus menunjukkan peran strategisnya dalam pemanfaatan teknologi nuklir. Sejak 2015, Batan telah ditunjuk oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) sebagai Collaborating Centre (CC) untuk wilayah Asia Pasifik di bidang Non-Destructive Testing and Investigation (Uji Tak Merusak/UTM).

Kepercayaan ini menjadikan Batan sebagai pusat pembelajaran dan kolaborasi dalam mengaplikasikan teknologi nuklir untuk UTM, yang banyak digunakan di berbagai industri. Dengan peran ini, Batan bertanggung jawab mengoordinasikan berbagai upaya pengembangan serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.

Peningkatan Kapasitas SDM dan Tantangan yang Dihadapi

Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Batan, Totti Tjiptosumirat, menyatakan bahwa pihaknya memiliki tugas yang tidak mudah dalam mengembangkan teknologi UTM berbasis nuklir. Selain koordinasi internal, Batan juga harus mengedukasi masyarakat dan industri tentang manfaat teknologi ini.

Salah satu tantangan utama adalah membangun kepercayaan publik terhadap manfaat teknologi nuklir dalam pembangunan dan ekonomi. Pemanfaatan teknologi UTM dapat berkontribusi pada sektor industri, lingkungan, dan berbagai bidang lainnya tanpa harus menghentikan operasional peralatan yang diuji.

“Dengan demikian, teknologi nuklir tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan internal Batan, tetapi juga bisa dimanfaatkan masyarakat luas untuk meningkatkan kesejahteraan,” ujar Totti dalam webinar yang digelar pada Selasa (8/12/2020).

Untuk memperkuat peran ini, Batan terus membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta, agar teknologi nuklir dapat diterapkan secara luas di industri nasional.

Batan sebagai Collaborating Centre Uji Tak Merusak

Sebagai Collaborating Centre UTM, Batan memiliki masa tugas empat tahun dan harus melaporkan hasil kinerjanya kepada IAEA. Pada 2018, Batan kembali mendapat perpanjangan status untuk periode 2020-2024 setelah evaluasi yang dilakukan oleh IAEA.

Saat ini, hanya 41 negara di dunia yang memiliki status CC UTM berbasis teknologi nuklir, dan 33 di antaranya merupakan anggota IAEA. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan internasional terhadap kapasitas Batan dalam bidang ini sangat tinggi.

Pengembangan Peralatan Uji Tak Merusak oleh Batan

Kepala Pusat Rekayasa Fasilitas Nuklir (PRFN) Batan, Kristedjo Kurnianto, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengembangkan beberapa peralatan untuk mendukung kegiatan UTM. Sebagian besar peralatan yang digunakan saat ini masih merupakan produk luar negeri, sehingga pengembangan mandiri menjadi langkah strategis menuju kemandirian teknologi.

Beberapa peralatan yang telah dikembangkan Batan antara lain:

  1. Radioscopy – Peralatan berbasis sinar X yang digunakan dalam UTM. Peralatan ini telah dievaluasi oleh pakar IAEA dan dinyatakan mampu berfungsi dengan baik.
  2. Computed Tomography – Digunakan dalam industri untuk assembly inspection guna mendeteksi kemungkinan kerusakan pada produk selama proses produksi. Selain itu, alat ini dapat digunakan untuk deviation analysis guna memastikan kesesuaian produk dengan desain awalnya.

Pengembangan teknologi ini menghadapi berbagai tantangan, di antaranya kecenderungan industri untuk lebih memilih produk luar negeri dengan merek tertentu, serta minimnya lembaga sertifikasi untuk produk radiografi digital di Indonesia.

Tantangan dan Masa Depan Teknologi Uji Tak Merusak di Indonesia

Beberapa tantangan dalam pengembangan UTM berbasis teknologi nuklir di Indonesia meliputi:

  • Ketergantungan pada vendor luar negeri dalam penyediaan peralatan UTM.
  • Perkembangan teknologi radiografi yang relatif lebih lambat dibandingkan teknologi lain.
  • Minimnya pola integrasi dalam hilirisasi dan inkubasi produk di sektor industri nasional.
  • Kurangnya lembaga sertifikasi produk bidang radiografi digital di Indonesia.

Untuk mengatasi tantangan ini, Batan terus berupaya meningkatkan inovasi dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Ke depan, diharapkan Indonesia dapat lebih mandiri dalam pengembangan dan penerapan teknologi UTM berbasis nuklir, yang tidak hanya mendukung industri dalam negeri tetapi juga memperkuat daya saing bangsa di tingkat global.

 

unimma

Leave a Reply

  • https://ssg.streamingmurah.com:8048
  • Copyright ©2025 by PT. Radio Unimma. All Rights Reserved
  • http://45.64.97.82:8048
  • Copyright ©2025 by unimmafm. All Rights Reserved
  • http://45.64.97.82:8048/stream
  • Copyright ©2025 by unimmafm All Rights Reserved