Di tengah hiruk-pikuk acara olahraga bertaraf internasional, Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, salah satu stand UMKM yang menarik perhatian pengunjung bukanlah sekadar kios penjual makanan ringan biasa. Di antara puluhan stan yang tersebar di kompleks Candi Borobudur, sebuah nama yang semakin mencuri perhatian adalah Gethuk Mbok’e, sebuah penganan khas yang dipadukan dengan inovasi modern, memadukan rasa manis dan gurih yang membangkitkan kenangan akan kuliner tradisional. Gethuk, jajanan khas Magelang yang terbuat dari singkong, kini hadir dalam bentuk yang lebih modern dan siap memanjakan lidah para pengunjung.
Bagi masyarakat Magelang, gethuk adalah makanan yang sangat akrab. Tidak hanya sebagai jajanan tradisional, gethuk juga menjadi bagian dari budaya kuliner yang mewarnai berbagai acara, mulai dari pengajian, rapat, hingga perayaan. Namun, kehadiran Gethuk Mbok’e dalam ajang bergengsi seperti Borobudur Marathon membawa serta kisah inspiratif tentang perjuangan seorang ibu, Farida Sumaya, yang berhasil mengubah keterbatasan menjadi peluang besar melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dirintisnya bersama keluarga.
Latar Belakang Gethuk Mbok’e
Gethuk Mbok’e dimulai dengan cerita yang cukup sederhana namun penuh ketekunan. Pada tahun 2021, di tengah pandemi yang menyebabkan banyak sektor usaha terpuruk, Farida dan keluarganya memulai usaha gethuk ini. Saat itu, anak perempuannya, Silvia Yanida, yang tidak dapat melanjutkan usaha sosis bakar akibat pembatasan sosial, meminta kepada Farida untuk membuatkan gethuk. Permintaan sederhana ini ternyata menjadi awal dari perjalanan panjang yang membawa mereka ke dunia UMKM yang lebih luas.
Dengan modal awal yang hanya Rp 100.000, Farida memulai usahanya dengan membeli singkong dan kelapa. Keberhasilan pertama datang saat sepupunya mencoba getuk hasil buatan Farida dan memuji rasanya. Hal ini memberikan keyakinan bahwa usaha ini bisa berkembang. “Saya merasa puas melihat usaha ini tumbuh, meski awalnya hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” ujar Farida mengenang langkah pertamanya.
Usaha mereka yang awalnya hanya berfokus pada penjualan gethuk tradisional mulai berkembang pesat seiring berjalannya waktu. Mereka mulai menerima pesanan untuk berbagai acara dan semakin dikenal di sekitar Magelang. Bahkan, distribusinya menjangkau kota-kota lain seperti Yogyakarta, yang semakin memperkuat posisi Gethuk Mbok’e di pasar kuliner lokal.
Proses Produksi Gethuk Mbok’e yang Berkualitas
Salah satu aspek yang membuat Gethuk Mbok’e berbeda dari gethuk pada umumnya adalah kualitas bahan baku yang digunakan dan metode produksi yang teliti. Farida memilih untuk hanya menggunakan singkong lokal yang didapat dari petani di sekitar Magelang. Singkong pilihan ini memiliki tekstur yang kenyal dan cita rasa alami yang khas, menjadikannya bahan utama yang sempurna untuk pembuatan gethuk.
Proses pembuatan Gethuk Mbok’e juga terbilang cukup sederhana namun memerlukan ketelatenan. Singkong yang sudah dikupas direbus hingga empuk, kemudian dihancurkan dan dicampur dengan kelapa parut yang gurih. Gethuk yang dihasilkan kemudian dibentuk dalam berbagai bentuk, termasuk bentuk bunga yang unik. Salah satu karakteristik yang paling mencolok dari Gethuk Mbok’e adalah tekstur getuknya yang lembut dan kenyal, berpadu dengan rasa manis yang pas dan gurih dari kelapa parut.
Setelah mendapatkan hasil yang optimal, Farida dan keluarganya kemudian mulai mendistribusikan gethuk ke kios-kios sekitar rumah mereka di Dusun Bletukan, Desa Kalinegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Dalam sehari, mereka mampu mengolah hingga 1 kuintal singkong yang menghasilkan sekitar 1.200 getuk. Gethuk ini dijual dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp 1.500 per buah, menjadikannya pilihan camilan yang ekonomis dan lezat untuk segala usia.
Gethuk Mbok’e: Dari Usaha Keluarga Menjadi Salah Satu UMKM Terbaik di Borobudur Marathon 2024
Gethuk Mbok’e tidak hanya menjadi makanan ringan favorit warga Magelang, tetapi juga telah melampaui batasan lokal untuk menjadi bagian dari ajang bergengsi seperti Bank Jateng Borobudur Marathon 2024. Program Bank Jateng Pawone yang diadakan dalam rangkaian acara Borobudur Marathon memberikan pelatihan dan pendampingan kepada UMKM untuk mengembangkan usaha mereka ke tingkat yang lebih tinggi.
Farida Sumaya adalah salah satu dari sekitar 20 UMKM yang terpilih untuk mengikuti program ini. Menurut Farida, meskipun ini adalah kali pertama ia mengikuti acara sebesar Borobudur Marathon, ia merasa sangat senang dan bangga bisa bergabung dalam komunitas UMKM yang berkembang. “Saya merasa senang bisa masuk keluarga besar Pawone, ini kesempatan besar untuk belajar dan mengembangkan usaha saya,” katanya dengan penuh antusias.
Partisipasi Gethuk Mbok’e dalam ajang ini menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga berkembang dengan memanfaatkan peluang yang ada. Dengan pelatihan yang didapatkan dari para chef profesional dan pendampingan dalam mengelola usaha, Farida merasa lebih siap untuk membawa Gethuk Mbok’e ke pasar yang lebih luas.
Dampak Program UMKM Pawone bagi Gethuk Mbok’e
Program UMKM Pawone yang diadakan oleh Bank Jateng di Borobudur Marathon 2024 memberi peluang yang sangat berharga bagi Gethuk Mbok’e untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi mereka. Tidak hanya itu, mereka juga mendapat kesempatan untuk memperkenalkan produk mereka kepada audiens yang lebih luas, termasuk para peserta dan pengunjung Borobudur Marathon, yang datang dari berbagai kota dan bahkan negara. Hal ini membuka pintu bagi mereka untuk lebih dikenal di luar wilayah Magelang.
Pelatihan yang diberikan melalui program Pawone tidak hanya sebatas aspek kuliner, tetapi juga meliputi pengelolaan bisnis, pemasaran, dan bagaimana menjaga konsistensi kualitas produk. Bagi Farida dan keluarga, ini adalah kesempatan untuk terus belajar dan mengembangkan usaha yang mereka geluti.
Keberhasilan Gethuk Mbok’e: Dari Usaha Kecil ke UMKM yang Berkembang
Keberhasilan Gethuk Mbok’e tidak terlepas dari perjuangan keras Farida dan keluarganya yang tidak pernah menyerah meskipun dihadapkan pada tantangan besar. Dari awal yang sederhana, di mana mereka hanya mengandalkan modal kecil, usaha ini kini telah berkembang pesat, menghasilkan ribuan penganan setiap hari dan menjangkau berbagai kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Tidak hanya itu, Gethuk Mbok’e juga berhasil mempertahankan cita rasa tradisional yang menjadi ciri khasnya, dengan tetap menggunakan bahan-bahan alami dan tanpa pengawet atau pemanis buatan. Hal ini tentu menjadi nilai tambah bagi konsumen yang semakin peduli terhadap kesehatan dan kualitas makanan yang mereka konsumsi.
Melalui upaya yang tekun dan dukungan dari program seperti Pawone, Gethuk Mbok’e membuktikan bahwa kuliner tradisional bisa beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan esensi yang membuatnya begitu istimewa.
Gethuk Mbok’e sebagai Model UMKM yang Sukses
Gethuk Mbok’e adalah contoh nyata bahwa usaha kuliner tradisional, meskipun dimulai dengan modal kecil dan keterbatasan, bisa berkembang menjadi bisnis yang sukses dengan kerja keras, kreativitas, dan pemanfaatan peluang yang ada. Partisipasinya dalam Bank Jateng Pawone dan ajang Borobudur Marathon 2024 membuka peluang bagi Gethuk Mbok’e untuk lebih dikenal dan diapresiasi oleh masyarakat luas. Keberhasilan Farida dan keluarganya menjadi inspirasi bagi banyak pelaku UMKM lainnya untuk terus berinovasi, bertahan, dan berkembang di tengah tantangan yang ada.
Dengan semakin berkembangnya usaha ini, diharapkan Gethuk Mbok’e bisa menjadi model sukses bagi banyak UMKM lainnya yang berusaha mengangkat kuliner tradisional Indonesia ke pasar yang lebih luas, sambil tetap mempertahankan kualitas dan cita rasa yang autentik.
