Dunia manga shonen modern sering kali mengambil inspirasi dari cerita rakyat kuno untuk menciptakan narasi baru yang segar, namun sedikit yang berhasil melakukannya dengan keberanian seperti Tougen Anki. Manga ini mengambil legenda Momotaro yang sangat terkenal di Jepang—cerita tentang seorang anak lelaki yang lahir dari persik dan membasmi monster Oni—dan memutarbalikkan perspektifnya secara drastis. Dalam dunia Tougen Anki, Momotaro bukanlah pahlawan tanpa pamrih yang kita kenal, melainkan sebuah organisasi militeristik yang kejam, sementara para Oni, yang selama ini dianggap monster, adalah korban persekusi yang mencoba bertahan hidup di dunia modern yang membenci mereka.
Cerita ini berpusat pada Shiki Ichinose, seorang remaja pemberontak dan sulit diatur yang baru saja dikeluarkan dari sekolah. Shiki hidup dalam ketidaktahuan akan asal-usulnya yang sebenarnya, sampai suatu hari rumahnya diserang oleh agen dari faksi Momotaro yang ingin melenyapkannya. Dalam momen keputusasaan tersebut, Shiki mengetahui kebenaran yang mengejutkan: dia bukan manusia biasa, melainkan keturunan langsung dari darah Oni. Penemuan ini mengubah seluruh hidupnya dalam sekejap, membawanya ke dalam sebuah perang kuno yang telah berlangsung selama berabad-abad di balik bayang-bayang masyarakat modern yang damai.
Salah satu aspek yang paling menarik dari Tougen Anki adalah bagaimana Yura Urushibara membangun sistem kekuatan yang berbasis pada darah. Berbeda dengan seri lain yang mungkin menggunakan energi spiritual atau sihir, kekuatan para Oni dalam seri ini sangat bergantung pada manipulasi darah mereka sendiri. Shiki, misalnya, memiliki kemampuan untuk memadatkan darahnya menjadi senjata yang mematikan. Namun, kekuatan ini datang dengan risiko besar; penggunaan darah yang berlebihan dapat menyebabkan kematian atau kehilangan kemanusiaan. Hal ini menciptakan dinamika pertempuran yang intens, di mana setiap serangan adalah pertaruhan nyawa yang nyata, memberikan bobot yang berat pada setiap keputusan strategis yang diambil oleh para karakter.
Namun, kekuatan sejati dari narasi ini terletak pada eksplorasi tema diskriminasi dan identitas. Faksi Momotaro digambarkan sebagai institusi yang sangat terorganisir, didukung oleh pemerintah, dan memiliki propaganda kuat yang mencuci otak masyarakat untuk percaya bahwa Oni adalah entitas jahat yang harus dimusnahkan. Di sisi lain, para Oni dipaksa untuk hidup dalam persembunyian, membentuk akademi rahasia seperti Akademi Rakshasa untuk melatih generasi muda mereka agar bisa mempertahankan diri. Shiki harus berjuang bukan hanya melawan musuh di luar, tetapi juga melawan stigma yang melekat pada darahnya sendiri, mempertanyakan apakah jati dirinya ditentukan oleh garis keturunannya atau oleh pilihan-pilihan yang dia buat dalam hidup.
Karakter-karakter pendukung di sekitar Shiki juga memberikan lapisan emosional yang kuat bagi cerita ini. Melalui interaksinya dengan rekan-rekan sesama Oni di akademi, kita melihat berbagai perspektif tentang trauma dan harapan. Ada karakter yang membenci manusia karena pengalaman pahit mereka, namun ada juga yang tetap berusaha mencari jalan untuk perdamaian. Dinamika persahabatan yang tumbuh di tengah tekanan konstan akan serangan Momotaro memberikan nuansa kemanusiaan yang hangat di tengah aksi yang brutal dan berdarah-darah. Urushibara sangat piawai dalam menunjukkan bahwa pahlawan dan penjahat sering kali hanyalah masalah perspektif dan posisi di mana seseorang berdiri.
Gaya visual Tougen Anki juga patut mendapatkan sorotan khusus. Desain karakternya sangat modern dengan sentuhan gaya jalanan (streetwear) yang keren, yang memberikan kontras menarik dengan elemen tradisional Jepang seperti topeng Oni dan pedang katana. Garis gambar yang tajam dan penggunaan kontras hitam-putih yang berani sangat efektif dalam menggambarkan adegan aksi yang cepat dan kinetik. Ekspresi wajah karakter saat mengalami kemarahan atau kesedihan digambarkan dengan sangat mendalam, membuat pembaca bisa merasakan intensitas emosi yang meluap dari halaman-halaman manga tersebut.
Seiring berjalannya plot, Tougen Anki mulai mengungkap konspirasi yang lebih dalam yang melibatkan kedua belah pihak. Penonton diajak untuk melihat bahwa perang ini bukan sekadar tentang dendam lama, melainkan tentang perebutan kekuasaan dan cara mengendalikan masa depan manusia. Shiki, sebagai protagonis, perlahan tumbuh dari seorang pemuda egois menjadi pemimpin yang mulai memahami beban tanggung jawab. Perjalanannya adalah sebuah kisah klasik tentang pendewasaan diri (coming-of-age) yang dibalut dalam aksi supernatural yang sangat mendebarkan.
Secara keseluruhan, Tougen Anki adalah sebuah dekonstruksi yang brilian atas mitologi tradisional. Ia mengajarkan kita untuk tidak menelan bulat-bulat narasi yang diberikan oleh pemegang kekuasaan dan untuk selalu mencari kebenaran di balik penampilan luar. Dengan perpaduan antara aksi yang eksplosif, sistem kekuatan yang unik, dan isu-isu sosial yang relevan, seri ini telah mengukuhkan dirinya sebagai salah satu judul yang paling menjanjikan dalam genre aksi modern. Kisah Shiki Ichinose adalah pengingat bahwa meskipun kita mungkin terlahir dengan “darah iblis,” kita tetap memiliki kekuatan untuk menjadi pelindung bagi mereka yang kita cintai dan mengubah takdir yang telah digariskan oleh sejarah.
