Ali & Ratu Ratu Queens adalah sebuah film Indonesia bergenre drama komedi yang dirilis pada tahun 2021 dan disutradarai oleh Lucky Kuswandi, dengan skenario yang ditulis oleh Gina S. Noer dan Muhammad Zaidy. Film ini hadir sebagai salah satu karya perfilman Indonesia yang mengeksplorasi tema kekeluargaan, pencarian jati diri, realitas diaspora, serta bagaimana cinta dan rumah tidak selalu berada di tempat yang kita duga. Ceritanya dibalut dengan nuansa hangat, lucu, emosional, dan inspiratif, menjadikannya tontonan yang menyentuh hati serta relevan bagi penonton dari berbagai usia. Film ini juga menampilkan latar kota New York, Amerika Serikat, namun bukan sebagai kota glamor penuh kemewahan, melainkan sebagai latar kehidupan nyata para imigran Indonesia yang berusaha membangun kehidupan baru jauh dari kampung halaman.
Cerita bermula dengan sosok Ali, seorang pemuda berusia sekitar akhir remaja yang diperankan oleh Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan, yang hidup di Jakarta bersama ayah dan ibunya sejak kecil. Ibunya, seorang perempuan bernama Mia, pergi merantau ke New York ketika Ali masih berusia lima tahun untuk mengejar impian kariernya sebagai penyanyi. Kepergian Mia membuat rumah tangga mereka retak; ayah Ali kemudian bercerai dan Ali hidup dengan kenangan tentang ibunya yang tiba‑tiba menghilang tanpa jejak yang jelas. Seiring berjalannya waktu, Ali dibesarkan tanpa kehadiran sosok ibu yang seharusnya menjadi bagian penting dalam tumbuh kembangnya, dan ia pun sering bertanya tentang keberadaan serta alasan ibunya meninggalkannya saat itu.
Kehidupan Ali berubah total ketika ayahnya meninggal dunia. Di tengah kesedihan yang mendalam atas kehilangan tersebut, Ali menemukan sejumlah barang milik ibunya yang selama ini tersembunyi, di antaranya adalah tiket perjalanan, surat‑surat, dan cerita tentang New York, sesuatu yang ayahnya sembunyikan selama ini. Ali kemudian mengetahui bahwa ibunya sebenarnya ingin ia dan ayahnya datang bersamanya ke Amerika, namun ayahnya menolak pergi sehingga tiket tersebut tidak pernah digunakan. Informasi ini memicu tekad Ali untuk mencari ibunya di New York, kota yang selama ini hanya ia kenal melalui angan dan cerita. Dengan berbekal keberanian, sedikit harapan, serta keyakinan bahwa pertemuan itu bisa mengubah hidupnya, Ali memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan terbang menuju Queens, sebuah wilayah di New York, untuk mencari wanita yang menjadi ibunya.
Sesampainya di Queens, Ali segera menyadari bahwa pencarian ibunya lebih rumit daripada yang dibayangkannya. Tanpa mengetahui alamat pasti atau keberadaan yang jelas, Ali berkeliling kota sambil bertanya kepada orang‑orang yang mungkin pernah mengenal ibunya. Di tengah kebingungan dan tantangan itu, ia bertemu dengan empat perempuan imigran Indonesia yang ceria, penuh warna, dan memiliki cerita hidup yang unik. Mereka adalah Party, seorang pekerja pembersih yang hangat serta penuh perhatian; Biyah, seorang suporter bola dari Surabaya dengan aksen khas Jawa yang kuat; Ance, seorang single mom dengan kepribadian keras namun lucu; serta Chinta, yang datang ke Amerika demi cinta namun berakhir bekerja sebagai tukang pijat. Keempat perempuan tersebut hidup bersama dalam komunitas imigran yang mereka sebut sebagai Ratu Ratu Queens, sebuah nama yang mencerminkan kebersamaan, kekuatan, serta humor dalam menghadapi kerasnya hidup di negeri orang.
Pertemuan dengan para perempuan ini membuka babak baru dalam perjalanan Ali. Ali yang awalnya datang dengan tujuan tunggal mencari ibunya, mendapatkan pengalaman yang jauh lebih kaya tentang kehidupan, persahabatan, serta arti keluarga yang sesungguhnya. Keempat ratu tersebut bukan hanya membantu Ali secara praktis—membimbingnya di lingkungan baru, memperkenalkannya pada kehidupan sehari‑hari di Queens, bahkan memberi dukungan emosional—tetapi juga menunjukkan bahwa keluarga bukan semata tentang ikatan darah, melainkan tentang penerimaan, kasih sayang, dan komitmen saling peduli di antara manusia. Ali pun mulai memahami bahwa selama ini ia mencari ibunya karena merasa ada yang hilang dalam hidupnya, namun dari keempat wanita itu ia justru menemukan akar baru dari pengertian tentang rumah dan keluarga.
Dalam proses itu, Ali juga bertemu dengan Eva, putri Ance yang tinggal bersama mereka di Queens. Ikatan yang berkembang antara Ali dan Eva menjadi bagian penting lainnya dari cerita; melalui Eva, Ali belajar tentang hubungan, ketulusan, dan apa artinya membuka hati saat berada jauh dari tempat yang familiar. Hubungan mereka, yang berkembang dari persahabatan menjadi perasaan yang lebih dalam, ditampilkan dengan cara yang manis dan natural tanpa memaksakan unsur romansa yang berlebihan. Interaksi Ali dengan Eva juga memperluas pandangan Ali tentang kehidupan di kota besar, tentang bagaimana cinta dan dukungan bisa muncul dari hubungan yang tidak terduga, dan bagaimana keberanian untuk terhubung dengan orang lain adalah bagian penting dari tumbuh dewasa.
Sementara itu, pencarian Ali terhadap ibunya terus berlanjut. Upayanya membawa Ali bertemu kembali dengan Mia yang kini telah beralih hidup, membentuk keluarga baru, dan memiliki kehidupan yang berbeda. Ali menghadapi kenyataan pahit bahwa ibunya tidak hanya hidup terpisah selama bertahun‑tahun tetapi juga telah melanjutkan hidup seperti orang dewasa pada umumnya. Dalam dialog emosional yang terjadi antara Ali dan Mia, tersingkap bahwa keputusan Mia untuk pergi bukan semata atas kehendaknya sendiri, melainkan bagian dari perjuangan hidup serta pembentukan identitasnya sendiri sebagai individu. Ketika Ali mengetahui bahwa ibunya merasa bersalah namun juga berjuang untuk kehidupan barunya, ia dihadapkan pada dilema batin yang tidak mudah: antara keinginan untuk terhubung kembali dan kenyataan bahwa cinta ibu tidak selalu hadir dalam bentuk yang sempurna.
Dinamika ini membawa Ali mengalami pembelajaran emosional yang signifikan. Ali memahami bahwa kadang‑kadang orang yang kita cintai memiliki keterbatasan dalam cara mereka mencintai kembali, dan bahwa keikhlasan bukan berarti melupakan, tetapi menerima realitas tanpa kehilangan rasa hormat. Hal ini tercermin saat Mia, dalam keadaan emosional yang berat, menawarkan bantuan finansial bagi Ali—sebuah tindakan yang seharusnya menjadi dukungan tetapi di mata Ali sempat terasa seperti penolakan akar emosionalnya. Konflik batin ini merupakan salah satu inti emosional dari film, karena menunjukkan bagaimana cinta tidak selalu mudah dipahami dalam istilah hitam dan putih, tetapi sering kali dalam abu‑abu nuansa yang kompleks.
Sementara itu, keempat perempuan imigran yang menjadi teman Ali menunjukkan sisi kehidupannya sendiri yang penuh tantangan, konflik, dan ketahanan hidup. Mereka adalah simbol dari banyak migran Indonesia yang hidup jauh dari tanah air demi mencari peluang atau mengejar mimpi, sekaligus berjuang menghadapi realitas yang tidak mudah di negeri asing. Keunikan masing‑masing karakter—Party yang pemberani namun peduli, Biyah yang penuh semangat dan humor khas, Ance yang tegas namun lembut secara tersirat di balik kerasnya sikapnya, dan Chinta yang membawa kisah cinta serta rasa kecewa—memberi warna kuat pada narasi film ini. Lewat mereka, Ali dan penonton belajar bahwa keluarga baru bisa terbentuk dari keberagaman kehidupan, pengalaman yang berbeda, sehingga makna keluarga tidak lagi hanya tentang darah, tetapi tentang hubungan yang dipilih, yang dipupuk, dan yang diterima dengan tulus.
Salah satu pesan kuat yang dihadirkan film ini adalah bahwa arti rumah bukan selalu berada di satu tempat fisik atau ikatan darah yang sama, tetapi bisa ditemukan dalam hubungan dengan orang‑orang yang memberikan penerimaan, dukungan, dan rasa kebersamaan yang sejati. Ali, yang awalnya merasa kehilangan milik keluarga inti, menemukan bahwa cinta dapat hadir dalam bentuk yang luas dan tidak selalu terduga. Kekeluargaan yang dibangun bersama empat ratu Queens serta Eva mengajari Ali serta penonton bahwa dalam hidup, seseorang dapat menemukan keluarga baru yang dapat menggantikan atau melengkapi apa yang hilang, tanpa mengurangi rasa cinta atau hormat terhadap keluarga asli.
Secara visual dan naratif, film ini juga memadukan cerita kehidupan sehari‑hari dengan suasana New York sebagai latar yang terasa berbeda dari gambaran khas kota besar dalam film pada umumnya. Ali & Ratu Ratu Queens menunjukkan sisi kota yang relatif lebih sederhana, dengan latar pinggiran kota dan kehidupan para imigran, serta rutinitas yang mencerminkan kehidupan kelas menengah ke bawah yang tidak selalu mudah tetapi penuh semangat. Visualisasi kehidupan itu memperkaya konteks cerita dan memberi kedalaman pada pengalaman para tokohnya, sehingga penonton merasa dekat dengan realitas yang ditampilkan, dan bukan sekadar panorama turis dari kota megah.
Lebih jauh, film ini juga menjadi refleksi tentang keberanian untuk mengambil langkah luar biasa demi mengejar jawaban atas sesuatu yang tidak pernah kita miliki secara utuh. Ali berani meninggalkan zona nyaman, berani menghadapi kenyataan yang pahit, dan berani membuka hatinya kepada orang‑orang baru meskipun di awal pencariannya ia hanya ingin menyatukan kembali hubungan dengan ibunya. Perjalanan ini memberinya pengalaman hidup yang membuatnya memahami bahwa makna hidup terkadang tidak ditemukan dalam jawaban yang kita harapkan, tetapi dalam proses pencarian itu sendiri.
Ali & Ratu Ratu Queens bukan hanya sebuah film tentang pencarian pribadi seorang pemuda, tetapi juga tentang kekayaan pengalaman yang ditemukan dalam hubungan antarmanusia, tentang bagaimana keluarga bisa hadir dalam banyak wajah dan bentuk. Film ini mengajak penonton untuk mempertanyakan kembali apa arti keluarga, rumah, cinta, dan penerimaan dalam konteks yang lebih luas. Ia menyampaikan pesan bahwa cinta sejati tidak selalu datang dari hubungan darah, tetapi dari hubungan yang dipilih dan dipupuk dengan kesetiaan, keikhlasan, serta kebersamaan dalam suka dan duka.
Secara keseluruhan, Ali & Ratu Ratu Queens menyuguhkan sebuah kisah yang hangat, emosional, dan penuh makna, menampilkan perjalanan hidup seorang pemuda yang berani menapaki jejak takdirnya sendiri dan menemukan bahwa arti keluarga dapat ditemukan di mana pun, bahkan di tempat yang tak terduga sekalipun.
