Hubungi Kami

THE FLAME (BARA) : DOKUMENTER PEDULI LINGKUNGAN, MEMORI BUDAYA, DAN API PERLAWANAN DI BORNEO

The Flame (Bara) adalah sebuah film dokumenter rilis tahun 2021 yang memberikan sorotan tajam dan reflektif terhadap persoalan ekologis, identitas budaya, dan perjuangan masyarakat adat di kawasan Kalimantan atau Borneo. Film ini tidak sekadar menjadi sebuah karya sinematik biasa, tetapi merupakan rekaman sejarah hidup dari sebuah komunitas yang mengalami kehancuran lingkungan secara langsung selama puluhan tahun. Di balik judulnya yang metaforis—“Bara”—terdapat api perlawanan dan semangat yang terus menyala terhadap ancaman kerusakan hutan yang tak kunjung padam. Melalui narasi dan visual yang kuat, film ini mengajak penonton untuk melihat bagaimana persoalan ekologis bukan hanya soal alam, tetapi juga berkaitan erat dengan identitas, budaya, dan masa depan suatu bangsa.

Film The Flame (Bara) disutradarai oleh Arfan Sabran, dan menceritakan kisah Iber Djamal, seorang pria lanjut usia dari suku Dayak di Borneo yang telah menyaksikan langsung bagaimana perubahan besar di lanskap alamnya selama lebih dari dua dekade. Iber Djamal bukan sekadar tokoh protagonis dalam dokumenter ini, namun juga merupakan metafora hidup tentang bagaimana perubahan alam mencerminkan perubahan dalam kehidupan sosial dan budaya komunitasnya. Film ini memperlihatkan proses panjang terjadinya bencana ekologis di hutan Borneo, di mana deforestasi, kebakaran, dan eksploitasi sumber daya alam telah menghancurkan habitat yang dahulu kaya akan kekayaan hayati. Perjuangan Iber dan komunitasnya untuk mempertahankan sisa-sisa hutan serta memelihara tradisi budaya mereka menjadi inti naratif film yang menawarkan perspektif autentik dari dalam, berbeda jauh dengan laporan media massa yang sering kali hanya menampilkan angka statistik tanpa menggambarkan wajah manusia di baliknya.

Dalam film ini, aspek lingkungan hidup dibungkus melalui narasi personal dan pengalaman langsung dari mereka yang paling terdampak. Hutan Borneo, yang dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia, menjadi saksi bisu atas kerusakan ekologis yang terjadi akibat aktivitas manusia seperti pembukaan lahan secara besar-besaran untuk perkebunan sawit, penebangan ilegal, serta kebakaran hutan yang berkepanjangan. Kerusakan ini tidak hanya menghancurkan ekosistem alami tetapi juga memecah kehidupan masyarakat adat yang selama berabad-abad bergantung pada hutan sebagai sumber pangan, pengobatan tradisional, dan nilai-nilai spiritual budaya. Film ini secara sensitif menangkap bagaimana kondisi tersebut telah mengubah keseluruhan cara hidup masyarakat Dayak, yang dulunya harmonis dengan alam kini dihadapkan pada ancaman nyata kehilangan tanah leluhur mereka.

Narasi dokumenter The Flame (Bara) tidak hanya berfokus pada gambaran pahitnya kerusakan, tetapi juga menyoroti semangat perlawanan dan daya tahan komunitas lokal. Iber Djamal sebagai tokoh utama merepresentasikan generasi yang menyimpan memori kolektif tentang hutan yang dulu hijau dan subur, penuh dengan fauna yang kini semakin langka. Dalam berbagai adegan, penonton melihat bagaimana ia dan anggota komunitas lainnya berjuang untuk mempertahankan hak atas tanah mereka—melakukan dialog, konsolidasi masyarakat, hingga mengadvokasi keberlanjutan lingkungan kepada pihak berwenang dan publik yang lebih luas. Film ini menjadi semacam panggilan moral bagi penonton untuk mempertanyakan kembali hubungan manusia dengan alamnya serta dampak dari pembangunan yang mengejar keuntungan ekonomis tanpa menghormati keseimbangan ekologis.

Secara sinematik, The Flame (Bara) menggunakan pendekatan visual yang kuat dan dokumentatif, yang memberi ruang bagi suara-suara lokal untuk terdengar tanpa harus dibingkai oleh narasi narator yang dominan. Kamera sering kali fokus pada landscape yang luas namun rapuh, menampilkan kesunyian hutan yang redup oleh asap kebakaran dan gambaran sisa-sisa kehidupan yang masih berusaha bertahan. Melalui pendekatan ini, film berhasil menghadirkan pengalaman emosional bagi penonton, memaksa mereka untuk merasakan kehilangan yang dialami komunitas lokal secara personal. Penyusunan adegan yang bersifat observasional ini membuat dokumenter terasa hidup dan menggugah, karena bukan sekadar menyajikan fakta, tetapi juga suasana batin dari komunitas yang hidup di tengah krisis ekologis tersebut.

Selain isu lingkungan, film ini juga merefleksikan dimensi budaya dan identitas masyarakat Dayak yang berada di garis depan perubahan tersebut. Identitas budaya suku Dayak sangat terkait dengan hutan—bukan hanya sebagai sumber kehidupan material, tetapi juga sebagai pusat nilai-nilai spiritual dan simbolisme adat. Kehancuran hutan berarti terancamnya warisan budaya dan spiritual yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, perjuangan masyarakat Dayak bukan semata soal mempertahankan tanah, tetapi juga mempertahankan bagian fundamental dari identitas mereka. Dokumenter ini dengan bijak menangkap momen-momen di mana ritual adat dan kehidupan spiritual masyarakat terus dijaga meskipun lingkungan hidup mereka semakin rapuh.

Film ini juga telah mendapatkan pengakuan dan nominasi di festival film internasional, yang menandai pentingnya pesan yang dibawanya di panggung global. Di antaranya, The Flame (Bara) dinominasikan dalam ajang DMZ International Documentary Film Festival 2021 untuk Asian Perspective Award, serta mendapatkan nominasi Piala Citra untuk Best Documentary Feature pada Festival Film Indonesia. Nominasi-nominasi ini menunjukkan bahwa film ini tidak hanya dianggap relevan secara lokal, tetapi juga memiliki resonansi yang kuat di mata komunitas film internasional dan kritikus dokumenter.

Dampak dari dokumenter seperti The Flame (Bara) tidak hanya terbatas pada apresiasi artistik atau pengakuan festival, tetapi juga pada kesadaran publik yang lebih luas tentang isu lingkungan hidup yang kian mendesak. Film-film dokumenter dengan isu ekologis seperti ini berperan sangat penting dalam menginformasikan khalayak global tentang realitas yang sering kali tersembunyi di balik laporan media arus utama. Dengan menghadirkan cerita yang sangat manusiawi dan naratif yang kuat, dokumenter ini mengajak penonton untuk berpikir kritis tentang konsekuensi dari pembangunan yang tidak berkelanjutan, serta pentingnya pelestarian lingkungan demi generasi masa depan.

Lebih jauh lagi, The Flame (Bara) mengingatkan kita bahwa perubahan iklim dan kerusakan ekologis adalah isu global, tetapi dampaknya dirasakan secara sangat lokal. Apa yang terjadi di hutan Borneo adalah bagian dari pola yang lebih besar yang juga terjadi di berbagai belahan dunia lain—di mana masyarakat adat dan komunitas lokal menjadi yang paling rentan terhadap perubahan lingkungan yang drastis. Dokumenter seperti ini menjadi alat penting untuk melintasi batas geografis, memberi suara kepada mereka yang sering tak terdengar, dan memicu diskusi serta aksi sosial yang lebih luas di tingkat global.

Secara keseluruhan, The Flame (Bara) bukan sekadar dokumenter ekologis, tetapi juga sebuah karya yang memadukan elemen sejarah, budaya, moral, dan aktivisme. Melalui kisah pribadi Iber Djamal dan perjuangan komunitas Dayak, film ini memotret dampak perubahan ekologis secara mendalam, sekaligus menegaskan kembali hubungan fundamental antara manusia, alam, dan identitas budaya. Dokumenter ini memberikan perspektif yang mendalam tentang pentingnya pelestarian lingkungan dan menghargai hak-hak komunitas adat sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya menciptakan masa depan yang berkelanjutan bagi semua.

unimma

Leave a Reply

  • https://ssg.streamingmurah.com:8048
  • Copyright ©2025 by PT. Radio Unimma. All Rights Reserved
  • http://45.64.97.82:8048
  • Copyright ©2025 by unimmafm. All Rights Reserved
  • http://45.64.97.82:8048/stream
  • Copyright ©2025 by unimmafm All Rights Reserved