Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini adalah sebuah film drama keluarga Indonesia yang dirilis pada 2 Januari 2020, disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko dan diproduksi oleh Visinema Pictures, salah satu rumah produksi paling berpengaruh di perfilman tanah air. Film ini diadaptasi dari sebuah novel best seller berjudul sama karya Marchella FP, yang sejak awal telah menarik perhatian banyak pembaca karena gaya penulisan emosionalnya yang kuat — menyingkap relasi, trauma, dan dinamika keluarga melalui lensa kehidupan sehari-hari. Adaptasi film ini kemudian berhasil membawa puluhan juta penonton ke bioskop, menjadi salah satu film Indonesia terlaris pada tahun perilisannya, serta mendapat sambutan hangat dari kritikus dan penonton karena keberhasilannya memadukan narasi personal yang intim dengan tema universal tentang hubungan keluarga, patah hati, dan harapan.
Cerita Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini berpusat pada kehidupan tiga bersaudara — Angkasa (diperankan oleh Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara Aisha), dan Awan (Rachel Amanda) — yang tumbuh dalam keluarga yang secara luar tampak harmonis dan penuh kasih sayang. Namun di balik wajah bahagia itu tersimpan sejumlah dinamika batin yang tak kasat mata, termasuk tekanan, harapan, penyesalan, dan rasa takut yang dalam terhadap masa depan. Cerita dimulai ketika Awan, si bungsu, mengalami kegagalan besar dalam hidupnya dan bertemu dengan Kale (Ardhito Pramono), seorang pemuda yang eksentrik dan berbeda dunia, yang kemudian memengaruhi cara pandangnya terhadap hidup dan cinta. Pertemuan dengan Kale menjadi katalis penting dalam perjalanan emosional Awan, karena membuatnya mulai mempertanyakan kembali apa arti kehidupan, keluarga, serta hubungan antar manusia.
Film ini memiliki cara bercerita yang unik karena tidak hanya fokus pada satu karakter atau satu peristiwa besar semata, melainkan menyoroti kekuatan hubungan interpersonal dalam keluarga — terutama antara tiga bersaudara dan orang tua mereka — serta bagaimana konflik internal dapat memengaruhi hubungan tersebut. Konflik kecil domestik seperti rasa bersalah, ketidakpastian terhadap masa depan, harapan orang tua, dan tekanan sosial ditampilkan dengan cara yang sangat manusiawi. Misalnya, perbedaan aspirasi antara ketiga saudara menjadi cerminan dari realitas banyak keluarga modern: Angkasa sebagai kakak tertua yang merasa bertanggung jawab, Aurora sebagai anak tengah yang selalu berusaha mencari jati diri, dan Awan sebagai anak bungsu yang mencoba menemukan tempatnya di dunia.
Salah satu kekuatan terbesar film ini terletak pada penggambaran konflik batin yang terasa sangat autentik. Penonton tidak sekadar disuguhkan dialog dramatis atau adegan emosional yang berlebihan, tetapi lebih pada pengalaman batin karakter yang mengalir perlahan namun mengena. Banyak momen di dalam film yang terasa seperti monolog batin — sebuah refleksi diam atau percakapan singkat yang membawa lapisan makna lebih dalam tentang siapa diri kita, ke mana kita akan pergi, dan bagaimana kita menghadapi rasa takut terhadap masa depan. Ini membuat Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini terasa bukan hanya sebagai film fiksi belaka, tetapi seperti cermin kehidupan yang merefleksikan perasaan banyak orang yang pernah merasakan dilema serupa.
Hubungan Awan dengan Kale merupakan salah satu subplot emosional yang menyentuh karena menunjukkan bagaimana cinta dapat menjadi medium penyembuhan sekaligus sumber kebingungan. Kale bukan hanya sosok romantis bagi Awan, tetapi juga representasi dari pertumbuhan pribadi: bagaimana seseorang yang mengalami keterpurukan dapat perlahan membuka diri terhadap kemungkinan baru, menerima kerentanan, serta belajar bahwa hubungan antar manusia bisa menjadi bagian dari proses pemulihan diri sendiri. Namun film ini tidak idealistis secara berlebihan; ia memperlihatkan bahwa hubungan semacam itu juga penuh komplikasi, kecemburuan, ketidakpastian, dan pertanyaan tentang apakah cinta sejati memang cukup untuk menyembuhkan luka batin terdalam.
Selain itu, dinamika dalam keluarga menjadi fokus sentral lain dari film ini. Orang tua dan anak-anak mereka masing-masing membawa beban harapan, rasa bersalah yang belum terselesaikan, serta kecemasan terhadap masa depan yang tak pasti. Ketika konflik kecil sehari-hari seperti perbedaan pandangan tentang pekerjaan, cinta, dan kehidupan mulai muncul, karakter-karakter ini menunjukkan bagaimana cara mereka berbicara satu sama lain, atau bahkan ketika mereka tidak berbicara sama sekali, mencerminkan kondisi emosional yang rumit dan penuh prasangka batin yang tak terucap. Ini menjadi kekuatan film yang membuat banyak penonton merasa sangat terhubung secara emosional, bahkan memicu refleksi pribadi setelah menonton.
Visual film ini menonjolkan gaya sinematografi yang tenang dan atmosfir kota yang realistis, mengambil lokasi di rumah keluarga, taman, rumah makan, dan ruang kampus sebagai latar kehidupan sehari-hari. Gaya visual ini membantu menciptakan suasana yang terasa slice of life — yaitu potongan kisah yang terasa dekat dengan realitas penonton, seolah dialog dan adegan itu benar-benar bisa terjadi di kehidupan kita masing-masing. Pilihan musik soundtrack juga menjadi bagian yang memperkuat emosi film, dengan lagu-lagu yang sering kali mewakili perasaan karakter atau menjadi latar suasana reflektif dalam adegan tertentu.
Dari sisi akting, para pemeran utama dalam Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini menunjukkan performa yang kuat dan meyakinkan. Rachel Amanda sebagai Awan berhasil membawa nuansa ranah emosional yang rapuh namun berani, menunjukkan perjalanan karakter dari ketidakpastian menuju pemahaman diri yang lebih dalam. Sheila Dara Aisha dan Rio Dewanto juga memberikan kedalaman karakter yang kuat — masing-masing dengan cara mereka menghadapi dinamika keluarga yang kompleks. Karakter orang tua, yang diperankan oleh Susan Bachtiar dan Donny Damara, juga memberi lapisan batin yang kaya: cinta, kekhawatiran orang tua, serta rasa bersalah atas keputusan yang mereka buat terhadap masa depan anak-anak mereka.
Film ini tidak sekadar bercerita tentang cinta romantis atau konflik keluarga biasa, tetapi lebih kepada bagaimana setiap individu mengalami fase perubahan batin: dari masa remaja menuju dewasa, dari ketidakpastian menuju kebijaksanaan, dan dari keterbatasan cinta yang membingungkan menuju cinta yang menyembuhkan. Ini adalah narasi yang universal namun tetap sangat personal, karena setiap penonton bisa menemukan fragmen kisah hidupnya sendiri di dalamnya — entah karena pernah mengalami patah hati, konflik keluarga, rasa takut terhadap masa depan, atau saat kita mencoba membuka diri terhadap orang lain.
Film ini juga menyentuh tema penyembuhan luka batin, terutama melalui cara komunikasi antar karakter yang tidak selalu eksplisit, tetapi penuh subteks emosional. Misalnya, ada adegan di mana tokoh berbicara lebih banyak dengan raut wajah atau keheningan daripada dialog eksplisit yang panjang — sebuah teknik sinematik yang memperlihatkan keleluasaan film untuk berbicara lewat ruang kosong, suara langkah, hingga sudut pandang kamera yang intim. Pendekatan semacam ini membuat Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini menjadi pengalaman menonton yang mendalam dan kontemplatif, bukan sekadar hiburan ringan semata.
Seiring berjalannya cerita, penonton dibawa masuk ke dalam pergulatan batin para karakter, hingga pada momen tertentu film ini terasa seperti percakapan batin universal yang mencerminkan rasa manusiawi kita sendiri: ketakutan, kerinduan, rasa bersalah, harapan, serta hasrat untuk tetap bertahan di tengah kekacauan hidup. Perubahan karakter yang terjadi bukanlah transformasi dramatis yang tiba-tiba, tetapi proses refleksi yang realistis dan bertahap — sebuah alegori tentang bagaimana kehidupan terus berjalan meskipun kita penuh keraguan dan trauma.
Secara keseluruhan, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini adalah sebuah film drama keluarga Indonesia yang kaya dengan dimensi emosional dan naratif, menggambarkan hubungan antar manusia dengan cara yang lembut, introspektif, dan penuh makna. Film ini mengajak penonton untuk berhenti sejenak dan merenungkan kisah hidup mereka sendiri — bukan hanya tentang apa yang terjadi hari ini, tetapi bagaimana kita akan bercerita tentang hari-hari itu di masa depan. Dengan karakter yang kuat, akting yang menggugah, dan tema universal penuh makna, film ini menjadi salah satu karya penting perfilman Indonesia yang menyentuh hati banyak generasi penonton.
