NONA adalah sebuah film drama petualangan Indonesia yang dirilis pada 6 November 2020, disutradarai oleh Anggi Frisca dan ditulis oleh Monty Tiwa, serta diproduksi oleh MD Pictures bersama Citra Sinema dan Aksa Bumi Langit. Film ini dikenal karena membawa narasi yang cukup unik di antara film Indonesia kontemporer — ia tidak hanya berkutat pada kisah cinta atau konflik personal biasa, tetapi menyuguhkan sebuah perjalanan emosional yang berkaitan dengan kehilangan, identitas, persahabatan, serta cara menghadapi rasa sakit batin melalui sebuah ekspedisi ke negeri asing.
Film ini berkisah tentang Nona, seorang wanita muda yang diperankan oleh Nadya Arina, yang hidupnya berubah drastis setelah kematian mendadak sahabat dekatnya, Ogy (diperankan oleh Augie Fantinus). Sejak kecil, hubungan Nona dan Ogy sudah sangat erat — bukan hanya sekadar sahabat, tetapi juga dua jiwa yang saling memahami satu sama lain dalam cara yang sering kali melewati batas persahabatan biasa. Ketika Ogy meninggal secara tiba-tiba, Nona mengalami kebingungan batin tingkat tinggi: ia merasa kehilangan arah hidup, mengalami depresi yang mendalam, bahkan sampai memikirkan tindakan bunuh diri. Terpuruk dalam duka dan kebingungan, Nona merasa seolah dirinya telah kehilangan bagian terpenting dari hidupnya.
Namun sebuah kejadian aneh sekaligus menjadi titik balik muncul dalam hidup Nona: dari boneka orangutan pemberian Ogy — hadiah terakhir yang diberikan sahabatnya itu — Nona tiba-tiba mendengar suara Ogy. Suara tersebut membuatnya terkejut sekaligus penasaran, karena sejak kematian Ogy, Nona tidak pernah berharap mendengar apapun yang menghubungkannya lagi dengan sang sahabat. Suara itu seolah menjadi pendorong emosional dan spiritual bahwa Ogy masih “hadir” dalam kehidupan Nona meski secara fisik ia telah pergi. Kejadian tersebut kemudian membuat Nona memutuskan untuk melakukan sesuatu yang radikal: ia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Azerbaijan — sebuah negara di persimpangan antara Asia dan Eropa — demi memenuhi mimpi yang pernah dimiliki Ogy semasa kecil, yaitu melihat tempat di mana Bahtera Nabi Nuh berlabuh setelah banjir besar menurut kisah kuno.
Perjalanan Nona ke Azerbaijan bukanlah sekadar ekspedisi geografis, tetapi juga perjalanan batin yang mendalam. Ia pergi bukan hanya untuk menemukan lokasi yang pernah diceritakan Ogy, tetapi juga untuk menemukan kembali dirinya sendiri. Nona ingin menghadapi ketakutannya, melewati rasa kehilangan yang begitu besar, dan menemukan jati diri yang sempat hilang setelah kepergian sahabatnya. Di lokasi yang asing, dengan bahasa dan budaya yang berbeda, Nona menjalani pengalaman yang jauh dari rencana sederhana yang ia buat. Ia harus menghadapi tantangan fisik seperti keterbatasan bahasa dan finansial, sampai pada kondisi emosional di mana ia harus berbicara dengan dirinya sendiri dan melawan rintangan psikologis yang selama ini ia tahan sendirian.
Narasi film ini kemudian berkembang menjadi kombinasi antar petualangan luar negeri dan eksplorasi psikologis yang sangat intim. Nona bertemu dengan berbagai karakter penduduk lokal yang berbeda latar belakang, berkomunikasi meski terbentur oleh kendala bahasa, dan mengalami momen-momen yang kadang lucu, kadang mengharukan, serta sering kali menyentuh secara emosional. Selama perjalanannya, ia juga dihadapkan pada cerita-cerita pribadi dari orang lain yang membantunya memahami bahwa setiap manusia memiliki luka batin dan cara sendiri dalam menyikapinya — dan bahwa proses penyembuhan sering kali tidak instan tetapi berlapis, kompleks, dan penuh liku.
Secara tematik, Nona bukan hanya tentang pencarian fisik terhadap sebuah lokasi legenda seperti Bahtera Nabi Nuh. Film ini secara kuat mengangkat tema-tema duka, relasi emosional, penyembuhan batin, identitas diri, serta cara seseorang menerima masa lalu untuk melangkah ke depan. Perjalanan Nona menjadi metafora visual tentang bagaimana seseorang yang patah hati dan hancur secara emosional dapat mencari kembali makna kehidupannya dengan cara yang tidak konvensional, tidak praktis, tetapi sangat pribadi. Pemilihan Azerbaijan sebagai setting asing memberi efek visual yang kuat, antara arsitektur yang unik, pemandangan pegunungan yang luas dan bersalju, serta suasana kota yang jauh dari rutinitas rumah tangga tempat Nona biasa hidup. Semua itu memberi gambaran bahwa pendewasaan dan pemulihan sering kali terjadi jauh dari zona nyaman.
Dalam perjalanan, kita menyaksikan Nona menghadapi berbagai situasi yang memaksa dirinya untuk tetap bertahan — dari kehilangan tas dan dompet yang dicuri oleh supir taksi saat ia baru tiba, hingga komunikasi yang sulit dengan warga lokal. Adegan-adegan semacam ini bukan sekadar konflik kecil dalam film; mereka menjadi representasi metaforis dari tantangan terbesar dalam hidup seseorang: kehilangan, kesendirian, ketidakpastian, dan ketidakmampuan berkomunikasi secara sempurna dengan dunia di luar luka batin sendiri. Dalam konteks ini, Nona lebih dari sekadar film petualangan— ia juga menjadi kisah tentang kecerdasan emosional, ketabahan, dan transformasi pribadi.
Aspek hubungan antara Nona dan Ogy juga diperlihatkan dengan sentuhan yang unik. Ogy hadir lebih dari sekadar sebagai sahabat yang telah tiada; ia menjadi simbol kekuatan cinta platonik yang tak padam oleh waktu atau kematian. Kedekatan mereka yang simpatik, bahkan masuk ke wilayah friend zone, menunjukkan dinamika hubungan emosional yang kompleks di mana cinta, harapan, kekecewaan, dan mimpi hidup berbaur tanpa harus menjadi romansa tradisional. Ogy sendiri digambarkan sebagai figur yang idealis, peduli dengan Nona, dan memiliki obsesi pribadi terhadap legenda Bahtera Nuh — sebuah obsesi yang kemudian menjadi benang merah cerita ketika Nona memutuskan mewujudkan mimpi tersebut demi mengenang kehendak sahabatnya.
Film ini juga memberi ruang bagi pemirsa untuk bermeditasi tentang kesehatan mental dan trauma emosional. Depresi yang dialami Nona setelah kehilangan bukan hanya sekadar elemen naratif dramatis; ia juga menjadi salah satu representasi bagaimana kehilangan sahabat dekat dapat menghancurkan keseimbangan psikologis seseorang. Suara yang muncul dari boneka pemberian Ogy menjadi semacam katalis emosional — ia bukan hanya suara fiksional, tetapi fitur simbolis tentang bagaimana kenangan hidup dapat memberi kekuatan, semangat, dan bahkan menuntun seseorang untuk bangkit dari kehampaan. Film ini memberi pengakuan bahwa kerinduan, duka, dan akhirnya penerimaan adalah bagian dari proses manusia yang universal, meski tiap orang akan mengalaminya dengan cara berbeda.
Secara visual dan teknis, Nona memanfaatkan sinematografi yang kuat untuk menggambarkan lanskap asing yang indah sekaligus menyentuh nuansa batin tokoh utamanya. Adegan-adegan di pegunungan salju, kota asing, dan percakapan dengan penduduk lokal memberikan efek imersif yang khas — seolah penonton tidak hanya menonton tetapi turut berjalan bersama Nona. Musik latar dan alur visual yang elegan membantu membentuk suasana batin yang halus, antara perasaan rindu, kehilangan, harapan, dan ketabahan.
Walaupun beberapa kritik mencatat adanya adegan-adegan klise atau logika naratif yang terasa agak “absurd” di beberapa titik, film ini tetap diapresiasi karena keberaniannya mengambil tema besar seperti depresi, perjalanan penyembuhan batin, dan pencarian identitas di lingkungan asing — tema yang jarang dieksplorasi dengan kedalaman emosional oleh banyak film Indonesia kontemporer. ■
Secara keseluruhan, Nona adalah sebuah film Indonesia yang melampaui batas genre petualangan biasa. Ia menyatukan unsur drama emosional, tema universal tentang duka dan pencarian jati diri, serta estetika visual yang kuat menjadi sebuah narasi film yang menyentuh hati. Film ini bukan hanya cocok sebagai tontonan ringan, tetapi juga sebagai pengalaman reflektif yang mengajak penonton memahami bahwa perjalanan terberat dalam hidup sering kali bukan soal mencapai destinasi, tetapi tentang perjalanan batin yang perlu kita jalani sendiri.
