Di antara deretan anime petualangan fantasi modern, hanya sedikit yang mampu memadukan keindahan visual dengan kegelapan tema seintens Made in Abyss. Sekilas, desain karakternya tampak imut dan dunia yang ditampilkan terlihat penuh warna, namun di balik itu tersimpan kisah yang brutal, menyayat, dan sarat makna filosofis. Diadaptasi dari manga karya Akihito Tsukushi dan diproduksi oleh Kinema Citrus, anime ini pertama kali tayang pada 2017 dan segera mencuri perhatian karena keberaniannya menabrak ekspektasi penonton.
Cerita berpusat pada sebuah lubang raksasa misterius yang dikenal sebagai Abyss—jurang tak berdasar yang menjadi sumber berbagai artefak kuno dan makhluk aneh. Kota Orth dibangun di sekelilingnya, dan para penjelajah yang disebut Cave Raider turun ke dalamnya demi menemukan relik berharga. Namun Abyss bukan sekadar lubang biasa; ia memiliki sistem lapisan yang semakin dalam semakin berbahaya, lengkap dengan “Kutukan Abyss”—efek fisik dan psikologis mengerikan yang muncul saat seseorang mencoba naik kembali ke permukaan.
Tokoh utama kita adalah Riko, gadis kecil penuh semangat yang bercita-cita menjadi Cave Raider legendaris seperti ibunya, Lyza the Annihilator. Riko tumbuh di panti asuhan Belchero yang khusus mendidik anak-anak calon penjelajah. Meski tubuhnya kecil dan tampak rapuh, tekadnya besar. Ia terobsesi pada Abyss, bukan hanya karena relik yang bisa ditemukan, tetapi karena keyakinannya bahwa sang ibu masih hidup di dasar jurang terdalam.
Takdir Riko berubah ketika ia menemukan seorang anak laki-laki robot misterius yang kemudian diberi nama Reg. Reg tidak memiliki ingatan tentang asal-usulnya, tetapi jelas bukan manusia biasa. Lengannya dapat memanjang dan menembakkan energi kuat, dan tubuhnya kebal terhadap banyak bahaya. Pertemuan Riko dan Reg menjadi awal perjalanan besar—bukan sekadar ekspedisi ilmiah, melainkan pencarian identitas dan keluarga.
Keputusan Riko untuk turun ke Abyss bersama Reg adalah titik balik cerita. Mereka tahu bahwa semakin dalam melangkah, semakin kecil kemungkinan untuk kembali. Lapisan pertama dan kedua masih bisa diatasi dengan keberanian dan kecerdikan, tetapi lapisan-lapisan berikutnya menghadirkan ancaman biologis, psikologis, dan eksistensial. Setiap turunan bukan hanya perjalanan fisik, melainkan simbol meninggalkan masa kanak-kanak dan memasuki dunia yang lebih kejam.
Salah satu kekuatan terbesar Made in Abyss adalah cara ia menggambarkan konsekuensi secara nyata. Kutukan Abyss bukan sekadar konsep fantasi; ia divisualisasikan secara mengerikan. Pusing, muntah darah, kehilangan indra, bahkan deformasi tubuh menjadi harga yang harus dibayar ketika mencoba naik. Dalam satu adegan yang sulit dilupakan, Riko terluka parah akibat serangan makhluk buas. Proses penyelamatannya digambarkan detail dan menyakitkan, mengingatkan penonton bahwa petualangan bukanlah permainan anak-anak.
Di tengah kegelapan itu, hadir karakter Nanachi—makhluk setengah manusia yang menjadi salah satu figur paling emosional dalam cerita. Nanachi adalah korban eksperimen kejam seorang White Whistle bernama Bondrewd. Melalui kisah latar Nanachi dan sahabatnya Mitty, anime ini memperlihatkan sisi tergelap ambisi manusia terhadap pengetahuan. Bondrewd, dengan senyum tenangnya, menjadi simbol ilmuwan yang rela mengorbankan moral demi eksplorasi.
Hubungan Riko, Reg, dan Nanachi membentuk inti emosional cerita. Mereka saling melengkapi: Riko dengan rasa ingin tahunya yang tak pernah padam, Reg dengan kekuatan sekaligus kebingungan identitasnya, dan Nanachi dengan pengalaman pahit yang membentuk kedewasaannya. Interaksi mereka menghadirkan momen hangat di tengah suasana mencekam. Tawa kecil, makanan sederhana, atau percakapan ringan menjadi pengingat bahwa harapan masih ada bahkan di tempat paling gelap.
Secara visual, Made in Abyss adalah paradoks yang indah. Latar belakangnya dipenuhi lanskap fantastis—hutan bercahaya, lautan awan, flora dan fauna unik yang tampak seperti mimpi. Warna-warna cerah ini kontras dengan kejadian brutal yang terjadi di dalamnya. Kontras tersebut menciptakan efek emosional yang kuat: penonton dibuat terpukau sekaligus tidak nyaman. Dunia Abyss terasa hidup, memikat, tetapi juga tak peduli pada keselamatan manusia.
Musik garapan Kevin Penkin semakin memperkuat atmosfer. Komposisinya memadukan suara etnik, paduan suara misterius, dan melodi melankolis yang membangun rasa takjub sekaligus ketegangan. Setiap lapisan Abyss memiliki nuansa musikal berbeda, seolah-olah jurang itu sendiri bernapas dan berbicara melalui irama.
Tema besar yang diangkat anime ini adalah tentang rasa ingin tahu manusia dan harga yang harus dibayar untuk pengetahuan. Abyss dapat dipandang sebagai metafora ambisi—semakin dalam kita menyelam, semakin besar risiko kehilangan diri sendiri. Riko mewakili semangat eksplorasi yang murni, sementara Bondrewd menunjukkan sisi ekstrem ketika rasa ingin tahu berubah menjadi obsesi tanpa batas moral.
Selain itu, Made in Abyss juga berbicara tentang pertumbuhan dan kehilangan kepolosan. Riko memulai perjalanan sebagai gadis ceria yang memandang dunia dengan optimisme polos. Namun setiap lapisan memaksanya menghadapi realitas pahit: kematian, penderitaan, dan ketidakadilan. Meski demikian, ia tidak kehilangan semangatnya. Justru di situlah letak kekuatan karakternya—ia memilih terus maju meski sadar risiko yang menanti.
Film lanjutannya, Dawn of the Deep Soul, memperdalam konflik dengan Bondrewd dan menampilkan pertarungan emosional sekaligus fisik yang intens. Cerita kemudian berlanjut dalam musim kedua yang membawa penonton ke Golden City of the Scorching Sun, memperluas mitologi Abyss dan mengungkap lebih banyak misteri tentang asal-usul Reg dan rahasia terdalam jurang tersebut.
Tidak semua penonton mampu menerima kegelapan yang ditampilkan anime ini. Adegan-adegannya kadang terlalu grafis dan emosional. Namun justru keberanian inilah yang membuat Made in Abyss berbeda. Ia tidak meromantisasi petualangan, melainkan menunjukkan sisi realistis dari dunia yang tidak ramah. Anak-anak di dalamnya bukan kebal terhadap trauma; mereka merasakan sakit, takut, dan kehilangan.
Pada akhirnya, Made in Abyss adalah kisah tentang melangkah maju tanpa jaminan keselamatan. Ia mempertanyakan: seberapa jauh kita rela pergi demi impian? Apakah pengetahuan selalu sepadan dengan pengorbanan? Dan ketika tidak ada jalan kembali, apakah kita masih berani terus turun?
Riko dan Reg mungkin hanyalah dua anak kecil di dunia yang luas dan berbahaya. Namun keberanian mereka menyelami jurang tanpa dasar menjadi simbol keteguhan hati manusia. Di dalam kegelapan terdalam, mereka tetap mencari cahaya—meski cahaya itu mungkin hanya berupa harapan kecil yang berkedip di antara bayangan.
Made in Abyss bukan sekadar anime petualangan. Ia adalah perjalanan emosional yang menguji batas ketahanan penonton, sekaligus mengajak merenung tentang makna keberanian, cinta, dan pengorbanan. Seperti Abyss itu sendiri, kisah ini memanggil—menggoda untuk diselami, meski kita tahu bahwa semakin dalam kita masuk, semakin sulit untuk kembali tanpa perubahan.
