Death Stranding: Director’s Cut memberi kesempatan bagi para pemain untuk kembali menjelajahi dunia yang diciptakan oleh desainer game terkenal, Hideo Kojima, dalam proyek pertamanya setelah meninggalkan Konami untuk mendirikan Kojima Productions. Dirilis pertama kali pada tahun 2019, game ini menimbulkan reaksi yang sangat beragam. Beberapa orang memuji penciptaan dunia Kojima yang unik dan orisinal, sementara yang lain mengkritik gameplay-nya yang dianggap berlebihan dan kadang disebut dengan sindiran sebagai “simulator berjalan.” Death Stranding: Director’s Cut kemungkinan besar tidak akan mengubah pendapat mereka yang sudah skeptis, karena game ini tidak banyak mengubah mekanika dasar dari Death Stranding yang telah ada. Namun, bagi mereka yang terpesona dengan pemikiran filsafat tentang kematian dan estetika film aksi tahun 80-an, ini bisa menjadi versi terbaik dari game tersebut.
Dunia Death Stranding yang Penuh Filosofi
Bagi mereka yang belum pernah bermain Death Stranding atau tidak terlibat dengan rilis pertama game ini, Death Stranding mengambil latar belakang di dunia pasca-apokaliptik Amerika. Peristiwa Death Stranding terjadi seperti ledakan nuklir, tetapi dampaknya jauh lebih dalam karena mempengaruhi realitas pada tingkat metafisik. Setiap kali seseorang mati, mereka juga menyebabkan fenomena yang disebut “voidout,” yang memunculkan makhluk-makhluk seperti hantu yang disebut BT (Beached Things) dari “Beach” – dunia setelah kematian yang bertabrakan dengan dunia hidup selama peristiwa Death Stranding.
Pemain mengendalikan Sam Porter Bridges, yang diperankan oleh Norman Reedus. Sam adalah seorang porter, salah satu dari sedikit orang yang masih berani keluar dari tempat perlindungannya untuk membawa barang-barang penting, seperti makanan dan obat-obatan, ke masyarakat yang terisolasi. Sam memiliki kondisi yang disebut DOOMS, yang memungkinkannya merasakan kehadiran BT dan juga kemampuan untuk kembali dari Beach setelah mati, yang menjadikannya “repatriate.” Singkatnya, Sam dan para porter adalah para pengantar supernatural (tanpa truk, setidaknya di awal) yang diberi tugas untuk menyambungkan kembali negara yang terpecah, sembari membawa barang-barang penting dan bertahan hidup di dunia yang penuh bahaya.
Gaya Bercerita Kojima yang Khas
Death Stranding sarat dengan konsep-konsep fiksi ilmiah dan filosofi yang padat. Hideo Kojima, seperti biasanya, memadukan elemen-elemen besar tentang kehidupan, kematian, dan konektivitas dalam cerita yang terjalin dengan konspirasi politik, menyerupai apa yang dia lakukan di Metal Gear Solid. Meskipun sebagian besar premisnya terdengar aneh, Kojima memiliki bakat luar biasa dalam menyampaikan ide-ide tersebut dengan sangat serius, sehingga pemain pun harus menerimanya begitu saja. Misalnya, keberadaan MULEs (sekelompok pemulung yang hidup di luar kota dan kecanduan mengantarkan barang) mungkin terdengar konyol pada pandangan pertama. Namun, ketika Anda memahami latar belakang mereka sebagai respons terhadap pekerjaan otomatisasi yang merugikan, ada sesuatu yang menarik dalam metafora tersebut.
Tema besar lainnya dalam Death Stranding adalah konektivitas dalam masyarakat manusia, baik itu koneksi pribadi maupun keterhubungan teknologi. Bridges, perusahaan yang mencoba menyatukan kembali negara melalui jaringan chiral (semacam jaringan 5G dengan kekuatan kematian), memberi Sam perangkat berbentuk dasi yang memungkinkan dia untuk tetap berhubungan dengan mereka dan melacak berbagai informasi. Alat ini seperti smartwatch canggih, tetapi datang dengan segala potensi bahaya, dengan perusahaan Bridges yang terkadang mengakui bahwa mereka memantau percakapan Sam dan melacak keberadaannya. Death Stranding dengan sangat baik menyampaikan ironi ini, terutama ketika Sam pertama kali menerima perangkat tersebut yang meskipun terlihat seperti handcuff (cincin pembatas), diberitahu oleh bos perusahaan bahwa dia tidaklah seorang tahanan. Tentu saja, mereka berjanji.
Mekanika yang Membosankan Tapi Memikat
Bagi mereka yang bisa menikmati gaya bombastis Kojima, dunia Death Stranding bisa menjadi pengalaman yang mengasyikkan. Kombinasi pertanyaan filosofis tentang kehidupan dan kematian, diselingi dengan alur cerita Hollywood tentang nasib Amerika Serikat, membentuk koktail narasi yang sangat khas Kojima. Sayangnya, meskipun cerita dan dunia yang dibangun sangat menarik, permainan itu sendiri terkadang terasa membosankan. Seperti yang disebutkan sebelumnya, perjalanan adalah fokus mekanika utama dalam game ini. Pemain harus mempertimbangkan banyak faktor agar perjalanan Sam berhasil, dari menyeimbangkan muatan yang dibawa di tubuh Sam hingga memastikan dia membawa peralatan yang tepat untuk menyeberangi sungai atau mendaki gunung.
Death Stranding memberi pemain kemudahan dengan menyusun dan mengurutkan muatan Sam secara otomatis untuk kapasitas maksimal. Ada juga petunjuk dalam deskripsi misi tentang alat mana yang harus dibuat, namun tetap saja, Death Stranding lebih cocok untuk pemain yang menyukai simulasi realistis dan perhatian terhadap detail, sementara kurang cocok bagi mereka yang mencari permainan yang lebih mendebarkan dan penuh aksi.
Reputasi “Simulator Berjalan” yang Terbukti
Pemain yang ingin lebih banyak aksi atau tantangan mungkin akan merasa frustrasi. Death Stranding memang sering disebut sebagai “walking simulator,” dan reputasi itu tidak sepenuhnya salah. Game ini terbaik ketika memungkinkan pemain untuk tenggelam dalam dunia liar yang luas, terkadang dengan lagu pop santai dari soundtrack yang diputar seakan acak, menambah suasana meditatif. Dengan menggunakan PlayStation 5, Director’s Cut memberikan detail yang lebih hidup pada dunia dengan implementasi HDR yang memukau. Game ini juga memanfaatkan sepenuhnya kemampuan Tempest Engine PS5, memberikan pengalaman audio yang benar-benar imersif jika dimainkan dengan headset. DualSense memainkan peran besar dalam membuat pengalaman ini lebih nyata, dengan umpan balik haptic yang membuat setiap langkah ceroboh Sam terasa, memberikan rasa ketegangan ketika Sam berusaha menjaga keseimbangan atau merasakan resistansi pada pemicu adaptif saat menggunakan alat-alatnya.
Masalah Gameplay yang Mengganggu
Namun, setiap kali Death Stranding mencoba memberikan tantangan, justru sering mengganggu pengalaman tersebut. Awalnya, interaksi dengan BTs memang terasa menakutkan, dengan semua kemampuan sensorik Director’s Cut yang membuatnya terasa seperti adegan dari film horor. Namun, setelah beberapa waktu, ketika Sam sudah memiliki senjata anti-BT, ketegangan itu hilang. Demikian pula dengan konflik melawan MULEs, yang kadang terlalu menyebalkan sehingga pemain memilih untuk menghindari mereka, meskipun beberapa misi mengharuskan pemain untuk menyusup ke kamp mereka. Sistem penyusupan yang ada terasa dasar dan tidak memadai, dan pemain tidak dapat menggunakan kekuatan mematikan tanpa risiko voidout. Meskipun Director’s Cut memberikan senjata baru, seperti “mazer gun” untuk men-shock MULEs dari jarak jauh, itu pun tidak cukup membuat momen ini terasa memuaskan.
