Di tengah banyaknya cerita tentang samurai dan iblis, Dororo muncul sebagai sebuah mahakarya yang gelap, menggugah pikiran, dan sangat emosional. Diadaptasi dari karya legendaris “Dewa Manga” Osamu Tezuka dan diproduksi ulang dengan gaya yang lebih dewasa oleh Studio MAPPA dan Tezuka Productions , seri ini adalah sebuah fabel tragis tentang harga dari kemakmuran. Ia mengeksplorasi pertanyaan filosofis yang sangat berat: apakah kehidupan satu orang layak dikorbankan demi kesejahteraan ribuan orang lainnya? Melalui perjalanan seorang pemuda yang “kosong”, kita diajak untuk melihat bahwa menjadi manusia sejati bukan hanya tentang memiliki daging dan tulang, tetapi tentang memiliki hati yang mampu merasakan kepedihan.
Narasi dimulai dengan tindakan pengkhianatan paling keji yang bisa dilakukan seorang ayah. Lord Daigo Kagemitsu, seorang penguasa tanah yang haus kekuasaan, membuat perjanjian dengan 12 iblis demi menyelamatkan wilayahnya dari kelaparan dan penyakit. Sebagai imbalannya, para iblis mengambil 48 bagian tubuh putra pertamanya yang baru lahir. Sang bayi terlahir sebagai gumpalan daging tanpa kulit, mata, telinga, maupun anggota gerak—sebuah sisa-sisa kehidupan yang dibuang ke sungai untuk mati.
Namun, bayi ini bertahan hidup. Dengan bantuan seorang tabib yang dihantui masa lalu perang, ia diberikan tubuh prostetik kayu dan baja. Pemuda ini, yang kemudian dikenal sebagai Hyakkimaru, tumbuh menjadi pemburu iblis yang dingin. Setiap kali ia membunuh iblis yang mengambil bagian tubuhnya, ia mendapatkan kembali fungsi tubuhnya secara fisik. Namun, setiap kembalinya indra—seperti rasa sakit saat kulitnya tumbuh atau suara bising yang memekakkan telinga—membawa penderitaan baru yang memaksa Hyakkimara belajar menjadi manusia dari nol di tengah dunia yang kejam.
Dalam perjalanannya, Hyakkimaru bertemu dengan Dororo, seorang anak yatim piatu pencuri yang cerdik dan penuh semangat hidup. Dororo menjadi “suara” dan “mata” bagi Hyakkimaru yang awalnya bisu dan buta. Hubungan mereka adalah inti emosional dari cerita ini; Dororo memberikan kemanusiaan kepada Hyakkimaru, mencegahnya berubah menjadi monster yang sama kejamnya dengan iblis yang ia buru.
Dororo sendiri mewakili ketangguhan rakyat jelata yang terjepit di antara ambisi para penguasa perang. Melalui perspektif anak kecil ini, kita melihat realitas pahit Zaman Sengoku: kemiskinan, kelaparan, dan bagaimana perang mengubah manusia menjadi binatang. Dororo bukan sekadar pendamping; ia adalah pengingat bahwa kebaikan bisa tumbuh bahkan di tanah yang paling tandus sekalipun.
Konflik paling tajam dalam Dororo terjadi ketika Hyakkimaru mulai merebut kembali tubuhnya. Setiap bagian tubuh yang kembali berarti perlindungan iblis atas tanah Daigo memudar. Wilayah yang dulunya subur mulai dilanda bencana kembali. Hal ini menciptakan dilema moral yang luar biasa bagi penonton: apakah Hyakkimaru egois karena menuntut kembali hak lahirnya jika hal itu berarti mengorbankan ribuan nyawa rakyat yang tidak bersalah?
Lord Daigo dan putranya yang lain, Tahomaru, menjadi representasi dari tanggung jawab kekuasaan yang sesat. Mereka melihat Hyakkimaru sebagai ancaman bagi perdamaian, sementara Hyakkimaru melihat mereka sebagai pencuri hidupnya. Pertempuran antara saudara ini bukan sekadar perebutan takhta, melainkan benturan antara kebahagiaan kolektif yang dipaksakan dan hak asasi individu yang tidak bisa diganggu gugat.
Secara keseluruhan, Dororo adalah sebuah karya yang sangat kuat dan menghantui. Dengan animasi yang tajam dan koreografi pertarungan yang brutal namun estetis, seri ini berhasil menyampaikan pesan yang sangat mendalam. Ia mengajarkan kita bahwa memiliki tubuh yang lengkap tidak menjamin kemanusiaan seseorang; Lord Daigo memiliki tubuh yang utuh namun jiwanya telah lama membusuk, sementara Hyakkimaru, meski awalnya hanya terbuat dari kayu dan baja, memiliki keinginan yang tulus untuk merasakan dunia.
Dororo adalah sebuah perjalanan pulang yang menyakitkan. Ia mengingatkan kita bahwa kemanusiaan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan, sering kali melalui darah dan air mata. Ini adalah kisah tentang bagaimana kita memilih untuk berdiri tegak di dunia yang ingin menghancurkan kita, dan tentang bagaimana sebuah genggaman tangan dari seorang teman kecil bisa menjadi lebih berharga daripada seluruh kekuasaan di dunia.
