(876Unimmafm) Magelang-Potensi zakat di Indonesia sangaat besar sehingga lembaga Amil zakat sangat berpeluang untuk mengelola dana tersebut. Salah satu upaya pengelolaannya adalah bersinergi dengan Kementerian Agama dan Kementerian Sosial utk pengentasan kemiskinan di Indonesia.
Dengan kolaborasi tersebut, diharapkan pengelolaan dana zakat lebih terarah dan terintegrasi program-program pemerintah, sehingga bantuan dapat tepat sasaran.Hal tersebut di akui oleh Imam Buchori kabid Penerangan agama islam dan pemberdayaan zakat dan wakaf Kemenag Jawa Tengah sesaat setelah membuka jambore amil ke 9 di Tkl Ecopark Taman kyai langgeng Magelang jum at 18 Oktober 2024.
“Kantor Kementrian Agama Provinsi Jawa Tengah akan mendorong supaya kita berjalan seiring bersama, sehingga program pemerintah berkaitan dengan pengentasan kemiskinan dan mungkin darurat atau bencana juga bisa transaksi dengan baik” Ujar Imam
Memang ada satu saat untuk kita lakukan bersama-sama untuk Jawa Tengah. Kita perlu berkolaborasi bersinergi dengan Dinas Sosial atau badan statistik. Sehingga apa yang kita lakukan itu benar-benar terlihat,”tambahnya
Sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat kurang mampu melalui optimalisasi dana zakat yang lebih efektif dan transparan sejalan dengan tujuan pembangunan nasional.
Dalam acara Jambore ke IX Sejateng tersebut di ikuti sebanyak 80 peserta dari 22 lembaga amil zakat se Jateng zakat se Jawa Tengah.
dengan tema ” Amil Hebat, Indonesia Gemilang di helat oleh Forum Zakat (FOZ) Jawa Tengah.
Ketua Forum Amil Zakat (Foz) Jawa Tengah, Sidiq Ansori mengatakan kegiatan Jambore IX ini rutin dilaksanakan sebagai bentuk silaturahmi dan refresing para amil yang kesehariannya disibukan dengan zakat. “Kegiatan ini diadakan untuk membahas tata kelola dan tantangan-tantangan amil zakat. Selain itu juga membahas kredibilitas lembaga amil zakat,”terangnya.
Meski tidak bisa di pungkiri tantangan lembaga zakat swasta sangat besar dan beragam diakui Sigit Ansori sesaat setelah acara pembukaan jambore.
Menurutnya “Jambore IX ini rutin dilaksanakan sebagai bentuk silaturahmi dan refresing para amil yang kesehariannya disibukan dengan zakat”.
Kegiatan ini diadakan untuk membahas tata kelola dan tantangan-tantangan amil zakat. Selain itu juga membahas kredibilitas lembaga amil zakat,”terangnya.
Untuk menghadapi tantangan di masyarakat, FOZ mendorong amil zakat untuk berinovasi didukung dengan amil zakat didominasi generasi muda. “Kebanyakan amil zakat ini masih muda-muda maka memiliki inovasi cukup bagus,”ujarnya.
Dampak ekonomi nasional deflasi 5 bulan dan dampak regulasi tentang ketentuan penghimpunan zakat dimana pemerintah daerah mulai mengaktifkan lembaga zakat di instansinya. Sehingga perlu di samakan gerakan zakat ini, agar dapat di petakan segmentasi program atau strategi untuk menghimpun potensi zakat yang ada, imbuh Sigit.
Sigit mengakui, bahwa ” potensi zakat masih di dominasi masyarakat perkotaan di usia 30an tahun sampai 50 tahunan, hal tersebut dilatarbelakangi literasi zakat yang di punyai, seperti orang- orang terdidik , pengajian , banyak membaca buku kalau di daerah pemahaman saya bayar zakat ya ke tetangga atau ke saudara, sehingga tidak terdeteksi. ”
” Sedang Pemerintah berharap baik Baznas atau lembaga zakat bisa menyalurkan potensi zakat 327 trilyun itu tercapai dari realisasi 33 trilyun di tahun 2023″ tutup Sigit.
