Dunia Scott Pilgrim bukanlah hal baru bagi para pencinta budaya pop. Berawal dari novel grafis karya Bryan Lee O’Malley, kemudian meledak lewat film kultus arahan Edgar Wright pada tahun 2010, kisah pemuda Toronto yang harus mengalahkan tujuh mantan pacar jahat Ramona Flowers telah menjadi kitab suci bagi generasi indie-rock dan kutu buku. Namun, ketika Netflix mengumumkan serial anime Scott Pilgrim Takes Off pada tahun 2023, banyak yang mengira ini hanyalah adaptasi ulang yang setia.
Mereka salah besar.
Dikerjakan oleh Studio Science SARU—studio di balik keajaiban visual seperti Devilman Crybaby—dan melibatkan kembali seluruh pengisi suara asli dari film live-action-nya, serial ini melakukan sesuatu yang jauh lebih radikal. Ia tidak sekadar menceritakan ulang kisah yang sama; ia membongkar fondasi ceritanya, memberikan perspektif baru, dan bertransformasi menjadi meditasi yang mendalam tentang pertumbuhan diri dan konsekuensi dari masa lalu.
Kejutan terbesar muncul di akhir episode pertama. Tanpa memberikan spoiler terlalu jauh bagi yang belum menonton, serial ini dengan cepat mengalihkan fokus dari Scott Pilgrim ke Ramona Flowers. Jika versi aslinya adalah tentang perjuangan Scott untuk “memenangkan” Ramona, Takes Off adalah tentang perjalanan Ramona untuk berdamai dengan sejarah cintanya sendiri.
Langkah ini adalah sebuah perjudian naratif yang sangat berisiko, namun membuahkan hasil yang luar biasa. Dengan menggeser sudut pandang, penonton diberikan kesempatan untuk mengenal para “Mantan Pacar Jahat” bukan sekadar sebagai bos di akhir level permainan video, melainkan sebagai manusia dengan luka, ambisi, dan kehidupan mereka sendiri. Ini adalah dekonstruksi genre yang sangat cerdas, mengubah kiasan hero’s journey menjadi eksplorasi empati.
Secara visual, Scott Pilgrim Takes Off adalah sebuah pesta pora. Science SARU berhasil menangkap esensi garis gambar Bryan Lee O’Malley yang khas—sederhana namun ekspresif—dan memberikannya energi kinetik yang hanya bisa dicapai melalui animasi. Penggunaan onomatope visual (seperti tulisan “KABOOM!” atau “THWACK!”) tetap dipertahankan, menciptakan jembatan estetika yang sempurna antara panel komik dan layar televisi.
Transisi antar adegannya sangat imajinatif, sering kali bermain dengan aspek rasio atau gaya seni yang berubah sesuai dengan emosi karakter. Adegan aksinya tidak hanya sekadar baku hantam; mereka adalah koreografi yang penuh warna, di mana setiap serangan terasa seperti bagian dari sebuah video game retro yang ditingkatkan ke resolusi 4K.
Musik selalu menjadi jiwa dari Scott Pilgrim. Kali ini, band pop-rock Anamanaguchi—yang juga menggubah musik untuk Scott Pilgrim vs. The World: The Game—kembali untuk mengisi soundtrack-nya. Hasilnya adalah perpaduan harmonis antara energi chiptune yang nostalgia dengan melodi yang modern.
Lagu-lagu baru yang dibawakan oleh Sex Bob-Omb dalam serial ini terasa lebih dewasa namun tetap mempertahankan kekacauan khas band garasi. Musik dalam Takes Off tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi sebagai perangkat narasi yang memperkuat tema tentang ekspresi diri dan bagaimana seni sering kali menjadi satu-satunya cara bagi karakter-karakter ini untuk berkomunikasi secara jujur.
Salah satu kritik terhadap versi asli Scott Pilgrim adalah karakter Scott yang terkadang terasa terlalu narsis dan Ramona yang dianggap sebagai objek keinginan semata (klise Manic Pixie Dream Girl). Serial anime ini menjawab kritik tersebut dengan sangat elegan.
Ramona diberikan agensi penuh atas ceritanya. Kita melihatnya menghadapi rasa bersalah, keraguan, dan keberanian untuk meminta maaf. Di sisi lain, karakter sampingan seperti Knives Chau dan Envy Adams mendapatkan porsi pengembangan karakter yang jauh lebih luas, membuat dunia Toronto di dalam anime ini terasa lebih hidup dan berpenghuni. Ini adalah cerita tentang orang-orang dewasa yang belajar bahwa hidup tidak berhenti setelah “Game Over” atau “Level Clear”.
Scott Pilgrim Takes Off menetapkan standar baru untuk adaptasi media. Ia menunjukkan bahwa sebuah properti intelektual (IP) lama tidak harus selalu diulang-ulang dengan cerita yang sama untuk menarik audiens baru. Dengan berani melakukan subversi terhadap materi sumbernya sendiri, serial ini menghargai kecerdasan penonton lama sambil tetap menyambut penonton baru dengan tangan terbuka.
Keberhasilan kolaborasi lintas negara ini—penulis Kanada, pengisi suara Hollywood, dan studio animasi Jepang—membuktikan bahwa batasan dalam bercerita semakin memudar. Ini adalah bukti bahwa animasi adalah medium yang paling fleksibel untuk mengeksplorasi konsep-konsep abstrak seperti perjalanan waktu, realitas alternatif, dan kompleksitas perasaan manusia.
