Kue putu merupakan salah satu jajanan tradisional yang telah dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia. Kue ini terkenal dengan teksturnya yang lembut, manisnya gula Jawa yang meleleh di dalam, serta aroma khas pandan yang menggoda. Namun, meskipun kue putu umumnya dikenal dalam bentuk yang seragam, ada variasi unik dari Medan yang memiliki perbedaan signifikan dengan versi yang biasa ditemukan di Pulau Jawa.
Artikel ini akan mengulas secara mendalam tentang Putu Bambu Medan, bagaimana cara pembuatannya, serta apa saja perbedaan utama dengan kue putu di Pulau Jawa.
1. Sejarah dan Asal-Usul Kue Putu
Kue putu diyakini berasal dari pengaruh kuliner Tionghoa yang masuk ke Nusantara pada masa lampau. Banyak yang menyebutkan bahwa kue ini memiliki kemiripan dengan kue tradisional Tiongkok yang disebut “Xian Roe Xiao Long,” yaitu sejenis kue kukus yang menggunakan isian manis. Seiring waktu, kue ini diadaptasi oleh masyarakat lokal dengan menggunakan bahan-bahan khas Indonesia, seperti gula Jawa dan kelapa parut.
Di berbagai daerah di Indonesia, kue putu memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Versi yang paling umum adalah kue putu berwarna hijau yang menggunakan daun pandan sebagai pewarna alami. Namun, di Medan, terdapat variasi yang sangat unik yang membedakan Putu Bambu Medan dengan kue putu dari daerah lain.
2. Ciri Khas Putu Bambu Medan
Putu Bambu Medan memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari kue putu yang ada di Pulau Jawa. Beberapa perbedaannya antara lain:
a. Warna yang Murni Putih
Salah satu perbedaan paling mencolok antara Putu Bambu Medan dengan Putu Bambu yang ditemukan di Pulau Jawa adalah warna adonannya. Jika kue putu di Pulau Jawa umumnya berwarna hijau karena menggunakan ekstrak daun pandan, maka Putu Bambu Medan justru berwarna putih bersih.
Menurut Sahat, seorang pedagang Putu Bambu Medan yang telah berjualan selama 13 tahun, warna putih ini merupakan ciri khas yang harus dipertahankan. “Kita murni putih, seperti orang Medan. Kalau ada dibuat warna aneh-aneh misalnya merah, pink, atau apalah itu menyakiti kita orang Medan,” kata Sahat.
b. Aroma Daun Pandan yang Lebih Kuat
Walaupun Putu Bambu Medan tidak menggunakan daun pandan dalam adonannya, aroma daun pandan tetap menjadi bagian penting dalam pembuatannya. Caranya adalah dengan menggunakan uap dari air rebusan daun pandan sebagai media untuk mengukus adonan putu.
Dalam proses ini, daun pandan dimasukkan ke dalam air rebusan dalam panci kukusan. Ketika air mendidih, uap panas yang naik membawa aroma daun pandan yang kuat, sehingga aroma ini akan meresap ke dalam adonan putu tanpa harus mencampurkannya langsung ke dalam bahan kue.
c. Tekstur yang Lebih Lembut dan Tidak Mudah Hancur
Putu Bambu Medan juga memiliki tekstur yang lebih lembut dibandingkan putu pada umumnya. Adonannya tidak terlalu padat sehingga saat digigit terasa lebih halus di mulut. Hal ini disebabkan oleh penggunaan teknik pengukusan yang berbeda serta perbedaan dalam cara mengadoni tepung berasnya.
d. Rasa yang Lebih Gurih dan Manis yang Seimbang
Perbedaan lain yang cukup mencolok adalah dari segi rasa. Jika kue putu biasa cenderung manis karena penggunaan gula merah sebagai isian utama, Putu Bambu Medan memiliki keseimbangan rasa yang lebih pas antara manis dan gurih. Kelapa parut yang digunakan juga lebih banyak sehingga memberikan sensasi yang lebih kaya dan lezat saat dimakan.
3. Proses Pembuatan Putu Bambu Medan
Pembuatan Putu Bambu Medan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kue putu pada umumnya, namun ada beberapa perbedaan dalam teknik dan bahan yang digunakan. Berikut adalah langkah-langkah dalam pembuatan Putu Bambu Medan:
Bahan-bahan:
- Tepung beras
- Air matang
- Gula merah serut
- Kelapa parut
- Daun pandan (untuk aroma, bukan untuk pewarna)
Langkah-langkah Pembuatan:
- Menyiapkan Tepung Beras
- Tepung beras terlebih dahulu diayak agar halus dan tidak menggumpal.
- Setelah itu, tepung beras diberi sedikit air hingga bertekstur seperti pasir basah.
- Menyiapkan Cetakan Bambu
- Cetakan bambu yang sudah dipotong-potong dicuci bersih dan dikeringkan.
- Cetakan ini akan digunakan untuk membentuk adonan putu.
- Mengisi Cetakan dengan Adonan
- Cetakan bambu diisi dengan adonan tepung beras setengah penuh.
- Di bagian tengahnya ditambahkan gula merah serut secukupnya.
- Setelah itu, ditutup lagi dengan adonan tepung hingga cetakan penuh.
- Proses Pengukusan
- Air dalam panci pengukusan direbus bersama dengan beberapa helai daun pandan untuk menghasilkan aroma yang kuat.
- Cetakan bambu yang telah diisi adonan disusun di atas lubang kukusan dan dikukus selama kurang lebih 10-15 menit.
- Penyajian
- Setelah matang, kue putu dikeluarkan dari cetakan dan ditaburi dengan kelapa parut agar semakin nikmat.
4. Perbandingan dengan Putu Bambu Pulau Jawa
Untuk lebih memahami perbedaan antara Putu Bambu Medan dan Putu Bambu Pulau Jawa, berikut adalah tabel perbandingan singkat:
| Aspek | Putu Bambu Medan | Putu Bambu Pulau Jawa |
|---|---|---|
| Warna | Putih alami | Hijau dari daun pandan |
| Aroma | Didapat dari uap daun pandan | Dicampur dalam adonan |
| Tekstur | Lembut dan lebih halus | Lebih padat dan bertekstur |
| Rasa | Manis dan gurih seimbang | Lebih dominan manis |
| Pewarna alami | Tidak menggunakan pewarna | Menggunakan daun pandan |
5. Popularitas Putu Bambu Medan
Putu Bambu Medan mungkin tidak sepopuler Putu Bambu Pulau Jawa, tetapi makanan ini tetap menjadi salah satu camilan favorit masyarakat Sumatra Utara. Beberapa daerah di Medan bahkan memiliki pedagang kaki lima yang khusus menjual Putu Bambu Medan di malam hari, sehingga menjadi jajanan yang pas untuk menemani waktu bersantai.
Seiring dengan berkembangnya tren kuliner tradisional, Putu Bambu Medan juga mulai dikenal di daerah lain di Indonesia. Banyak penjual yang membawa resep khas ini dan menjajakannya di berbagai festival kuliner.
Putu Bambu Medan adalah salah satu variasi unik dari kue putu yang memiliki perbedaan signifikan dengan versi Pulau Jawa. Dari segi warna, aroma, tekstur, hingga rasa, semuanya menunjukkan ciri khas yang unik dan menarik. Dengan teknik pengukusan menggunakan uap daun pandan, Putu Bambu Medan mampu mempertahankan aroma khasnya tanpa perlu mencampurkan daun pandan langsung ke dalam adonan.
Bagi pecinta kuliner tradisional, mencicipi Putu Bambu Medan bisa menjadi pengalaman baru yang menyenangkan.
