Di dunia Onward, keajaiban bukanlah sesuatu yang langka—ia justru terlupakan. Dunia peri, elf, dan makhluk fantasi telah berkembang menjadi kota modern dengan mobil, ponsel, dan rutinitas yang membosankan. Sihir yang dulu menjadi nadi kehidupan kini dianggap tidak praktis, merepotkan, dan tidak relevan. Dalam lanskap inilah Onward memulai kisahnya: sebuah dunia yang kehilangan keajaiban, tanpa benar-benar menyadari apa yang telah hilang.
Namun Onward bukan tentang menghidupkan kembali sihir sebagai kekuatan spektakuler. Film ini menggunakan sihir sebagai metafora—tentang kenangan, hubungan keluarga, dan keberanian untuk menghadapi kehilangan. Di balik petualangan fantasi yang penuh humor, tersembunyi cerita yang sangat manusiawi: tentang dua saudara yang mencoba memahami arti kehadiran seorang ayah, bahkan ketika ia sudah tiada.
Ian Lightfoot adalah remaja pendiam, canggung, dan penuh keraguan. Ia tumbuh tanpa pernah mengenal ayahnya, yang meninggal saat Ian masih bayi. Ketidakhadiran itu membentuk dirinya—meninggalkan lubang yang tidak terlihat, tetapi selalu terasa. Ian tidak tahu bagaimana rasanya dibimbing, disemangati, atau sekadar dipeluk oleh seorang ayah. Ia hanya mengenal sosok itu lewat cerita, rekaman suara, dan bayangan yang dibentuk oleh imajinasinya sendiri.
Berbanding terbalik dengan Ian, Barley—kakaknya—adalah sosok yang keras, berisik, dan terobsesi dengan masa lalu. Barley mencintai dunia lama, dunia sihir dan legenda, seolah di sanalah ia merasa paling hidup. Ia adalah kebalikan Ian dalam hampir segala hal. Namun di balik sikapnya yang tampak sembrono, Barley menyimpan kesedihan yang sama: kehilangan ayah, dan rasa bersalah karena tidak bisa menjadi sosok panutan yang sempurna bagi adiknya.
Ketika keduanya menemukan mantra yang memungkinkan ayah mereka kembali selama satu hari, Onward berubah menjadi perjalanan yang penuh harapan dan kecemasan. Mantra itu gagal—ayah mereka hanya muncul setengah badan. Kegagalan ini terasa simbolis. Tidak semua keinginan bisa terpenuhi dengan sempurna. Kehilangan tidak bisa diperbaiki sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah usaha untuk memahami dan menerima.
Petualangan Ian dan Barley untuk menyempurnakan mantra menjadi inti cerita. Mereka menjelajah dunia yang telah melupakan sihir, menghadapi rintangan yang tidak selalu berbentuk monster, melainkan ketakutan, konflik batin, dan perbedaan cara pandang. Di sepanjang perjalanan, film ini menegaskan bahwa petualangan sejati bukanlah tentang jarak yang ditempuh, melainkan tentang perubahan yang terjadi di dalam diri.
Hubungan Ian dan Barley berkembang dengan cara yang sangat natural. Awalnya, Ian merasa Barley terlalu berisik, tidak bertanggung jawab, dan memalukan. Barley, di sisi lain, merasa Ian terlalu takut dan tidak percaya diri. Namun perjalanan memaksa mereka untuk saling bergantung. Perlahan, Ian mulai melihat bahwa keberanian tidak selalu tampil dalam bentuk ketenangan; kadang ia hadir sebagai kegigihan yang keras kepala. Barley pun belajar bahwa menjadi kakak bukan berarti selalu benar, melainkan selalu hadir.
Onward dengan cerdas membongkar mitos tentang figur ayah sebagai pahlawan sempurna. Ian menyadari bahwa apa yang selama ini ia cari dari sosok ayah—kepercayaan, dukungan, dan dorongan—sebenarnya telah ia terima dari Barley. Kakaknya, tanpa disadari, telah mengisi peran itu selama bertahun-tahun. Film ini menyampaikan pesan yang halus namun kuat: keluarga tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita harapkan, tetapi sering kali hadir dalam bentuk yang kita butuhkan.
Visual Onward memadukan dunia fantasi klasik dengan modernitas yang ironis. Unicorn berkeliaran seperti hama jalanan, peri bekerja di kantor, dan kastil berubah menjadi bangunan komersial. Kontras ini bukan sekadar lelucon visual; ia mencerminkan bagaimana dunia nyata sering kali meninggalkan nilai-nilai lama demi kenyamanan. Sihir yang dilupakan adalah simbol dari keajaiban kecil yang sering kita abaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Musik dalam film ini berfungsi sebagai penguat emosi, bukan penentu suasana yang berlebihan. Ia mengalir lembut, memberi ruang bagi dialog dan ekspresi karakter untuk bernapas. Banyak momen sunyi yang dibiarkan berlangsung, seolah film ini memahami bahwa kesedihan tidak selalu perlu diteriakkan.
Salah satu kekuatan terbesar Onward adalah keberaniannya untuk memilih akhir yang tidak sepenuhnya memenuhi ekspektasi penonton. Film ini tidak memberikan fantasi yang mudah atau solusi instan. Keputusan yang diambil Ian di akhir cerita terasa dewasa dan menyakitkan, namun jujur. Ia memilih untuk melepaskan demi memberi kesempatan kepada Barley—sebuah pengorbanan yang memperlihatkan pertumbuhan emosional yang nyata.
Bagi penonton anak-anak, Onward adalah petualangan seru dengan karakter lucu dan dunia yang imajinatif. Namun bagi penonton dewasa, film ini bisa terasa seperti pukulan lembut ke dada. Ia berbicara tentang kehilangan orang tua, tentang hal-hal yang tidak pernah sempat diucapkan, dan tentang bagaimana kita belajar berdamai dengan masa lalu.
Onward juga menyoroti pentingnya keberanian untuk mencoba, meski merasa tidak cukup. Ian bukan pahlawan karena ia kuat, melainkan karena ia berani melangkah meski takut. Pesan ini sederhana, namun sangat relevan di dunia yang sering menuntut kesempurnaan sejak awal.
Pada akhirnya, Onward bukan film tentang menghidupkan kembali orang yang telah pergi. Ia adalah film tentang hidup dengan apa yang tersisa. Tentang menghargai mereka yang masih ada, dan menyadari bahwa cinta sering kali hadir dalam bentuk yang paling tidak kita sadari.
Film ini mengajarkan bahwa keajaiban sejati tidak selalu berbentuk mantra atau tongkat sihir. Keajaiban sejati adalah hubungan—antara saudara, antara keluarga, antara masa lalu dan masa kini. Dan ketika dunia terasa kehilangan sihirnya, mungkin yang perlu kita lakukan hanyalah melihat lebih dekat.
Onward meninggalkan penonton dengan rasa hangat bercampur haru. Ia tidak menawarkan pelarian, melainkan pengingat: bahwa tumbuh dewasa berarti belajar menerima kehilangan, tanpa kehilangan kemampuan untuk berharap. Dan di sanalah, keajaiban itu kembali ditemukan.
