Peaky Blinders: The Immortal Man merupakan judul yang sangat dinantikan bagi para penggemar setia saga kriminal asal Birmingham, Inggris. Film ini dirancang sebagai konklusi megah sekaligus jembatan baru bagi semesta yang diciptakan oleh Steven Knight. Setelah enam musim televisi yang penuh dengan asap cerutu, pertumpahan darah, dan intrik politik, kisah Thomas Shelby kini berpindah ke layar lebar dengan skala yang jauh lebih masif. Berlatar belakang meningkatnya ketegangan menjelang Perang Dunia II, film ini mengeksplorasi tema tentang warisan, penebusan dosa yang mustahil, dan bagaimana “hantu” dari masa lalu tidak pernah benar-benar mati selama ambisi masih membara di dalam jiwa.
Inti dari narasi ini berpusat pada kondisi psikologis dan posisi kekuasaan Thomas Shelby (diperankan dengan brilian oleh Cillian Murphy) setelah peristiwa di akhir musim keenam. Judul The Immortal Man bukan hanya merujuk pada keberuntungan Tommy yang berkali-kali lolos dari maut, tetapi juga pada bagaimana ideologi dan pengaruh keluarga Shelby telah menjadi abadi di jalanan Birmingham. Tommy kini harus menghadapi musuh yang tidak lagi bertarung dengan pistol di lorong gelap, melainkan mereka yang mengendalikan ideologi fasisme di koridor kekuasaan Inggris yang dingin. Keunikan penceritaan ini terletak pada cara Tommy bertransformasi dari seorang gangster jalanan menjadi seorang dalang politik yang harus memutuskan apakah ia ingin menyelamatkan jiwanya atau menyelamatkan kerajaannya.
Pewaris Tahta: Film ini memperkenalkan dinamika antara Tommy dengan generasi baru Shelby, terutama Duke (putra sulungnya) yang mewakili sisi liar dan murni dari klan tersebut, serta Erasmus yang mewakili ambisi bisnis modern.
Musuh Lama dan Baru: Bayang-bayang Oswald Mosley masih menghantui, namun ancaman baru muncul dari infiltrasi intelijen internasional yang membuat Tommy merasa terjepit di antara dua dunia: kejahatan terorganisir dan spionase negara.
Visual yang Ikonik: Sinematografi layar lebar memberikan ruang bagi estetika Peaky Blinders untuk bernapas lebih lega. Kontras antara api pabrik yang membara dengan setelan jas wol yang tajam menciptakan atmosfer noir yang megah dan visceral.
Selain aksi dan strategi perang, film ini menyentuh sisi spiritual dan eksistensial. Tommy seringkali dihantui oleh bayangan orang-orang yang ia cintai dan ia hancurkan—Grace, Polly, dan saudaranya. The Immortal Man mempertanyakan apakah seseorang yang telah melakukan begitu banyak dosa dapat benar-benar menemukan kedamaian, atau apakah ia dikutuk untuk terus bertarung selamanya. Pesan tentang tanggung jawab keluarga dan beban sejarah disampaikan melalui dialog-dialog tajam yang menjadi ciri khas serial ini, mengingatkan kita bahwa di dunia Peaky Blinders, “tidak ada istirahat bagi mereka yang memakai mahkota.”
“Di dunia ini, kau bisa menjadi iblis atau kau bisa menjadi Tuhan. Tapi bagi keluarga Shelby, kita hanyalah manusia yang menolak untuk mati.”
Secara keseluruhan, Peaky Blinders: The Immortal Man adalah sebuah perayaan atas ketangguhan manusia di bawah tekanan yang luar biasa. Film ini menjanjikan penyelesaian bagi busur karakter Thomas Shelby yang telah kita ikuti selama satu dekade, sembari membuka kemungkinan bagi babak baru dalam sejarah keluarga paling berbahaya di Inggris. Ini bukan sekadar film tentang gangster; ini adalah sebuah tragedi Shakespeare modern yang dibungkus dalam asap pabrik dan dentuman logam Birmingham.
