Dunia sinema televisi jarang sekali menyaksikan karakter sekompleks dan seikonik Thomas Shelby. Sejak kemunculannya di jalanan berlumpur Birmingham tahun 1919, pemimpin geng Peaky Blinders ini telah bertransformasi dari seorang veteran perang yang trauma menjadi gembong kriminal, anggota parlemen, hingga agen bayangan pemerintah. Kini, melalui judul layar lebar yang provokatif, Peaky Blinders: The Immortal Man, saga ini mencapai titik puncaknya. Film ini bukan sekadar sekuel; ia adalah sebuah dekonstruksi terhadap mitos “keabadian” yang selama ini melekat pada sosok Tommy Shelby—seorang pria yang berulang kali menantang maut, namun selalu kembali dengan jiwa yang semakin terfragmentasi.
Berlatar belakang tahun 1939, saat sirene serangan udara pertama mulai meraung di langit Inggris, The Immortal Man menempatkan keluarga Shelby di persimpangan sejarah yang paling berbahaya. Thomas Shelby, yang kini lebih tua namun tidak lebih tenang, harus menghadapi kenyataan bahwa musuh terbesarnya bukanlah fasisme Oswald Mosley atau ancaman IRA, melainkan warisan kekerasan yang ia bangun sendiri. Judul “The Immortal Man” (Manusia Abadi) merujuk pada paradoks eksistensial Tommy: ia adalah pria yang sangat ingin mati untuk menemukan kedamaian, namun dikutuk untuk terus hidup demi melindungi kekaisaran yang ia benci sekaligus ia cintai.
Sutradara dan tim sinematografi membawa estetika Peaky Blinders ke level yang lebih megah. Jika serialnya dikenal dengan penggunaan slow-motion yang stylish dan kabut industri, film ini mengadopsi visual yang lebih mentah dan mencekam. Birmingham digambarkan sebagai kota yang bersiap menghadapi kiamat; parit-parit perlindungan digali di Garrison Lane, dan kegelapan blackout perang menciptakan kontras tajam dengan api dari pabrik-pabrik baja yang kini memproduksi amunisi.
Setiap bingkai dalam film ini terasa berat dengan beban sejarah. Penggunaan palet warna abu-abu baja dan cokelat tanah memberikan kesan bahwa karakter-karakter di dalamnya menyatu dengan debu industri Birmingham. Musik skor, yang selalu menjadi identitas kuat waralaba ini, kembali menghadirkan aransemen kontemporer yang anakhronistik namun tepat guna—memadukan dentuman rock alternatif dengan melodi biola yang melankolis, mencerminkan gejolak batin Tommy yang tak pernah padam.
Inti dari The Immortal Man adalah keretakan dalam dinasti Shelby. Film ini mengeksplorasi hubungan yang semakin tegang antara Tommy dan generasi baru, khususnya putranya, Charles, dan putra gelapnya, Erasmus “Duke” Shelby. Perbedaan ideologi antara “darah lama” yang terbiasa dengan kekerasan fisik dan “darah baru” yang harus beroperasi di bawah bayang-bayang intelijen perang menjadi motor penggerak narasi.
Duke Shelby digambarkan sebagai pewaris sifat liar Tommy, namun ia memiliki moralitas yang berbeda. Pertentangan antara ayah dan anak ini memberikan lapisan emosional yang dalam. Tommy mulai menyadari bahwa untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran total, ia mungkin harus menghancurkan dirinya sendiri. Kehadiran karakter-karakter lama seperti Arthur Shelby yang semakin rapuh dan pengingat akan mendiang Polly Gray memberikan rasa kehilangan yang konstan, mempertegas tema bahwa kekuasaan selalu menuntut tumbal.
Secara filosofis, film ini menggali konsep The Immortal Man dari sisi psikologis. Tommy Shelby sering dianggap “abadi” oleh musuh-musuhnya karena ia tampaknya selalu satu langkah di depan. Namun, di balik pintu tertutup, kita melihat seorang pria yang dihantui oleh suara-suara dari masa lalu—suara sekop di terowongan Perang Dunia I yang tidak pernah benar-benar berhenti. Film ini dengan berani mempertanyakan: apakah keabadian adalah sebuah kemenangan, ataukah itu bentuk hukuman bagi mereka yang tidak bisa memaafkan diri sendiri?
Keterlibatan Tommy dalam upaya spionase melawan rezim Nazi di London menambahkan elemen thriller politik yang intens. Ia harus bermain di zona abu-abu, di mana batas antara pengkhianat dan pahlawan menjadi sangat tipis. Di sini, kecerdasan strategis Tommy diuji hingga batas maksimalnya. Ia bukan lagi sekadar bertarung demi wilayah kekuasaan di Birmingham, melainkan demi arah masa depan peradaban, memberikan skala yang jauh lebih besar bagi penutup saga ini.
Peaky Blinders: The Immortal Man adalah sebuah surat perpisahan yang megah, kasar, dan puitis. Ia menutup bab penceritaan yang telah berjalan selama lebih dari satu dekade dengan resolusi yang tidak terduga namun terasa sangat tepat. Film ini mengingatkan kita mengapa kita jatuh cinta pada karakter yang secara moral cacat ini: karena di balik setelan jas mahal dan topi baret berpisau, ada kerinduan manusiawi akan rumah dan ketenangan.
Thomas Shelby mungkin tidak akan pernah menemukan kedamaian di dunia ini, namun melalui The Immortal Man, namanya telah dipahat secara abadi dalam sejarah sinema sebagai salah satu anti-hero paling berkesan. Film ini adalah bukti bahwa meski manusia bisa mati, legenda yang dibangun di atas darah, kesetiaan, dan ambisi yang tak terpadamkan akan tetap hidup selamanya.
