Kabar mengenai pengembangan sekuel untuk film horor-komedi kultus tahun 2019, Ready or Not, telah memicu antusiasme besar di kalangan penggemar genre survival horror. Berjudul sementara Ready or Not 2: Here I Come, film ini diprediksi akan melanjutkan warisan kekacauan yang ditinggalkan oleh Grace (diperankan kembali oleh Samara Weaving). Jika film pertamanya adalah tentang perjuangan seorang pengantin wanita untuk bertahan hidup dari ritual gila keluarga mertuanya dalam satu malam, sekuel ini kemungkinan besar akan memperluas mitologi di balik perjanjian iblis keluarga Le Domas dan konsekuensi dari kehancuran mereka.
Meskipun keluarga Le Domas telah meledak berkeping-keping di akhir film pertama, entitas di balik kekayaan mereka—sosok misterius bernama Mr. Le Bail—masih tetap ada. Sekuel ini diperkirakan akan mengeksplorasi apa yang terjadi ketika sebuah keluarga “terpilih” gagal memenuhi kontrak mereka. Grace, sebagai satu-satunya penyintas yang secara teknis memenangkan permainan, kini berada dalam posisi yang sangat unik sekaligus berbahaya.
Plot yang dirumorkan mengisyaratkan bahwa Grace mungkin tidak bisa benar-benar bebas dari bayang-bayang Le Bail. “Here I Come” bisa merujuk pada kembalinya Grace untuk menghancurkan sisa-sisa sekte tersebut, atau justru entitas iblis itu sendiri yang datang untuk menagih hutang yang belum lunas. Kita mungkin akan melihat bagaimana keluarga-keluarga kaya lainnya yang memiliki perjanjian serupa dengan Le Bail mulai memburu Grace karena ia dianggap sebagai ancaman bagi eksistensi mereka.
Salah satu elemen yang paling dinantikan adalah transformasi karakter Grace. Di film pertama, kita melihatnya berubah dari seorang wanita yang ketakutan menjadi penyintas yang berlumuran darah dan penuh amarah. Dalam Ready or Not 2, Grace diprediksi akan tampil lebih siap dan taktis. Ia bukan lagi pengantin yang terjebak, melainkan sosok yang secara aktif melawan sistem okultisme yang mencoba menghancurkannya.
Visualisasi film ini kemungkinan tetap akan mempertahankan estetika dark comedy dengan skema warna yang kontras—gaun pengantin yang kotor atau pakaian praktis yang kontras dengan lingkungan mewah yang dingin. Samara Weaving kembali dengan ekspresi ikoniknya yang memadukan kelelahan luar biasa dengan determinasi yang tajam, memberikan nyawa pada narasi “final girl” yang modern dan segar.
Sama seperti pendahulunya, sekuel ini diprediksi akan menyisipkan satir tajam mengenai kelas sosial. Jika film pertama menyindir kekolotan dan egoisme keluarga old money, sekuel ini bisa jadi memperluas kritiknya ke arah bagaimana kekuasaan dan kekayaan sering kali dibangun di atas penderitaan orang lain melalui cara-cara yang “tidak terlihat”.
Pesan tentang keberuntungan (luck) dan bagaimana orang-orang elit berusaha memanipulasi nasib akan tetap menjadi tema sentral. Film ini kemungkinan besar akan menampilkan permainan baru yang jauh lebih kompleks dan berskala lebih besar, mungkin melibatkan teknologi modern atau pengaruh media sosial, menunjukkan bahwa kejahatan kuno pun tahu cara beradaptasi dengan zaman.
Secara keseluruhan, Ready or Not 2: Here I Come menjanjikan kombinasi yang sama antara horor yang menegangkan dan humor gelap yang cerdas. Ia menantang gagasan bahwa setelah pahlawan kita selamat, penderitaannya berakhir. Faktanya, di dunia yang dikendalikan oleh kekuatan gelap dan keserakahan manusia, bertahan hidup hanyalah babak pertama dari perang yang lebih besar.
