Hubungi Kami

Remothered: Broken Porcelain Review: Mimpi Buruk Tanpa Pelarian

Dunia survival horror dalam industri video game terus berkembang, mencoba menciptakan keseimbangan antara aksi, petualangan, dan teror yang memacu adrenalin. Namun, sayangnya, Remothered: Broken Porcelain menjadi salah satu entri yang gagal mencapai potensi penuh dalam genre ini. Dengan mekanisme permainan berbasis kucing dan tikus, pemain mengendalikan seorang gadis muda bernama Jessica yang harus menjelajahi sebuah sekolah asrama khusus perempuan. Tempat tersebut memperlakukan Jessica sebagai perpaduan antara murid dan tahanan. Tentu saja, elemen “horor” hadir melalui ancaman mengerikan yang mengintai Jessica di sepanjang permainan.

Kelanjutan Kisah yang Membingungkan

Sebagai sekuel dari Remothered: Tormented Fathers (2017), Broken Porcelain menyajikan rangkuman cerita pendahulunya bagi pemain baru. Namun, meski dengan rekap tersebut, sulit bagi pemain pemula untuk memahami alur cerita yang rumit. Cerita dipenuhi dengan berbagai elemen supranatural, termasuk antagonis utama bernama Andrea, kepala Ashmann Inn yang dikendalikan oleh entitas mengerikan.

Permainan memang berhasil menciptakan suasana mencekam yang mengingatkan pada film The Shining. Lingkungan gelap di Ashmann Inn mendukung tema horor, dan skor musiknya yang penuh vokal menyeramkan serta suara siulan menambah nuansa menakutkan. Sayangnya, kekuatan permainan ini berhenti pada atmosfernya saja, sementara aspek lain justru penuh kelemahan.

Kelemahan Utama: Kontrol dan Mekanika yang Membingungkan

Salah satu kelemahan terbesar dari Remothered: Broken Porcelain adalah kontrolnya yang buruk. Sistem permainan yang didasarkan pada “bersembunyi dan lari” membuat pemain merasa benar-benar tidak berdaya, bukan hanya terhadap musuh, tetapi juga terhadap mekanisme permainan yang sulit dikendalikan. Sistem crafting, yang memungkinkan pemain membuat alat bantu dari barang seperti pisau, botol, atau tepung, terasa seperti elemen tambahan yang kurang dirancang matang.

Masalah semakin terasa pada mekanisme pengelolaan inventaris. Misalnya, membuka laci untuk mencari barang menjadi tugas yang rumit karena setiap laci memiliki banyak titik interaksi. Pemain sering kesulitan mengambil item yang diperlukan karena tidak ada tanda yang jelas pada inventaris tentang apa yang telah diambil. Hal ini sangat mengganggu terutama saat pemain dikejar musuh.

Selain itu, respons kontrol Jessica sering kali tidak sesuai dengan perintah pemain, terutama saat dibutuhkan akurasi tinggi untuk bersembunyi. Permainan juga kurang memberikan tutorial yang memadai, membuat pemain kebingungan di awal permainan.

Visual dan Pengisian Suara yang Kurang Memadai

Walaupun latar salju di Ashmann Inn memberikan estetika menyeramkan, visual karakter dan pengisi suara justru menjadi penghalang utama imersi. Karakter sering kali tampak komikal daripada menakutkan. Model karakter memiliki animasi mulut yang tidak sesuai dengan dialog, dan terkadang glitch menyebabkan elemen visual keluar dari layar atau tersendat.

Dialog sering kali penuh dengan eksposisi yang terburu-buru tanpa membangun latar belakang karakter dengan baik. Akibatnya, permainan kehilangan peluang untuk memperkuat hubungan emosional antara pemain dan cerita.

Masalah Teknis yang Mengganggu

Selain kontrol dan presentasi visual, Remothered: Broken Porcelain juga dihantui masalah teknis. Bug grafis, glitch, dan masalah performa sering kali terjadi, merusak pengalaman bermain. Hal ini menunjukkan bahwa permainan membutuhkan waktu pengembangan lebih lama untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut.

unimma

Leave a Reply

  • https://ssg.streamingmurah.com:8048
  • Copyright ©2025 by PT. Radio Unimma. All Rights Reserved
  • http://45.64.97.82:8048
  • Copyright ©2025 by unimmafm. All Rights Reserved
  • http://45.64.97.82:8048/stream
  • Copyright ©2025 by unimmafm All Rights Reserved