Forspoken adalah game yang seringkali menawarkan potensinya dengan cara yang langsung memikat, tetapi sayangnya gagal mengeksekusi dasar-dasar pentingnya. Apakah ini game yang buruk? Tidak juga. Apakah ini game yang baik? Juga tidak. Forspoken berada di ruang yang sangat biasa, sebuah “purgatori kritis” yang hanya bisa digambarkan sebagai permainan yang sangat rata-rata, mengecewakan para pemilik PS5 yang berharap mendapatkan hiburan baru di awal tahun. Meskipun ada beberapa hal yang bagus dalam Forspoken, hal tersebut justru memperburuk kesan akhirnya.
Plot Cerita
Pemain diajak masuk ke dunia Forspoken melalui karakter utama, seorang remaja bermasalah bernama Alfre ‘Frey’ Holland. Frey adalah yatim piatu yang bertahan hidup di New York City, terus-menerus terlibat dalam masalah hukum dan konflik dengan geng. Hidupnya diisi dengan apartemen kumuh dan satu-satunya teman sejati: kucing peliharaannya. Pada titik terendahnya, Frey menemukan gelang ajaib yang membawanya melalui portal ke dunia lain, Athia, yang penuh bahaya dan keajaiban. Frey terdorong untuk kembali ke dunianya, namun di tengah perjalanannya, dia perlahan mendapatkan jawaban atas misteri dunia baru ini.
Sistem Magis yang Unik, tapi Lemah dalam Eksekusi
Di Athia, Frey mendapatkan kekuatan sihir dari gelang yang disebut Cuff. Kekuatan magis ini memiliki pendekatan yang berbeda dengan sistem sihir dalam kebanyakan game, yang sering kali hanya berupa tembakan api atau mantra sederhana. Dalam Forspoken, sistem magisnya lebih menarik di atas kertas, hampir seperti menggunakan senjata—dengan kekuatan yang beragam seperti pistol atau shotgun. Sentuhan magis ini cukup menghibur, apalagi dengan umpan balik haptik dari kontroler DualSense yang memberikan getaran yang mirip dengan menembakkan senjata. Sayangnya, sistem ini dikerdilkan oleh AI musuh yang sangat membosankan dan mudah ditebak.
Salah satu contoh kekecewaan ini adalah pertarungan dengan bos besar pada bagian awal game, di mana Frey cukup berjalan mundur sambil menembakkan sihir secara berulang. Bos ini bahkan tidak menyentuhnya sekalipun, membuat pertarungan terasa kosong tanpa tantangan. Forspoken juga gagal mendorong pemain untuk bereksperimen dengan kombinasi kekuatan, sehingga membuat pertempuran kurang bervariasi dan terasa dangkal.
Traversal yang Mengagumkan, tapi Dunia yang Kosong
Di dunia nyata, Frey adalah pelari parkour yang tangguh, dan di Athia kemampuannya diperkuat secara drastis. Ia dapat bergerak seperti kilat, meluncur di atas air, dan bergelantungan di dinding ala Spider-Man. Sistem traversal ini menjadi sorotan utama permainan, dengan gerakan cepat dan animasi yang halus. Namun, sayangnya, banyak area di Athia yang terasa kosong dan membosankan, membuat traversal yang keren ini seakan tidak dimanfaatkan secara optimal.
Karakter yang Tidak Simpati
Meskipun ceritanya cukup menarik dengan elemen yang mirip Alice in Wonderland, Frey sebagai karakter utama justru menjadi sumber kekecewaan. Pada awalnya, pemain dapat bersimpati padanya—seorang pahlawan yang kesepian di dunia baru. Namun, dialog dan gaya bicara Frey yang sering kali terkesan sinis dan meta terasa ketinggalan zaman dan kurang berhasil. Frey seringkali membuat komentar yang mengingatkan pada film-film dari awal tahun 2000-an, dengan humor yang berusaha mengkritisi absurditas situasi yang dihadapinya. Humor ini tidak selalu menyatu dengan atmosfer dunia Athia yang tirani, yang seharusnya lebih suram dan serius.Forspoken adalah game yang penuh dengan ide menarik, tetapi kurang mampu mencapai level yang diinginkan. Karakter utama yang menyebalkan, alur cerita yang kurang menarik, sistem pertarungan yang kurang menantang, serta dunia yang hambar membuat permainan ini sulit dinikmati secara keseluruhan. Namun, di tengah semua kekurangan tersebut, sistem traversal yang menarik tetap berhasil menyelamatkan game ini dari total kekecewaan. Meskipun Forspoken punya potensi besar, game ini terus-menerus terhambat oleh kelemahan di hampir setiap aspek lainnya.
Forspoken adalah salah satu contoh game yang memiliki konsep bagus namun gagal dalam realisasi, sehingga sulit untuk memberikan pujian penuh terhadapnya.
