Roti Koing, atau yang juga dikenal sebagai Roti Raden, adalah salah satu kuliner khas Palembang yang lekat dengan suasana bulan Ramadhan. Makanan ini sering dijadikan hidangan khas keluarga untuk berbuka puasa. Uniknya, roti ini hanya tersedia di bulan Ramadhan dan sulit ditemukan di luar bulan tersebut.

Ciri Khas Roti Koing
Roti Koing berbentuk bulat dengan tekstur yang sedikit keras, berwarna cokelat pucat, dan rasanya tawar. Karena teksturnya yang keras, biasanya roti ini disantap dengan cara direndam terlebih dahulu ke dalam minuman panas, seperti teh manis atau kopi. Tradisi ini menjadikan Roti Koing salah satu menu nostalgia yang disukai banyak keluarga, terutama generasi tua di Palembang.
Sejarah Roti Koing
Roti Koing berasal dari masa penjajahan, ketika bahan-bahan seperti gula sulit didapatkan. Untuk menyiasati kondisi tersebut, masyarakat Palembang membuat roti sederhana tanpa gula dan bahan tambahan lainnya. Meski awalnya merupakan makanan darurat, roti ini ternyata disukai banyak orang hingga bertahan menjadi salah satu warisan kuliner lokal. Nama “Koing” sendiri berasal dari bahasa lokal yang berarti “kering,” merujuk pada tekstur roti ini yang keras dan renyah.
Namun, seiring perkembangan zaman, Roti Koing mulai kehilangan popularitasnya di kalangan generasi muda. Banyak anak muda yang cenderung memilih makanan modern, sehingga keberadaan roti ini terancam punah jika tidak dilestarikan.
Roti Koing di Pasar Tradisional
Meskipun hanya hadir di bulan Ramadhan, Roti Koing dapat dengan mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional di Palembang. Harganya pun sangat terjangkau. Untuk sebungkus kecil, biasanya dijual dengan harga sekitar Rp 3.000,-, sedangkan kemasan besar dengan isi lebih dari 10 buah dibanderol sekitar Rp 10.000,-. Harga ini menjadikan Roti Koing pilihan camilan ekonomis bagi masyarakat.
Cara Membuat Roti Koing
Bagi Anda yang penasaran ingin mencoba membuat Roti Koing sendiri, berikut resep sederhana yang bisa diikuti:
Bahan-Bahan:
- 50 gram gula pasir
- 1/4 sdt soda kue
- 1/4 sdt baking powder
- 1 sdt ragi instan
- 125 ml air (campurkan 120 ml + 1 sdt air)
- 250 gram tepung terigu
- 1/2 sdt garam halus
- 40 ml minyak sayur
Langkah-Langkah:
- Campur gula, soda kue, baking powder, dan ragi instan. Tambahkan air, aduk hingga gula larut.
- Masukkan tepung terigu, garam, dan minyak sayur. Aduk hingga rata.
- Mixer adonan selama 5 menit dengan baling spiral, mulai dari kecepatan rendah hingga tinggi.
- Olesi wadah dengan minyak tipis, bulatkan adonan, tutup kain, dan diamkan selama 1 jam hingga mengembang.
- Kempiskan adonan, potong-potong masing-masing seberat 20-21 gram, dan bulatkan. Diamkan lagi selama 30 menit.
- Panggang di oven suhu 150°C selama 20 menit. Untuk hasil garing, panggang kembali dengan suhu rendah.
Roti Koing dan Kolak: Kombinasi Sempurna
Di Palembang, Roti Koing sering dijadikan bahan utama dalam sajian kolak. Potongan kecil roti ini direndam dalam kuah kolak santan dengan gula merah, menciptakan rasa yang manis, gurih, dan mengenyangkan. Kolak Roti Koing biasanya menjadi favorit saat berbuka puasa karena mengandung karbohidrat yang cukup untuk mengembalikan energi setelah berpuasa.
Lestarikan Roti Koing, Warisan Budaya Kuliner Lokal
Meski sederhana, Roti Koing adalah bagian penting dari sejarah dan budaya kuliner Palembang. Mengingat popularitasnya yang mulai menurun, penting bagi generasi muda untuk ikut melestarikan makanan tradisional ini. Tidak hanya sebagai menu Ramadhan, Roti Koing juga bisa menjadi peluang usaha kuliner yang menarik dengan sedikit inovasi dalam penyajian.
Bagi Anda yang berkesempatan mengunjungi Palembang, jangan lupa mencicipi keunikan Roti Koing, terutama saat bulan Ramadhan. Nikmati sensasi roti keras yang berubah menjadi lembut saat direndam dalam teh atau kopi panas—sebuah tradisi yang menggambarkan kehangatan berbuka puasa di Palembang.