Hubungi Kami

Tari Sintren: Keindahan Mistis dan Filosofi Tarian Tradisional Cirebon

Keanekaragaman budaya Indonesia tidak hanya mencakup berbagai bentuk seni, tetapi juga sarat dengan cerita, mitos, dan makna mendalam yang melatarbelakanginya. Salah satu contoh budaya Indonesia yang mengandung unsur magis dan mistis adalah Tari Sintren, sebuah tarian tradisional yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Tari Sintren tidak hanya sekadar tarian, melainkan juga sebuah ritual yang menyatukan seni, mistik, dan filosofi kehidupan.

Asal Usul Tari Sintren

Tari Sintren berakar dari sebuah cerita legenda yang berkembang di masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Konon, tarian ini muncul dari kisah cinta antara Raden Sulandono, putra Ki Bahurekso, seorang Bupati Kendal, dan Dewi Sulasih, seorang putri dari Desa Kalisalak. Meskipun cinta mereka tak mendapat restu dari Ki Bahurekso, mereka tetap bertemu dalam dunia gaib yang diatur oleh Dewi Rantamsari, ibu dari Raden Sulandono. Dewi Rantamsari mengirimkan roh bidadari untuk merasuki tubuh Dewi Sulasih, dan pertemuan gaib ini terjadi saat Raden Sulandono bertapa.

Kisah cinta yang penuh misteri ini menjadi dasar bagi pertunjukan Tari Sintren. Setiap pertunjukan tari ini selalu melibatkan ritual pemanggilan roh bidadari yang merasuki tubuh penari, yang harus dalam keadaan suci. Seiring waktu, tari ini berkembang menjadi sebuah bentuk hiburan yang memiliki kedalaman makna yang berkaitan dengan kehidupan dan nafsu duniawi.

Makna Filosofis di Balik Tari Sintren

Tari Sintren memiliki makna yang sangat mendalam dalam budaya Cirebon. PRA Arief Natadiningrat, Sultan Kasepuhan Cirebon, menjelaskan bahwa tari Sintren sebenarnya tidak mengandung unsur mistis yang berlebihan. Menurutnya, tarian ini menggambarkan perjalanan hidup manusia, khususnya tentang bagaimana seseorang seringkali terlena dengan kekayaan dan nafsu duniawi. Uang yang dilemparkan kepada penari melambangkan harta dan kesenangan dunia, sedangkan ketika penari jatuh karena uang tersebut, hal ini melambangkan bagaimana manusia sering lupa diri setelah mencapai kekayaan atau kesuksesan.

Dengan kata lain, tari Sintren adalah sebuah pengingat tentang pentingnya kesederhanaan, kesucian hati, dan kewaspadaan terhadap godaan duniawi yang dapat membuat seseorang terjatuh dari jalur kehidupan yang benar.

Gerakan dalam Tari Sintren

Tari Sintren bukanlah tarian yang mengikuti koreografi seperti pada umumnya. Sebab, gerakan yang ditarikan berasal dari roh bidadari yang merasuki tubuh penari. Oleh karena itu, gerakan tari ini sering kali tampak monoton dan berulang, menambah kesan mistis dan sakral dalam setiap pertunjukannya. Gerakan tari Sintren dibagi menjadi tiga tahap utama:

  1. Awal Pertunjukan (Turun Sintren)
    Pada tahap ini, penari yang berada dalam kurungan ayam (disebut ranggap) akan mulai menunjukkan gerakan dasar seperti sembahan, geol bokong, salaman, dan gerakan lainnya. Gerakan ini mempersiapkan penonton untuk memasuki suasana magis yang mengiringi tarian.

  2. Inti Pertunjukan
    Setelah keluar dari ranggap, penari mulai melibatkan gerakan-gerakan yang lebih kompleks dan ekspresif, seperti cincing colak dan gebyar. Di sini, penari berinteraksi dengan musik yang dimainkan dan mulai menunjukkan transformasi roh yang ada di dalam tubuhnya.

  3. Akhir Pertunjukan
    Pada bagian ini, penari akan mengeluarkan nyiru, sebuah tempat untuk menampung uang saweran dari penonton, sebagai simbol dari harta dan nafsu duniawi yang dilambangkan dalam tarian ini. Gerakan akhir ini sering kali berulang, seperti nyatu dan tangis layu, yang menunjukkan bahwa duniawi tidak dapat bertahan selamanya.

Pola Lantai dan Kostum dalam Tari Sintren

Pola lantai Tari Sintren cukup sederhana, mengikuti garis lurus yang terbentuk sesuai dengan irama musik yang dimainkan. Musik yang mengiringi tarian ini sering kali berasal dari alat musik tradisional, dengan suara khas yang berasal dari tembikar dan kipas bambu.

Kostum penari Sintren juga memegang peranan penting dalam menciptakan atmosfer yang mendalam. Penari mengenakan pakaian tradisional yang terdiri dari beberapa elemen berikut:

  1. Baju Keseharian
    Sebelum memasuki ranggap, penari menggunakan pakaian kasual sehari-hari. Kostum ini hanya berfungsi sebagai pelengkap dan tidak menjadi bagian utama dari pertunjukan.

  2. Kostum Mekak
    Kostum utama penari adalah pakaian berbahan beludru hitam yang dihiasi dengan motif sulur tanaman. Warna hitam melambangkan kebijaksanaan dan kematangan jiwa.

  3. Kain Jarik
    Kain jarik berwarna putih dengan motif garuda dan corak emas digunakan untuk memberi kesan anggun pada penari.

  4. Celana Cinde
    Celana cinde berwarna hitam dengan bahan beludru dan panjang yang hanya mencapai lutut ini memberikan kenyamanan bagi penari saat bergerak.

  5. Koncer dan Jamang
    Aksesori ini dikenakan di kepala sebagai pelengkap penampilan penari, berupa ronce melati yang digantung di sisi kanan dan kiri telinga.

  6. Sampur dan Sabuk
    Sampur atau selendang berfungsi sebagai properti untuk memperindah gerakan penari, sementara sabuk digunakan untuk mengikat baju mekak agar tetap terpasang dengan rapi.

  7. Kacamata Hitam
    Salah satu ciri khas dari Tari Sintren adalah penggunaan kacamata hitam, yang melambangkan kondisi penari yang berada dalam keadaan kerasukan dan tidak bisa melihat dengan jelas.

  8. Ranggap dan Sesaji
    Ranggap adalah kurungan ayam yang digunakan pada awal pertunjukan untuk menutupi penari, yang kemudian akan dikeluarkan untuk memulai ritual tarian. Selain itu, sesaji dan kemenyan dibakar untuk memanggil roh yang akan merasuki tubuh penari.

Musik dan Tata Rias Penari Sintren

Musik dalam Tari Sintren menggunakan alat musik tradisional yang terbuat dari tembikar dan kipas bambu, menghasilkan suara khas yang menjadi iringan gerakan penari. Tata rias penari juga memiliki peran yang penting dalam menciptakan kesan mistis. Penari Sintren merias wajahnya sendiri, bahkan ketika sudah kerasukan roh, menunjukkan bahwa transformasi dalam tarian ini bersifat pribadi dan tidak bergantung pada pihak luar.

Tari Sintren adalah salah satu warisan budaya yang menggabungkan unsur seni, mistis, dan filosofi kehidupan. Dengan gerakan yang berasal dari roh bidadari, kostum khas, dan ritual yang melibatkan sesaji, tari ini menjadi simbol dari perjalanan hidup manusia dan godaan duniawi yang bisa menjatuhkan seseorang. Meskipun tari ini memiliki nuansa magis, esensi yang lebih mendalam terletak pada pengingat bagi kita untuk selalu menjaga keseimbangan hidup, tidak terjebak dalam harta dan nafsu duniawi.

unimma

Leave a Reply

  • https://ssg.streamingmurah.com:8048
  • Copyright ©2025 by PT. Radio Unimma. All Rights Reserved
  • http://45.64.97.82:8048
  • Copyright ©2025 by unimmafm. All Rights Reserved
  • http://45.64.97.82:8048/stream
  • Copyright ©2025 by unimmafm All Rights Reserved