Pada tahun 2021, sejumlah karya budaya dari Jawa Barat dinobatkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, mengukuhkan kekayaan tradisi dan seni daerah tersebut. Sebelumnya, telah dibahas beberapa karya budaya yang mewakili kekayaan warisan budaya di Jawa Barat, seperti Angklung Bungko, Gantangan, dan Gong Si Bolong. Dalam bagian kedua ini, kami akan memperkenalkan karya-karya budaya lainnya yang kini resmi diakui sebagai warisan budaya takbenda Indonesia. Berikut adalah sederet karya budaya yang patut diketahui dan dilestarikan:
1. Angklung Dogdog Lojor: Alat Musik Tradisional dengan Makna Adat
Angklung Dogdog Lojor adalah salah satu alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Nama “Dogdog Lojor” terdiri dari dua kata, yakni “dogdog”, yang merujuk pada bunyi yang dihasilkan alat musik ini, dan “lojor”, yang dalam bahasa Sunda berarti panjang. Pada masa lalu, angklung Dogdog Lojor digunakan dalam berbagai upacara adat penting, seperti turun nyambut, tebar benih, dan upacara lainnya terkait dengan pertanian.
Selain itu, angklung ini juga dipergunakan dalam perayaan kehidupan, seperti khitanan, pernikahan, serta berbagai acara adat lainnya. Alat musik ini memegang peran penting dalam menyambut musim tanam dan panen, serta dalam menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat adat setempat.
2. Merlawu: Upacara Ziarah untuk Menghormati Leluhur
Merlawu adalah tradisi ziarah yang dilakukan oleh masyarakat Desa Kertabumi, Ciamis, Jawa Barat. Upacara ini bertujuan untuk mengenang jasa para leluhur dan memperkuat ikatan spiritual antar generasi. Biasanya, upacara ini dilakukan di Situs Gunung Susuru di Desa Kertabumi, yang menjadi tempat ziarah penting bagi masyarakat setempat dan juga menarik perhatian pengunjung dari luar desa.
Dalam upacara ini, masyarakat tidak hanya berziarah, tetapi juga melaksanakan berbagai ritual dan doa sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan sebagai bagian dari usaha menjaga keharmonisan alam dan masyarakat. Merlawu merupakan cerminan penting dari kehidupan spiritual yang melekat kuat dalam budaya masyarakat Desa Kertabumi.
3. Payung Geulis: Estetika Payung Tradisional dari Tasikmalaya
Payung Geulis, yang berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat, merupakan payung tradisional yang sangat estetik dan memiliki nilai historis tinggi. Payung ini terbuat dari bambu untuk rangkanya, dengan pegangan kayu dan tudung payung yang dahulu terbuat dari kertas semen, meskipun kini bahan kain mulai digunakan.
Motif bunga-bungaan yang tersemat pada tudung payung memperindah tampilannya, menjadikannya sebagai karya seni yang menggabungkan estetika dan fungsi. Payung Geulis bukan hanya digunakan sebagai alat pelindung dari hujan, tetapi juga memiliki makna budaya dalam upacara tradisional dan acara penting lainnya.
4. Tari Cepet Sukabumi: Menyambut Kehidupan dengan Tarian Tradisional
Tari Cepet Sukabumi adalah tarian yang memiliki akar sejarah yang dalam, bermula dari kelompok warga Jawa Tengah yang dibuang ke Sukabumi pada tahun 1935 oleh Belanda. Di hutan Sukabumi, yang penuh dengan tantangan alam dan makhluk halus, mereka mengadakan upacara ritual yang disebut Ngabungbang untuk mendapatkan perlindungan.
Tari Cepet Sukabumi melibatkan 12 penari laki-laki yang mengenakan topeng khas atau cepet, diiringi oleh bunyi kentongan bambu yang memberikan nuansa mistis dan magis. Tarian ini memiliki makna simbolis yang terkait dengan keselamatan dan keberlanjutan hidup, dan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Sukabumi yang terus dilestarikan.
5. Nyuguh: Tradisi Rasa Syukur dari Kampung Adat Kuta
Nyuguh adalah tradisi syukur yang telah dilaksanakan oleh masyarakat Kampung Adat Kuta, Jawa Barat, selama berabad-abad. Setiap tahun pada 25 Safar, masyarakat mengadakan upacara ini sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Tuhan atas hasil bumi yang melimpah.
Dalam acara puncaknya, masyarakat mengarak dongdang berisi ketupat dan hasil bumi lainnya, kemudian melanjutkan dengan makan bersama. Tradisi ini memperkuat rasa kebersamaan dan saling berbagi antar warga kampung. Nyuguh tidak hanya menunjukkan kebersamaan, tetapi juga mengajarkan nilai gotong royong dalam menjaga keberlanjutan hidup bersama.
6. Batik Dermayon: Batik Paoman dari Indramayu
Batik Dermayon, atau yang lebih dikenal dengan nama Batik Paoman, adalah produk seni batik khas dari Indramayu, Jawa Barat. Batik ini dikerjakan oleh para istri nelayan menggunakan teknik tradisional, baik dengan canting maupun cap. Kain yang digunakan untuk batik biasanya adalah mori atau sutera, dengan malam dan zat warna sebagai bahan utamanya.
Batik Dermayon memiliki ciri khas dalam motif dan warna yang terinspirasi oleh alam sekitar, terutama kehidupan nelayan. Keterampilan membuat batik ini diwariskan secara turun-temurun di Indramayu, dan kini menjadi simbol identitas budaya lokal yang sangat berharga.
7. Jipeng: Gabungan Seni Tradisional dalam Satu Pertunjukan
Jipeng adalah kesenian tradisional yang menggabungkan tiga unsur seni: tanji (tanjidor), ketuk tilu (kliningan), dan topeng (Sandiwara Sunda). Kesenian ini pertama kali berkembang di Kasepuhan Ciptagelar pada tahun 1923, dan kini menjadi bagian dari tradisi yang hidup di masyarakat sekitar.
Jipeng sering dipertunjukkan dalam kegiatan adat dan keagamaan, seperti di huma dan sawah milik kasepuhan. Alat musik yang digunakan terdiri dari berbagai instrumen tradisional, dan pertunjukannya melibatkan cerita atau drama yang memperkenalkan nilai-nilai kehidupan. Kesenian ini memadukan musik, tari, dan teater, menciptakan pengalaman budaya yang khas dan menarik.
Warisan budaya takbenda yang dimiliki oleh Jawa Barat menunjukkan betapa kaya dan beragamnya tradisi yang ada di daerah ini. Dari alat musik tradisional, upacara adat, hingga kesenian yang penuh makna spiritual, setiap karya budaya ini memiliki nilai sejarah dan sosial yang tinggi. Dengan penobatan karya-karya ini sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, kita diingatkan untuk selalu menjaga dan melestarikan kekayaan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, penting bagi kita untuk menghargai dan merayakan warisan budaya ini agar dapat diteruskan kepada generasi mendatang.
