(876UnimmaFm) Magelang – Selain virus COVID-19 yang hingga kini masih menjadi pandemi di seluruh dunia, Indonesia dan negara-negara Endemik lainnya juga masih berupaya untuk mengehentikan penularan penyakit Malaria menuju Eliminasi Malaria 2030
Menurut dr. H. I. Firmansyah, SH, MH, Sp.PD, KPTI, FINASIM dari RSPI Sulianti Saroso, Malaria dikenal sebagai penyakit daerah tropis yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles yang membawa parasit plasmodium. Setiap individu memiliki ketahanan berbeda terhadap penyakit ini, ada yang bergejala ringan, sedang hingga berat sampai menimbulkan komplikasi. Walaupun hanya dari gigitan nyamuk, namun Malaria bisa mengakibatkan kematian jika tidak di tangani dengan baik.
Firman juga menyebutkan bahwa ada tiga kondisi Malaria khusus yang harus diwaspadai, yaitu Malaria dengan kehamilan, Malaria dengan HIV, dan Malaria dengan malnutrisi. Ketiga kondisi khusus ini bisa menimbulkan gejala yang lebih buruk saat terkena malaria
Hal tersebut terjadi karena gejala-gejala yang timbul bukan hanya disebabkan oleh Malaria namun juga kondisi fisik secara umum yang sudah dialami oleh penderita, contohnya, ibu hamil yang mudah terserang dehidrasi atau penderita HIV yang memiliki kekebalan tubuh yang rendah.
Ada beberapa gejala yang bisa dikenali dari penyakit Malaria, Trias Malaria, merupakan gejala khas yang biasa mulai muncul saat seseorang baru saja digigit nyamuk Anopheles, dari menggigil, lalu deman tinggi hingga mencapai 39-40°C dan dilanjutkan dengan berkeringat lebih. Selain mengenali gejala-gejala khas tersebut, perlu dilakukannya skrinning perjalanan apakah pernah berpergian maupun bertemu dengan individu yang berasal dari daerah endemik.
Hingga saat ini vaksin untuk Malaria belum ditemukan namun Malaria dapat dicegah dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang bisa digunakan untuk menghindari gigitan nyamuk Anopheles, yaitu daun sereh dan bunga Lavender yang bisa dimanfaatkan sebagai repelen. Hindari juga aktifitas di malam hari karena nyamuk Anopheles aktif di waktu tersebut, jika terpaksa berkegiatan di malam hari, pastikan untuk memakai pakaian lengan Panjang, juga memasang kelambu untuk menutup akses masuknya nyamun Anopheles.
Dalam rangka memperingati hari Malaria sedunia yang jatuh pada tanggal 25 April lalu, dr. Firman menambahkan, jika masyarakat bisa bekerja sama dalam menghentikan penularan Malaria dengan memutus hubungan dengan nyamuk dan tetap melakukan pencegahan karena seseorang yang telah terjangkit Malaria bukan berarti menjadi kebal, mereka tetap bisa kembali tertular.
(Sumber : Talkshow Radio Kesehatan KEMENKES RI via Unimma FM pada Rabu (28/04). (ad)
