Magelang – Kekerasan yang semakin marak di kalangan remaja, dewasa, hingga anak-anak telah menjadi perhatian serius. Unimma Talk Show, yang kali ini bekerja sama dengan KPSI Simpul Magelang, membahas tema penting tentang “Upaya Pencegahan dan Pemulihan Pada Kasus Kekerasan”. Berbagai kasus kekerasan, seperti pelecehan seksual, bullying, dan kekerasan fisik, terus meningkat dan memerlukan langkah nyata dari berbagai pihak. Diskusi ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan solusi yang praktis bagi masyarakat dalam menghadapi permasalahan ini.
Dalam sesi kali ini, narasumber utama adalah Mbak Vida, Ketua KPSI Simpul Magelang sekaligus Koordinator KPSI Jawa Tengah, yang dengan semangat menyampaikan pentingnya penyadaran akan kasus kekerasan. “Kekerasan bukan fenomena baru, namun kini korban lebih berani untuk speak up,” ungkap Mbak Vida. Menurutnya, peningkatan kasus yang terlihat saat ini lebih banyak disebabkan oleh adanya keberanian para korban dan saksi untuk melapor, serta peran media sosial dalam menyebarkan informasi.
Bunda Pipin, dari Fakultas Ilmu Kesehatan Unimma, menambahkan bahwa kekerasan ini sering kali seperti fenomena gunung es, di mana apa yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil dari kasus yang sebenarnya terjadi. “Kasus kekerasan yang sudah terselesaikan secara kekeluargaan sering kali tidak ter-blow up oleh media, namun yang menjadi perhatian penting adalah dampak trauma psikologis yang berkepanjangan,” ujar Bunda Pipin.
Pak Amrul, psikolog dari Fakultas Psikologi dan Humaniora Unimma, turut memberikan pandangan terkait proses pemulihan korban kekerasan. “Layanan profesional seperti layanan Sejiwa (119 ext 8) atau biro-biro psikologi lokal bisa diakses oleh korban untuk mendapatkan dukungan psikologis. Namun, waktu pemulihan tergantung pada mental dan dukungan yang diterima oleh korban,” jelas Pak Amrul.
Talk show ini juga membahas pentingnya peran masyarakat dalam pencegahan kekerasan. Mbak Vida menyoroti bahwa komentar negatif di media sosial bisa memicu trauma lebih dalam bagi korban kekerasan. “Masyarakat harus lebih peka dan mendukung korban dengan cara yang tepat. Depresi itu nyata dan bisa menjadi silent killer jika tidak diatasi dengan baik,” tegasnya.
Unimma Talk Show mengajak seluruh masyarakat untuk terlibat aktif dalam pencegahan kekerasan, baik melalui pendampingan yang positif, membangun dukungan sosial yang kuat, hingga memastikan akses layanan pemulihan bagi korban kekerasan. Diskusi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengurangi angka kekerasan di Indonesia.
Talkshow ini menjawab berbagai pertanyaan yang masuk dari pendengar melalui WhatsApp R FM di 08112533876. Pertanyaan Pertama dari pendengar bernama Anifa, yang bertanya tentang cara membekali anak-anak SD agar terhindar dari kekerasan. Menanggapi hal tersebut, Pipin menyampaikan pentingnya keterlibatan orang tua sebagai “first aider” bagi anak-anak. “Setiap keluhan atau ketidaknyamanan yang disampaikan anak harus selalu ditanggapi dengan serius, meski tampak sepele,” ujar Pipin. Ia menekankan bahwa orang tua perlu menggali informasi lebih dalam sebelum membawa anak ke profesional kesehatan. “Identifikasi dan introspeksi lingkungan rumah sangat penting. Jika anak merasa tidak nyaman di sekolah atau lingkungan bermain, langkah awal adalah orang tua mengamati, mendengar, dan segera berkomunikasi dengan pihak sekolah.”
Amrul menambahkan bahwa faktor pengalaman hidup seorang korban juga memengaruhi proses pemulihannya. “Semakin kuat mentalitas seseorang, semakin cepat pula proses pemulihannya,” jelasnya. Amrul juga menekankan bahwa peran profesional dalam hal ini adalah membantu pemulihan, bukan menciptakan ketergantungan. Ia menyarankan agar orang tua tidak ragu berkonsultasi dengan profesional jika menemukan masalah pada anak, dan menghindari diagnosis sendiri dari sumber yang tidak valid seperti Google. “Konsultasilah kepada ahli yang tepat, seperti psikolog atau layanan kesehatan jiwa, karena informasi dari sumber yang kurang kredibel bisa menyesatkan.”
Dalam sesi lainnya, salah satu pendengar, Tanti, menanyakan apakah hukuman bagi pelaku kekerasan sudah setimpal dan memberikan efek jera. Menjawab hal ini, Pipin dan Amrul sepakat bahwa proses hukum terkadang memiliki tantangan, terutama jika kasus kekerasan terjadi di dalam keluarga atau antara anak-anak. “Dalam kasus kekerasan di rumah tangga, pelaku sering kali tidak menyadari kesalahannya, dan korban justru tetap hidup bersama dengan pelaku,” jelas Pipin. Amrul menekankan bahwa edukasi pada anak-anak sebagai saksi juga penting dalam pencegahan kekerasan.
Sebagai penutup, Pipin memberikan pesan kuat bahwa penanganan kekerasan tidak hanya difokuskan pada korban, tetapi juga harus mencakup pelaku, saksi, dan lingkungan sekitarnya. “Kita semua berpotensi menjadi pelaku maupun korban, jadi kesadaran diri dan mekanisme coping harus terus diperkuat,” ujarnya. Amrul menambahkan, “Hati kita adalah kompas utama, dan kita harus belajar mengatur emosi untuk menjaga diri dan orang lain.”
Talk show ini menjadi ruang diskusi yang membuka mata masyarakat akan pentingnya upaya pencegahan dan penanganan kasus kekerasan secara holistik. Tidak hanya bagi korban, tetapi juga seluruh pihak yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Acara berakhir dengan pesan moral dari Pipin, Amrul, dan Vida, yang mengingatkan pentingnya empati dalam merespon kasus kekerasan, baik dalam lingkup keluarga, sekolah, maupun media sosial. “Jaga hati, jaga jari, dan sharing sebelum sharing,” ujar Vida.
