Dirilis pada 5 April 2018, Jelita Sejuba adalah sebuah film yang tidak hanya menyuguhkan cerita emosional tentang kehidupan seorang istri prajurit, tetapi juga menyajikan keindahan dan kekayaan budaya Pulau Natuna melalui musik latarnya yang khas. Disutradarai oleh Ray Nayoan, film ini menawarkan pengalaman audiovisual yang unik dengan menggabungkan narasi yang mendalam dan elemen budaya lokal yang memukau.
Kehidupan dan Budaya dalam Jelita Sejuba
Film ini mengikuti perjalanan emosional Sharifah (diperankan oleh Putri Marino), seorang wanita yang harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di pulau terpencil sambil menghadapi tantangan sebagai istri seorang prajurit. Pulau Natuna, lokasi utama syuting film ini, menjadi latar yang menawan dengan pantai-pantai indah dan lanskap hijau yang mempesona. Keberagaman alam ini tidak hanya menambah nilai estetika film tetapi juga berfungsi sebagai latar yang mendalam untuk cerita yang disajikan.
Musik Melayu: Warisan Budaya yang Mendalam
Salah satu aspek yang sangat menarik dari Jelita Sejuba adalah penggunaan musik Melayu dalam scoringnya. Musik Melayu merupakan bentuk seni tradisional yang berkembang di wilayah pantai timur Sumatra, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Aliran musik ini sering diiringi oleh tarian khas Melayu seperti tari Persembahan, yang biasa dipertunjukkan dalam acara adat, penyambutan tamu, dan acara keagamaan. Musik Melayu dikenal dengan ritme dan melodi yang khas, serta lirik yang menggambarkan kehidupan dan budaya masyarakat Melayu.
Penelitian Musik Melayu oleh Ricky Surya Virgana
Ricky Surya Virgana, music director untuk Jelita Sejuba, melakukan perjalanan khusus ke Pulau Natuna untuk mengeksplorasi dan memahami musik Melayu yang berkembang di sana. Tujuan utama Ricky adalah untuk membandingkan musik Melayu yang ada di Natuna dengan koleksi musik Melayu klasik yang dimilikinya, seperti Orkes Melayu Bukit Seguntang dan Orkes Kumbang Tjari.
“Saya sengaja pergi ke Natuna untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang musik Melayu di sana. Meskipun saya sudah familiar dengan musik Melayu dari koleksi piringan hitam saya, saya ingin mengetahui lebih jauh bagaimana musik Melayu berkembang di Natuna,” ujar Ricky.
Penemuan dan Adaptasi Musik Melayu
Setibanya di Natuna, Ricky Surya Virgana berinteraksi dengan masyarakat adat dan menggali lebih dalam tentang jenis musik Melayu yang berkembang di pulau tersebut. Ia berinteraksi dengan anggota Sanggar Langkadura, pemusik, dan penari lokal untuk memahami lagu-lagu yang paling familiar di Natuna. Dalam proses ini, Ricky merekam beberapa lagu Melayu klasik, termasuk ‘Palok Sagu’, yang merupakan lagu paling dikenal di Natuna, serta ‘Zapin’. Selain itu, ia juga merekam lagu berjudul ‘Ragu Berayun Rindu’, yang dinyanyikan oleh vokalis Ade Paloh dari band Sore, untuk digunakan sebagai musik latar dalam film.
Musik Melayu dalam Jelita Sejuba
Musik Melayu yang dihadirkan dalam Jelita Sejuba mencakup berbagai elemen tradisional seperti pukulan gendang, petikan gambus, tingkahan rebana, gesekan biola, dan picitan akordion. Penonton dapat menikmati bagaimana musik ini menyatu dengan pemandangan alam yang menakjubkan dari Pulau Natuna, menciptakan pengalaman audiovisual yang memikat. Kombinasi antara visual yang indah dan musik yang otentik memperkaya pengalaman menonton dan memberikan wawasan yang mendalam tentang kekayaan budaya lokal.Jelita Sejuba tidak hanya merupakan sebuah film yang menyentuh tentang kehidupan dan cinta, tetapi juga merupakan jendela untuk memahami dan menghargai kekayaan budaya musik Melayu. Dengan latar belakang Pulau Natuna yang eksotis dan musik Melayu yang otentik, film ini menawarkan pengalaman yang menyentuh dan mempesona bagi para penontonnya. Film ini patut dimasukkan dalam daftar tontonan, terutama bagi mereka yang ingin menikmati kombinasi harmonis antara cerita yang mendalam dan keindahan budaya lokal.
