Hubungi Kami

Menarik Bedah Film The Medium, Beginiah Ceritanya

Film Thailand berjudul The Medium (Rang Song), baru-baru ini ramai menjadi perbincangan di kalangan penikmat film horor dunia dan Asia pada khususnya, termasuk di Indonesia, karena membawa tema yang walaupun bukan sesuatu yang kontroversial, namun cukup menarik untuk dibahas secara panjang lebar, dari berbagai sisi.

The Medium merupakan hasil buah karya dari sutradara asal Thailand, Banjong Pisanthakun, yang sebelumnya sukses mengawali debut film horornya melalui Shutter di tahun 2004, dan produser Na Hong-Jin asal Korea Selatan yang namanya sangat melekat pada film The Wailing (2016).

Dalam artikel ini, saya menggunakan kata “Thailand” dan “Thai”. Kata kedua bukanlah sekedar singkatan dari kata “Thailand”, tapi merupakan sebutan untuk “warga Thailand”, atau “orang Thailand”, sebagaimana masyarakat setempat menyebut diri mereka. Terkadang fungsinya juga dipakai sebagai kata ganti bahasa. Contohnya ketika mereka mengatakan “Please write in Thai”, yang artinya; “Tolong tulis dalam bahasa Thai”.

Kembali ke soal keyakinan, Banjong memperkenalkan agama Kristen dalam The Medium, sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh sutradara horor Thailand. Tema keyakinan di film ini pun menjadi lebih kuat dengan hadirnya agama lain sebagai penyeimbang, dan mungkin juga digunakan Banjong sebagai pembanding untuk membedakan antara agama dan kepercayaan. Memisahkan keduanya dalam konteks berbeda, namun menyatukannya atas dasar keyakinan.

The Medium menceritakan sekelompok tim yang sedang membuat film dokumenter tentang praktek perdukunan di Isan, dengan menyorot pada Nim, seorang dukun yang dipercaya mewarisi kekuatan roh Bayan, yang didapatkan secara turun temurun dalam keluarganya, melalui garis keturunan perempuan.

Film ini juga menceritakan tentang saudari Nim bernama Noi, dan anak perempuannya Ming (dituliskan ‘Mink’ pada translasi bahasa Inggrisnya), yang sudah tidak percaya dengan kepercayaan lokal, terutama soal roh Bayan, dan kini menganut agama Kristen.

Thailand didominasi oleh ajaran Buddha Mahayana, sehingga ajarannya sudah tidak murni lagi, karena telah tercampur dengan agama Hindu dan kepercayaan-kepercayaan lokal yang diyakini di masyarakat. Karena alasan inilah, sebagian besar orang Thai ketika ditanya tentang Buddha, mereka jarang sekali menganggap itu (Buddha) sebagai agama, melainkan hanya kepercayaan saja.

Pencampuran ini lah yang memicu berkembangnya kepercayaan-kepercayaan lokal, dimana salah satunya adalah rumah roh atau biasa disebut “San Phra Phum”, yang dipercaya dapat menjaga bangunan (rumah/gedung), dari malapetaka atau hal-hal buruk. San Phra Phum ini memiliki kaitan erat dengan film The Medium.

San Phra Phum adalah wadah atau medium untuk dijadikan sebagai “rumah” bagi para roh, dan biasa diletakkan di depan rumah atau gedung, namun juga kadang bisa ditemukan di sekitar pekarangan. Kehadirannya dipercaya akan mengundang roh baik untuk menjaga bangunan dan penghuninya.

Kenyataannya, San Phra Phum terkadang tidak hanya mengundang roh baik, namun juga roh jahat, dan pemilik bangunan tidak dapat membedakannya, sehingga untuk menjauhkan dari bahaya dan karma buruk, ritual merawat San Phra Phum terus dilakukan secara rutin dengan memberikan sesembahan.

Ketika pemilik bangunan pindah, otomatis kepemilikan San Phra Phum juga berpindah. Namun tidak semua pemilik baru percaya dengan hal-hal mistis, sehingga tidak jarang San Phra Phum “warisan” ini dibuang. San Phra Phum yang terbengkalai tersebut, dipercaya dihuni oleh roh-roh yang marah.

Keterkaitan San Phra Phum dengan film The Medium terlihat pada salah satu adegan saat Ming, ditemukan tergeletak tidak sadarkan diri di dalam sebuah gedung tua bekas pabrik benang keluarga Asatia dari sisi ayahnya.

Di dalam gedung tersebut, Nim melihat sampah-sampah San Phra Phum yang berserakan dan tidak terawat. Ini mengindikasikan bahwa bangunan tersebut telah dipenuhi oleh roh-roh yang marah dan tidak punya tujuan. Hadirnya Ming dengan tubuh yang rapuh dan sangat mudah dirasuki ke dalam gedung itu, bagaikan sebuah santapan bagi para roh untuk digunakan sebagai “rumah” baru mereka.

Berkomunikasi dengan Roh

Mengapa tubuh Ming bisa sangat mudah dirasuki oleh roh? Untuk Menjawab pertanyaan ini, kita harus kembali ke beberapa menit awal dari film The Medium, tepatnya pada adegan malam pemakaman ayahnya, dimana Nim mendapati Ming menatap seorang nenek dan terlihat seperti sedang “berkomunikasi”. Momen ini mengindikasikan bahwa Ming sepertinya telah membuka semacam cara untuk berkomunikasi dengan hal-hal gaib.

Hal ini terlihat pada kondisi nenek buta tersebut, sehingga saya memiliki dua dugaan, yang pertama adalah bahwa nenek tersebut sedang dirasuki oleh roh yang ingin berkomunikasi, atau menyampaikan sesuatu pada Ming. Ini berkaitan dengan adegan keesokan harinya di pagi hari, dimana nenek tersebut ditemukan meninggal, jadi kemungkinan pesan yang ingin disampaikan berkaitan dengan hal tersebut.

Dugaan kedua, si nenek sebenarnya sudah mati pada malam itu, dan yang hadir adalah tubuh kosongnya saja, yang sudah dirasuki oleh roh. Pertanyaanya, kenapa sasaran yang dituju adalah Ming, dan bukan Nim yang jelas-jelas berprofesi sebagai dukun?

Hal ini bisa disebabkan karena Nim tidak pernah secara frontal berkomuniksi dengan roh, sementara Ming dapat melakukannya. Tapi bagaimana caranya? Ini dijelaskan kemudian. Pada adegan lainnya, Nim terlihat sedang mengobrak-abrik kamar Ming dan menemukan jimat “Wampa Taba”.

Wampa Taba ini fungsinya mirip seperti boneka Jelangkung, atau papan Ouija, yang dapat digunakan untuk memanggil roh. Jimat ini banyak disalah artikan sebagai pelindung dari roh jahat, dimana sebetulnya merupakan media untuk memanggil roh (bisa baik, bisa juga jahat) yang pastinya sangat berbahaya dan bukan barang mainan.

Tujuan Ming menggunakan ini kemungkinan dipicu oleh keinginannya untuk berkomunikasi dengan roh saudaranya, Mike (Mac) yang mati bunuh diri (awalnya disebutkan karena kecelakaan motor). Namun karena menggunakan tanpa panduan dari ahlinya, Ming melakukan kesalahan dan malah memanggil roh jahat.

Di Thailand ada sebuah perkataan atau petuah yang kira-kira berbunyi “Wela klangkhun daiyeen seing reyeek thak ham khanraan ded khaad”. Artinya kasarnya “Bila pada malam hari kamu mendengar ada suara memanggil, jangan dijawab.”. Bila suara tersebut dijawab atau direspon, dapat diartikan sebagai sebuah undangan kepada roh untuk masuk ke tubuh kita.

Mengaitkannya dengan Wampa Taba, ada satu adegan yang menguatkan dugaan bahwa Ming dapat berkomunikasi dengan roh. Saat Ming diusir dari songtaew (angkot) pada malam hari dan berakhir dengan dirinya mabuk-mabukan di stasiun bus, Ming terlihat sedang “ngobrol” atau “merespon” sesuatu.

Pada momen tersebut, Ming juga sempat mengucap “hah?” yang pada kebiasaan di Thailand, digunakan sebagai pengganti dari sebuah pertanyaan. Ini berarti Ming mendengar suara di malam hari, dan dia menjawabnya, sehinga secara tidak sengaja, dalam keadaan mabuk, Ming mengundang roh.

Ming Sebagai Sang Medium

Dengan kondisi tubuh yang rapuh, Ming menjadi sasaran empuk bagi para roh untuk merasukinya. Orang Thai sangat pecaya dengan hadirnya roh. Ini merupakan kepercayaan lokal yang sudah turun temurun dan telah membudaya.

Dalam budaya Thailand sendiri ada berbagai jenis roh, mulai dari roh hutan, roh gunung, hingga roh darat. Setiap jenis roh dapat bermanifestasi menjadi bentuk tertentu seperti manusia, hewan, bahkan tumbuhan. Lalu ada juga roh yang berwujud humanoid, yang merupakan campuran dari manusia, hewan atau tumbuhan.

Pada satu adegan, Noi memutuskan membawa Ming ke dukun, untuk melakukan ritual pemberkatan agar menerima roh Bayan, tanpa kehadiran Nim. Tindakan ini membuat Nim yang mengetahuinya, marah, sekaligus menjadi pemicu malapetaka yang akan menimpa keluarga ini.

Dukun yang kredibilitasnya dipertanyakan tersebut, melalui ritual yang dilakukannya, justru memicu terbukanya tubuh Ming sebagai wadah (medium) secara penuh, tanpa adanya pembatas (barrier). Ini menyebabkan tubuh Ming menjadi ruang terbuka bagi masuknya berbagai jenis roh secara bebas, tanpa perlu berkomunikasi atau meminta ijin kepada pemiliknya terlebih dahulu.

Perbedaan ini terlihat pada karakter Ming yang digambarkan oleh Banjong di paruh awal film dengan dirinya di pertengahan hingga akhir. Sebelumnya, Ming terlihat melakukan semacam komunikasi sebelum tubuhnya dirasuki. Kini, kesurupan yang dialami Ming bisa muncul tiba-tiba dan kapan saja.

Dengan banyaknya roh yang merasuk ke tubuh Ming secara silih berganti, jenis roh yang masuk pun beragam. Namun walau banyak yang kelihatannya jahat, namun saya merasa ada pula roh yang baik. Pendapat ini berlandaskan pada satu adegan yang terekam di kamera CCTV.

Ming terlihat memasuki kamar Manit dan Pang pada dua kesempatan berbeda. Dugaan saya, ini adalah dua roh berbeda, dimana roh pertama kemungkinan memilki niat jahat untuk menyakiti Ibu dan bayi, sementara roh kedua adalah perwujudan dari roh Mae Sue yang dalam legenda Thailand merupakan roh pelindung balita.

Pendapat saya didukung oleh adegan selanjutnya yang memperlihatkan Ming membawa lari bayi tersebut. Kemungkinan ini adalah tindakan roh Mae Sue yang ingin melindungi bayi dan mejauhkannya dari rumah, karena ada roh jahat yang mengincar. Sayangnya, Mae Sue tidak dapat membedakan manusia dewasa, sehinga dia menyerang siapa pun yang ingin mendekati bayi tersebut.

sumber : https://darkoushiza.wordpress.com/2021/10/23/review-the-medium/

Unimma Updates

Leave a Reply

  • https://ssg.streamingmurah.com:8048
  • Copyright ©2025 by PT. Radio Unimma. All Rights Reserved
  • http://45.64.97.82:8048
  • Copyright ©2025 by unimmafm. All Rights Reserved
  • http://45.64.97.82:8048/stream
  • Copyright ©2025 by unimmafm All Rights Reserved