Sekubal adalah salah satu kuliner khas Lampung yang memadukan citarasa lezat dengan tradisi budaya yang kaya. Panganan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Lampung, baik dari suku Saibatin maupun Pepadun, yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tidak hanya disajikan selama bulan Ramadhan atau Lebaran, sekubal juga sering hadir dalam berbagai acara adat, perayaan, dan bahkan menjadi oleh-oleh khas Lampung yang disukai oleh banyak orang, baik di dalam maupun luar daerah.
Sekubal: Tradisi Kuliner Lampung yang Tetap Terjaga
Di Bandarlampung, salah satu pembuat sekubal yang terkenal adalah Nenek Sekubal, seorang ibu yang tinggal di Jalan Imam Bonjol Gang Batu Alam, Langkapura, Bandarlampung. Setiap hari, Nenek Sekubal membuat sekubal dalam jumlah besar—sekitar 20 kg—untuk dijual kepada pelanggan setianya. Keahliannya dalam membuat sekubal sudah diakui oleh banyak orang, dan bahkan ia sering diminta untuk membuat sekubal dalam acara adat besar seperti begawi adat atau acara keluarga lainnya.
Menurut Nenek Sekubal, membuat sekubal bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan ketelatenan dan perhatian terhadap detail agar hasilnya memuaskan. “Kalau tidak telaten, hasilnya tidak akan maksimal. Tapi kalau telaten, pembeli juga senang,” ujarnya. Sebagian besar pembeli sekubal datang dari kalangan warga setempat, namun menjelang Lebaran, pesanan sekubal meningkat pesat, terutama dari mereka yang ingin membawa sekubal sebagai oleh-oleh saat mudik ke luar Lampung, seperti ke Pulau Jawa.
Sekubal: Makanan Khas Lebaran dan Acara Adat
Meskipun sekubal sangat identik dengan Ramadhan dan Lebaran, makanan ini sebenarnya bisa dinikmati kapan saja, terutama pada acara-acara penting seperti perkawinan, khitanan, atau begawi adat. Namun, pada hari-hari biasa, cukup sulit untuk menemukan sekubal, karena pembuatannya yang memerlukan waktu dan ketelatenan yang tidak semua orang memiliki kemampuan tersebut.
Pada bulan Ramadhan, Nenek Sekubal seringkali membuat sekubal lebih banyak dari biasanya, apalagi anak dan menantunya juga turut membantu menjajakan sekubal di lapak yang mereka buka di tepi jalan Imam Bonjol, Bandarlampung. Bahkan, tidak jarang ada pelanggan yang memesan sekubal jauh-jauh hari sebelum Lebaran, untuk dibawa sebagai oleh-oleh makanan khas Lampung saat mereka mudik.
Wadyo, salah satu warga Bandarlampung yang sering mudik ke Solo setiap Lebaran, mengatakan bahwa sekubal adalah makanan khas Lampung yang sangat ia rindukan. Menurutnya, sekubal selalu menjadi oleh-oleh yang wajib dibawa ketika ia pulang ke kampung halamannya di Jawa. Sekubal memang memiliki daya tarik yang kuat bagi mereka yang berasal dari luar Lampung, karena rasanya yang lezat dan teksturnya yang kenyal membuatnya sangat disukai.
Cara Membuat Sekubal: Proses yang Memerlukan Ketelatenan
Membuat sekubal memerlukan waktu yang cukup lama dan teknik yang teliti. Proses pembuatan sekubal terdiri dari beberapa tahap, mulai dari persiapan bahan hingga pengemasan dan pemasakan ulang untuk mendapatkan rasa yang sempurna.
Bahan-bahan yang Dibutuhkan untuk Membuat Sekubal:
- 1 kg beras ketan (cuci bersih)
- Santan dari 1 butir kelapa (rebus hingga berminyak)
- Garam secukupnya
- Daun pisang untuk membungkus
Langkah-langkah Membuat Sekubal:
- Persiapan Ketan: Cuci bersih ketan dan kukus hingga setengah matang. Setelah itu, pindahkan ketan yang sudah dikukus ke dalam wadah.
- Menyiram dengan Santan: Sirami ketan dengan santan yang telah direbus hingga berminyak dan beri sedikit garam untuk menambah rasa.
- Proses Pengukusan Kedua: Kukus kembali ketan dengan santan selama sekitar 1 jam atau hingga benar-benar matang.
- Pencetakan Ketan: Setelah matang, ketan dicetak dengan menggunakan cetakan berbentuk persegi berukuran sekitar 16 cm dengan ketebalan 1 cm.
- Pembungkusan dengan Daun Pisang: Ketan yang sudah dicetak dibungkus rapat dengan daun pisang. Susun berlapis-lapis, kemudian ikat dengan tali agar bentuknya rapi dan padat.
- Pemasakan Terakhir: Sekubal yang sudah dibungkus dan disusun dengan daun pisang kemudian dikukus lagi selama sekitar 2 jam. Proses ini bertujuan untuk membuat rasa ketan menjadi lebih legit, gurih, dan matang sempurna.
Sekubal yang telah dimasak dengan cara ini bisa bertahan hingga sepekan jika disimpan dengan baik. Rasa manis, gurih, dan kenyalnya ketan yang berpadu dengan aroma daun pisang membuat sekubal menjadi makanan yang khas dan menggugah selera.
Sekubal: Sebuah Warisan Kuliner yang Terus Dilestarikan
Karena proses pembuatannya yang rumit, membuat sekubal menjadi sebuah keterampilan yang tidak dimiliki oleh banyak orang, sehingga menjadikan sekubal lebih jarang ditemukan. Banyak orang saat ini lebih memilih untuk memesan sekubal dari pembuat yang sudah berpengalaman, seperti Nenek Sekubal, daripada mencoba membuatnya sendiri. Namun, meskipun tidak banyak yang bisa membuatnya, sekubal tetap memiliki tempat yang sangat istimewa dalam hati masyarakat Lampung, terutama pada saat-saat tertentu seperti Lebaran atau acara adat penting lainnya.
Saat Lebaran tiba, sekubal menjadi salah satu makanan yang sangat ditunggu-tunggu. Bagi masyarakat Lampung, sekubal bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari tradisi yang harus dilestarikan. Makanan ini menjadi simbol kebersamaan dan keberkahan, yang mempererat hubungan sosial dan budaya antara generasi yang lebih tua dengan generasi muda.
Sekubal adalah salah satu kuliner khas Lampung yang menyimpan kekayaan rasa dan tradisi budaya yang mendalam. Meskipun tidak ditemukan setiap hari, sekubal tetap menjadi makanan yang sangat dicintai, terutama saat Ramadhan, Lebaran, dan acara adat lainnya. Dengan bahan dasar ketan dan santan, serta proses pembuatan yang membutuhkan ketelatenan, sekubal menjadi simbol warisan kuliner Lampung yang terus hidup dan dilestarikan oleh generasi penerusnya. Jadi, jika Anda berkesempatan mengunjungi Lampung, jangan lupa untuk mencoba sekubal, salah satu kelezatan khas yang penuh makna ini.
