Ketika Final Fantasy Crystal Chronicles pertama kali dirilis untuk Nintendo GameCube pada tahun 2004, game ini menjadi sorotan besar. Pasalnya, sudah hampir satu dekade sejak entri baru dari seri ini hadir di konsol Nintendo, mengingat hubungan yang kurang harmonis antara Nintendo dan Square pada masa itu. Kini, setelah 16 tahun berlalu, game Final Fantasy cukup sering hadir di platform Nintendo. Dengan dirilisnya Final Fantasy Crystal Chronicles: Remastered Edition untuk konsol modern, muncul pertanyaan: apakah kesuksesan awal game ini hanya disebabkan oleh daya tarik baruannya?
Konsep dan Cerita
Final Fantasy Crystal Chronicles merupakan penyimpangan dari formula RPG berbasis giliran yang menjadi ciri khas seri ini. Sebaliknya, game ini adalah dungeon crawler untuk 1-4 pemain. Ceritanya berpusat pada dunia yang diliputi zat beracun bernama “Miasma.” Untuk melindungi desa mereka, sekelompok Caravanner harus mengumpulkan zat bernama “Myrrh” dalam sebuah Chalice. Myrrh ini digunakan untuk menguatkan kristal pelindung yang menjaga desa dari Miasma. Narasi game ini menampilkan konsekuensi tragis yang dapat terjadi jika misi tersebut gagal.
Pengalaman Bermain Solo
Meski game ini dapat dimainkan secara solo, pengalaman bermain seorang diri tidaklah menyenangkan. Karena dunia game ini dipenuhi Miasma, pemain harus tetap berada dalam jangkauan Chalice setiap saat. Dalam mode solo, Chalice dibawa oleh karakter Moogle, yang kadang merasa lelah dan memaksa pemain untuk mengambil alih. Proses ini berulang terus-menerus, sehingga terasa mengganggu dan tidak perlu.
Berbeda dengan dungeon crawler seperti Marvel Ultimate Alliance yang memungkinkan pemain bertarung bersama karakter AI, di sini pemain harus menghadapi musuh sendirian. Hal ini membuat game terasa sepi dan monoton. Semua serangan musuh difokuskan pada satu karakter, memaksa pemain untuk terus-menerus menyerang, menghindar, dan mengulanginya hingga musuh kalah. Pola ini cepat terasa membosankan.
Kontrol dan Sistem Pertarungan
Kontrol dalam game ini memperumit pengalaman bermain. Hanya ada satu tombol untuk menyerang, bertahan, dan menggunakan sihir, sehingga memilih opsi yang tepat di tengah pertempuran menjadi pekerjaan berat. Dalam mode multipemain, beban ini dapat dibagi dengan rekan tim, tetapi dalam mode solo, menggunakan perintah bertahan sering kali terasa sia-sia karena lebih mudah menghindari serangan musuh.
Kekuatan di Mode Multiplayer
Daya tarik utama Crystal Chronicles adalah mode multiplayer-nya. Di versi GameCube, setiap pemain membutuhkan Game Boy Advance sebagai kontroler, yang harus dihubungkan dengan kabel. Meski merepotkan, pengalaman bermain bersama terasa memuaskan. Versi Remastered membuat proses ini lebih sederhana, tetapi kehilangan fitur couch co-op (multiplayer lokal) sangat disayangkan.
Namun, mode multiplayer masih memiliki daya tarik. Pemain dapat menjadi tuan rumah, bergabung dengan permainan orang lain, atau masuk ke sesi cepat yang sedang berlangsung. Bermain bersama kelompok dalam mode ini sangat menyenangkan, terutama ketika semuanya berjalan lancar. Durasi dungeon yang tidak terlalu panjang membuat mode ini ideal untuk sesi bermain singkat, terutama di perangkat mobile.
Masalah Teknis
Sayangnya, game ini memiliki waktu loading yang sangat lama. Jika penggemar membutuhkan pengingat bahwa game ini berasal dari 16 tahun lalu, waktu tunggu ini adalah jawabannya. Hal ini membuat kunjungan ke area yang tidak diwajibkan terasa seperti pekerjaan tambahan, padahal dunia game ini sebenarnya memiliki presentasi visual yang indah dan layak untuk dijelajahi.
Musik dan Pengisi Suara
Satu hal yang selalu menjadi kekuatan Final Fantasy adalah musiknya, dan Crystal Chronicles: Remastered Edition tidak terkecuali. Meski ada beberapa lagu yang terdengar mengganggu, secara keseluruhan, kualitas musiknya kuat. Namun, hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk pengisi suaranya. Tambahan pengisi suara baru di versi ini tidak sesuai dengan dunia game dan terasa kurang pas.
