Hubungi Kami

Kuliner Legendaris Es Dawet Ireng Purworejo: Resep Khas yang Bertahan Hingga Empat Generasi

Purworejo, sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang terkenal dengan berbagai kekayaan kuliner khas, memiliki salah satu minuman legendaris yang selalu diburu wisatawan, yaitu Es Dawet Ireng. Minuman ini bukan hanya menyegarkan, tetapi juga menyimpan sejarah panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu sentra pembuatan dawet ireng yang paling terkenal di Purworejo adalah di Kecamatan Butuh. Di sepanjang jalan utama kawasan ini, berjejer warung-warung sederhana yang menyajikan es dawet ireng dengan cita rasa autentik.

Sejarah Es Dawet Ireng Jembatan Butuh

Konon, Es Dawet Ireng khas Jembatan Butuh merupakan cikal bakal dari dawet khas Purworejo yang kini banyak ditemukan di sepanjang jalur Kebumen-Purworejo hingga Purworejo-Yogyakarta. Minuman ini mulai dikenal luas sejak tahun 1960-an. Resep tradisionalnya diwariskan secara turun-temurun, dan kini telah sampai ke generasi keempat. Salah satu pewaris yang masih meneruskan usaha ini adalah Tugiyanto, seorang penjual yang sudah mengabdikan diri selama bertahun-tahun.

“Saya generasi keempat. Yang pertama kali jualan adalah mbah buyut saya. Pelanggan tidak hanya dari Kabupaten Purworejo, tetapi juga dari berbagai kota lain. Setiap melintas, mereka pasti mampir,” ujar Tugiyanto yang kini berusia 36 tahun.

Keunikan Es Dawet Ireng

Berbeda dengan dawet pada umumnya yang berwarna hijau, Es Dawet Ireng memiliki warna hitam pekat yang berasal dari proses alami. Warna hitam ini dihasilkan dari abu bakar jerami yang dicampurkan dengan air. Campuran tersebut kemudian digunakan dalam proses pembuatan adonan dawet, sehingga menghasilkan warna unik tanpa tambahan pewarna buatan.

Dawet ini dibuat dari bahan-bahan alami seperti tepung sagu yang kemudian diolah menjadi cendol kenyal. Penyajiannya menggunakan santan kelapa yang diperas langsung dari kelapa segar, serta gula merah cair asli yang memberikan rasa manis khas. Minuman ini biasanya disajikan dalam mangkuk kecil dan ditambahkan es batu agar semakin segar.

“Kunci dari cita rasa khas dawet ini adalah penggunaan bahan-bahan alami dan pemilihan kelapa yang berkualitas untuk santan. Selain itu, gula merah asli dari daerah sekitar juga memberikan rasa yang lebih khas dibandingkan gula merah dari daerah lain,” tambah Tugiyanto.

Lapak Legendaris yang Tak Pernah Sepi

Salah satu tempat paling terkenal untuk menikmati Es Dawet Ireng adalah di lapak Dawet Ireng Jembatan Butuh, yang berlokasi di Kilometer 6 jalan Purworejo-Kebumen, tepatnya di Dusun Ketundan, Desa Butuh, Kecamatan Butuh. Setiap hari, sejak pagi hingga sore, lapak ini selalu ramai dikunjungi pelanggan, baik warga lokal maupun pendatang.

Dalam sehari, lapak Tugiyanto bisa menjual hingga 100 mangkuk es dawet ireng. Selain es dawet, warung ini juga menyediakan berbagai camilan tradisional yang cocok sebagai teman minum dawet, seperti lanting dan geblek.

“Tadi mulai pukul 09.00 sampai 13.00, budhe saya yang jualan. Nanti saya lanjut sampai sore. Kadang kami harus menyiapkan stok tambahan kalau permintaan sedang tinggi,” jelas Tugiyanto.

Harga Terjangkau dan Rasa Tak Tergantikan

Bagi pelanggan setia seperti Joni Andrian (45), warga Bekasi yang rutin pulang kampung ke Purworejo, Es Dawet Ireng Jembatan Butuh sudah menjadi agenda wajib setiap kali kembali ke kampung halaman.

“Setiap pulang ke Purworejo, pasti mampir sini. Rasanya segar dan khas. Harganya juga murah, hanya Rp5.000 per mangkuk. Kalau di Jakarta ada dawet seperti ini, tapi rasanya beda, mungkin karena bahan-bahannya tidak sama. Terutama gula merahnya, di sini lebih otentik dan manis alami,” ujar Joni yang mengaku bisa menghabiskan dua mangkuk sekaligus dalam sekali duduk.

Mengapa Es Dawet Ireng Purworejo Begitu Populer?

Popularitas Es Dawet Ireng Purworejo tidak lepas dari beberapa faktor utama, di antaranya:

  1. Resep Tradisional yang Dipertahankan – Cita rasa autentik yang tidak berubah sejak zaman dulu membuat minuman ini tetap digemari.
  2. Bahan Alami dan Berkualitas – Pewarna alami dari abu bakar jerami dan penggunaan gula merah asli membuat dawet ini lebih sehat dan kaya rasa.
  3. Harga Terjangkau – Dibandingkan dengan es dawet di kota besar, harga yang murah menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan.
  4. Lokasi Strategis – Berada di jalur utama Purworejo-Kebumen, lapak dawet ini mudah diakses oleh para pelancong dan pengguna jalan.

Menjaga Kelestarian Kuliner Tradisional

Sebagai salah satu minuman khas daerah yang memiliki nilai sejarah, penting untuk terus menjaga kelestariannya. Generasi muda diharapkan bisa tetap melestarikan dan memperkenalkan Es Dawet Ireng kepada lebih banyak orang, baik melalui media sosial maupun promosi di berbagai event kuliner.

“Saya berharap ke depannya anak-anak muda juga tertarik untuk melanjutkan usaha ini. Banyak pelanggan setia, tapi kita juga harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman, misalnya dengan memperkenalkan dawet ini lewat media sosial,” kata Tugiyanto.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kuliner tradisional, Es Dawet Ireng Jembatan Butuh diharapkan bisa terus eksis dan semakin dikenal luas, bukan hanya di Purworejo, tetapi juga di seluruh Indonesia.

unimma

Leave a Reply

  • https://ssg.streamingmurah.com:8048
  • Copyright ©2025 by PT. Radio Unimma. All Rights Reserved
  • http://45.64.97.82:8048
  • Copyright ©2025 by unimmafm. All Rights Reserved
  • http://45.64.97.82:8048/stream
  • Copyright ©2025 by unimmafm All Rights Reserved