Dunia Dragon Ball telah lama menjadi standar emas bagi genre shonen, sebuah saga yang identik dengan jeritan transformasi, pertarungan antar planet, dan upaya tak henti-hentinya untuk menembus batas kekuatan. Namun, ketika Dragon Ball Super: Super Hero hadir, ia membawa angin segar yang tidak terduga dengan mengalihkan sorotan dari duo ikonik Goku dan Vegeta. Film ini adalah sebuah eksperimen berani yang berhasil; sebuah narasi yang menempatkan keseimbangan antara nostalgia klasik Tentara Pita Merah (Red Ribbon Army) dengan teknologi animasi CGI modern yang revolusioner. Dengan menempatkan Gohan dan Piccolo sebagai pusat gravitasi cerita, film ini tidak hanya memberikan penghormatan kepada hubungan guru-murid yang paling dicintai dalam sejarah anime, tetapi juga membuktikan bahwa semesta Dragon Ball masih memiliki kedalaman emosional yang luar biasa di luar sekadar perebutan gelar petarung terkuat di alam semesta.
Plot film ini bermula dari sisa-sisa dendam masa lalu. Tentara Pita Merah, organisasi jahat yang dulu dihancurkan oleh Goku saat masih kecil, kembali bangkit di bawah pimpinan Magenta. Kali ini, mereka merekrut Dr. Hedo, cucu jenius dari Dr. Gero, untuk menciptakan android pamungkas yang mereka klaim sebagai “pahlawan” yang sebenarnya. Di sinilah letak ironi yang menarik: Gamma 1 dan Gamma 2, dua android baru ini, didesain dengan estetika pahlawan super klasik, lengkap dengan jubah dan pose dramatis. Mereka bukanlah mesin pembunuh tanpa jiwa, melainkan entitas yang percaya bahwa mereka sedang melakukan hal yang benar. Konflik ini memberikan lapisan moral yang lebih berwarna dibandingkan dengan penjahat-penjahat sebelumnya yang murni ingin menghancurkan dunia, menciptakan dinamika yang unik saat mereka harus berhadapan dengan Piccolo dan Gohan yang mereka anggap sebagai ancaman bagi perdamaian.
Salah satu aspek yang paling mencolok dan sempat menjadi perdebatan hangat adalah penggunaan animasi 3D penuh. Berbeda dengan film-film sebelumnya yang menggunakan gaya gambar tangan tradisional, Super Hero memilih estetika visual yang menyerupai panel manga yang hidup. Hasilnya adalah sebuah tontonan yang sangat dinamis dengan sudut pandang kamera yang lebih bebas dan koreografi pertarungan yang terasa lebih padat. Efek pencahayaan pada setiap ledakan energi Ki memberikan kedalaman yang belum pernah terlihat sebelumnya. Meskipun transisi ke CGI sering kali berisiko, Toei Animation berhasil menjaga jiwa dari desain karakter asli Akira Toriyama, memastikan bahwa ekspresi wajah dan gerakan ikonik para karakter tetap terasa akrab bagi mata para penggemar lama. Visual ini justru memperkuat tema “Super Hero” yang diusung, memberikan kesan modern pada cerita yang berakar pada elemen-elemen klasik.
Namun, kekuatan sejati dari film ini terletak pada pengembangan karakter Piccolo. Selama bertahun-tahun, Piccolo sering kali tergeser menjadi peran pendukung atau pengasuh bagi keluarga Gohan. Dalam Super Hero, kita melihat sisi taktis dan kebapakan Piccolo yang lebih dalam. Ia adalah penggerak utama plot, sosok yang menyadari ancaman sebelum orang lain, dan satu-satunya yang cukup peduli untuk “memancing” potensi terpendam Gohan yang mulai tumpul karena kesibukan akademisnya. Transformasi baru Piccolo, Orange Piccolo, bukan sekadar perubahan warna kulit atau peningkatan massa otot; itu adalah simbol dari pengakuan Dewa Naga terhadap dedikasi dan kebijaksanaan sang Namekian. Melihat Piccolo kembali berdiri di garis depan pertempuran memberikan kepuasan emosional yang sangat besar bagi para penggemar yang telah merindukan masa-masa kejayaannya di era Dragon Ball Z.
Di sisi lain, Gohan kembali menghadapi dilema klasiknya: keseimbangan antara kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan tanggung jawabnya sebagai pelindung bumi. Film ini secara jujur menggambarkan bagaimana Gohan kehilangan ketajamannya saat tidak berlatih, sebuah sentuhan realis yang membuat karakternya terasa manusiawi. Namun, ketika ancaman terhadap putrinya, Pan, menjadi nyata, kita melihat kembalinya kemarahan legendaris yang dulu menghancurkan Cell. Transformasi Gohan Beast adalah puncak dari segala potensi yang selama ini hanya tersirat. Dengan rambut perak yang menjulang dan mata merah yang tajam, wujud ini seolah mengatakan bahwa Gohan telah berhenti mengikuti jejak ayahnya dan mulai mengukir takdir kekuatannya sendiri. Pertarungan akhir melawan Cell Max—monster raksasa yang tak terkendali—menjadi panggung di mana Gohan dan Piccolo menunjukkan bahwa kerja sama tim dan ikatan batin jauh lebih efektif daripada kekuatan kasar sekalipun.
Humor khas Akira Toriyama juga tersebar dengan apik di sepanjang durasi film, memberikan jeda yang diperlukan di antara momen-momen intens. Mulai dari keinginan konyol Bulma saat menggunakan Bola Naga untuk prosedur kecantikan, hingga interaksi kikuk antara Piccolo dengan teknologi modern, elemen komedi ini menjaga agar film tetap terasa ringan dan menyenangkan. Bahkan di planet Beerus, di mana Goku, Vegeta, dan Broly sedang berlatih, kita disuguhi persaingan yang jenaka namun kompetitif yang mengingatkan kita mengapa kita jatuh cinta pada karakter-karakter ini. Kontras antara pertarungan serius di Bumi dan latihan santai di planet Beerus memberikan struktur narasi yang seimbang, memastikan bahwa meskipun fokusnya bergeser, dunia Dragon Ball yang lebih luas tetap terasa terhubung.
Film ini juga memberikan sorotan penting pada generasi masa depan melalui karakter Pan. Meskipun masih balita, Pan menunjukkan keberanian dan potensi yang luar biasa, memberikan harapan bahwa warisan para pejuang bumi akan berlanjut dengan cara yang menarik. Hubungannya dengan “Paman Piccolo” adalah salah satu elemen paling menyentuh dalam film, menunjukkan bahwa keluarga dalam Dragon Ball tidak selalu ditentukan oleh darah, melainkan oleh ikatan pelatihan dan kepercayaan. Kehadiran Pan sebagai pengikat emosional antara Gohan dan Piccolo memberikan bobot yang lebih personal pada setiap serangan yang mereka lancarkan terhadap musuh.
Secara keseluruhan, Dragon Ball Super: Super Hero adalah surat cinta bagi para karakter yang sering terabaikan namun memiliki tempat spesial di hati penggemar. Ia berhasil membuktikan bahwa narasi Dragon Ball tidak harus selalu tentang ancaman level dewa dari alam semesta lain atau transformasi baru bagi Goku. Terkadang, ancaman yang berasal dari masa lalu Bumi sendiri, yang dihadapi oleh pahlawan yang ada di rumah, bisa memberikan dampak yang jauh lebih kuat. Film ini adalah perayaan atas pertumbuhan, tanggung jawab, dan kekuatan abadi dari hubungan guru dan murid. Dengan visual yang inovatif dan cerita yang hangat namun penuh aksi, Super Hero menegaskan bahwa selama ada ancaman yang muncul, akan selalu ada pahlawan yang siap melampaui batas mereka—tidak peduli seberapa lama mereka telah meletakkan seragam tempurnya.
