Studio Ghibli telah lama dikenal sebagai penjaga takhta animasi tradisional dengan goresan tangan yang puitis dan dunia imajinatif yang seolah bernapas. Namun, melalui Earwig and the Witch (Aya to Majo), studio legendaris ini memutuskan untuk mendobrak dinding kenyamanannya sendiri dengan merambah dunia 3D CGI sepenuhnya. Diarahkan oleh Goro Miyazaki, film ini bukan sekadar adaptasi dari novel karya Diana Wynne Jones—penulis yang sama di balik Howl’s Moving Castle—melainkan sebuah pernyataan tentang perubahan zaman. Meskipun transisi visual ini memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar setia, film ini menawarkan energi yang berbeda: sebuah narasi yang tidak didorong oleh rasa takjub yang lembut, melainkan oleh semangat pemberontakan seorang anak kecil yang keras kepala di tengah lingkungan yang dingin dan penuh sihir hitam.
Cerita berpusat pada Earwig, seorang anak yatim piatu yang tumbuh besar dengan filosofi hidup yang tidak biasa bagi pahlawan Ghibli: ia ingin mengendalikan semua orang di sekitarnya. Berbeda dengan karakter seperti Chihiro atau Sheeta yang sering kali terlempar ke dalam situasi sulit dan harus beradaptasi, Earwig adalah manipulator kecil yang cerdas. Ketika ia diadopsi oleh pasangan aneh—seorang penyihir bernama Bella Yaga dan entitas misterius bertubuh besar bernama Mandrake—ia tidak merasa takut. Sebaliknya, ia melihat rumah tua yang suram itu sebagai tantangan baru untuk ditaklukkan. Dinamika ini memberikan warna baru pada trope “rumah berhantu” atau “magang penyihir”. Earwig tidak ingin menjadi penyihir demi kebaikan dunia; ia ingin belajar sihir agar ia tidak perlu lagi melakukan pekerjaan rumah tangga dan bisa mengatur hidupnya sendiri.
Keputusan Goro Miyazaki untuk menggunakan CGI memberikan tekstur yang unik pada detail-detail kecil di dalam rumah Bella Yaga. Kita bisa melihat tumpukan bahan ramuan yang kotor, debu yang menempel di sudut-sudut ruangan, hingga tekstur makanan yang tampak jauh lebih padat dan nyata. Meskipun banyak yang merindukan sapuan cat air khas Ghibli yang memberikan kesan mimpi, gaya visual Nocturne dalam bentuk CGI ini memberikan kesan yang lebih klaustrofobik dan taktil. Hal ini sangat mendukung atmosfer cerita yang hampir seluruhnya terjadi di dalam ruangan tertutup. Ekspresi wajah Earwig yang nakal dan penuh rencana jahat pun berhasil disampaikan dengan keluwesan animasi yang menonjolkan sifat keras kepalanya, menciptakan karakter yang sulit untuk tidak dicintai meskipun ia jauh dari kata “manis”.
Salah satu elemen paling menarik dari film ini adalah pengaruh musik rock tahun 70-an yang menjadi latar belakang misterius bagi para karakternya. Melalui kilas balik dan alunan lagu “Don’t Disturb Me”, kita diberi tahu bahwa ibu Earwig adalah bagian dari sebuah band rock penyihir. Musik di sini bukan sekadar penghias, melainkan simbol kebebasan dan masa lalu yang terputus. Mandrake, dengan karakternya yang pendiam namun meledak-ledak, memberikan keseimbangan emosional dalam film ini. Meskipun ia tampak mengerikan, ia adalah sosok yang paling menghargai bakat dan semangat Earwig. Hubungan antara Earwig, Bella Yaga yang pemarah, dan Mandrake yang introvert menciptakan dinamika keluarga disfungsional yang segar, di mana cinta tidak ditunjukkan dengan pelukan, melainkan dengan pengakuan atas kekuatan satu sama lain.
Meskipun film ini sering dikritik karena narasi yang terasa menggantung dan berakhir dengan tiba-tiba, ada filosofi yang mendalam tentang kemandirian anak-anak di dalamnya. Earwig and the Witch merayakan kecerdikan anak-anak dalam menghadapi otoritas dewasa yang tidak kompeten atau kasar. Earwig mengajarkan bahwa untuk bertahan hidup di dunia yang tidak adil, terkadang seseorang harus sedikit licik dan berani melawan arus. Ia adalah antitesis dari karakter anak-anak yang pasif; ia adalah agen perubahan dalam rumah tangga Bella Yaga yang stagnan. Kegigihannya untuk tetap ceria dan kreatif di bawah tekanan kerja paksa adalah bentuk perlawanan yang sangat relevan dan manusiawi.
Pada akhirnya, Earwig and the Witch mungkin bukan film Ghibli yang akan membuat Anda menangis karena keindahannya, tetapi ia adalah film yang akan membuat Anda menyeringai karena kenakalannya. Ia adalah langkah pertama yang berani bagi studio untuk berevolusi dan mencoba bahasa visual baru di tengah industri animasi global yang terus berubah. Meskipun masih memiliki kekurangan dalam struktur ceritanya, film ini berhasil menangkap esensi dari karya Diana Wynne Jones: bahwa sihir sesungguhnya bukan hanya tentang mantra dan ramuan, tetapi tentang kekuatan kemauan untuk mengubah keadaan sesulit apa pun menjadi tempat yang bisa kita sebut rumah. Ini adalah sebuah surat bagi mereka yang berani menjadi sedikit “berisik” dan tidak takut untuk mengambil kendali atas takdir mereka sendiri.