Dunia animasi sering kali menjadi panggung bagi karakter-karakter yang merasa tidak selaras dengan ekspektasi lingkungan mereka, sebuah tema universal yang menghubungkan dua ikon besar dari era yang berbeda: Ariel dari The Little Mermaid dan si banteng lembut dari film Ferdinand. Judul film Ferdinand sendiri seolah menjadi cermin bagi perjuangan Ariel; keduanya adalah narasi tentang makhluk yang secara biologis dan sosial telah dipetakan takdirnya oleh tradisi, namun memilih untuk memberontak demi integritas jiwa mereka. Ariel, sebagai putri duyung, diharapkan untuk tetap berada di bawah permukaan laut dan menjalankan perannya sebagai bangsawan samudra, sementara Ferdinand diharapkan menjadi mesin petarung yang haus darah di arena adu banteng. Namun, esensi dari kedua cerita ini bukanlah tentang apa yang tampak di permukaan, melainkan tentang keberanian untuk menolak kekerasan dan batasan demi mengejar apa yang mereka cintai, baik itu dunia manusia bagi Ariel maupun taman bunga bagi Ferdinand.
Ariel adalah representasi dari dahaga akan pengetahuan dan pengalaman yang melampaui batas-batas fisik, sebuah karakteristik yang sangat selaras dengan cara Ferdinand memandang dunia di luar arena. Dalam film Ferdinand, kita melihat seekor banteng yang secara fisik sangat kuat namun secara emosional sangat halus, sebuah kontradiksi yang juga dimiliki oleh Ariel. Ariel memiliki kekuatan suara dan status kerajaan, namun ia lebih memilih menggunakan energinya untuk mempelajari hal-hal yang dianggap remeh oleh kaumnya, seperti garpu atau pipa tembakau milik manusia. Keingintahuan Ariel bukan sekadar hobi, melainkan bentuk pencarian identitas yang autentik. Begitu pula dengan Ferdinand, yang meskipun memiliki otot besar untuk menghancurkan, lebih memilih untuk melangkah hati-hati agar tidak menginjak sekuntum bunga. Keduanya menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kemampuan untuk mendominasi atau mengikuti arus, melainkan pada kemampuan untuk tetap lembut di dunia yang menuntut kekerasan dan kepatuhan buta.
Konflik utama dalam perjalanan Ariel adalah benturannya dengan figur otoritas, yaitu Raja Triton, yang sangat mirip dengan tekanan sistemik yang dihadapi Ferdinand di Casa del Toro. Triton memandang dunia manusia sebagai ancaman mematikan, sebuah prasangka yang menutup ruang dialog dan memaksa Ariel untuk bergerak di bawah tanah atau, dalam hal ini, di bawah laut secara rahasia. Dalam narasi Ferdinand, lingkungan sekitar banteng tersebut juga menciptakan stigma bahwa satu-satunya cara bagi seekor banteng untuk mendapatkan kehormatan adalah dengan bertarung sampai mati. Ariel dan Ferdinand sama-sama terjebak dalam sistem yang tidak menyediakan pilihan ketiga; mereka harus menjadi apa yang diinginkan masyarakat atau mereka akan dianggap sebagai kegagalan. Keberanian Ariel untuk membuat kesepakatan dengan Ursula, meskipun sangat berisiko, mencerminkan keputusasaan seorang individu yang merasa jiwanya tercekik oleh dinding-dinding tradisi yang kaku.
Menariknya, ketika kita meninjau judul film Ferdinand dalam konteks Ariel, kita melihat bahwa kedua karakter ini sebenarnya sedang memperjuangkan hak untuk “tidak bertarung.” Ariel tidak ingin bertarung melawan ayahnya atau melawan manusia; ia hanya ingin menjadi bagian dari sesuatu yang berbeda. Ferdinand pun demikian, ia menolak untuk menyeruduk bukan karena ia takut, tetapi karena ia tidak melihat kebencian sebagai jalan hidup. Ariel mengorbankan suaranya, identitasnya yang paling berharga, untuk mendapatkan sepasang kaki yang akan membawanya ke daratan. Pengorbanan ini sering disalahartikan sebagai tindakan impulsif karena cinta pada seorang pangeran, namun jika kita melihat lebih dalam, itu adalah pengorbanan untuk kebebasan bergerak dan hak untuk menentukan spesiesnya sendiri. Hal ini serupa dengan momen krusial dalam Ferdinand ketika sang banteng memilih untuk duduk di tengah arena adu banteng meskipun diprovokasi oleh matador, sebuah aksi non-kekerasan yang justru lebih kuat daripada serudukan mana pun.
Transformasi adalah elemen kunci yang mengikat kedua cerita ini menjadi satu kesatuan filosofis yang kuat. Ariel mengalami transformasi fisik melalui sihir, namun transformasi mentalnya telah terjadi jauh sebelum ia bertemu Ursula. Ia telah memanusiakan dirinya sendiri melalui rasa empati dan keingintahuan. Di sisi lain, Ferdinand bertransformasi dari seekor anak banteng yang lari dari kenyataan menjadi banteng dewasa yang mampu menghadapi kenyataan tanpa kehilangan kelembutannya. Keduanya membuktikan bahwa lingkungan luar tidak harus mendikte sifat batiniah seseorang. Jika Ariel adalah simbol dari impian yang membubung tinggi, maka Ferdinand adalah simbol dari kedamaian yang membumi. Keduanya bertemu pada satu titik: bahwa hidup hanya layak dijalani jika kita bisa menjadi diri sendiri secara utuh, tanpa topeng dan tanpa paksaan dari mereka yang mengaku paling tahu tentang masa depan kita.
Pesan moral yang dibawa oleh karakter Ariel dalam semangat film Ferdinand juga menyentuh aspek tentang bagaimana kita memandang “si liyan” atau mereka yang berbeda. Dalam The Little Mermaid, manusia dianggap monster oleh duyung, dan dalam Ferdinand, banteng dianggap monster oleh manusia. Namun, melalui mata Ariel dan Ferdinand, kita diajak untuk meruntuhkan tembok prasangka tersebut. Ariel melihat keindahan dalam musik dan penemuan manusia, sementara Ferdinand melihat kebaikan dalam diri seorang gadis kecil bernama Nina. Mereka adalah jembatan komunikasi antara dua dunia yang saling takut dan benci. Dengan menolak untuk menjadi musuh, Ariel dan Ferdinand sebenarnya sedang menyembuhkan luka sosial yang disebabkan oleh ketidaktahuan generasi sebelumnya. Mereka mengajarkan bahwa perdamaian dimulai ketika satu individu berani berkata “tidak” pada siklus kebencian yang telah diwariskan turun-temurun.
Sebagai penutup, membandingkan Ariel dengan narasi dalam film Ferdinand memberikan kita pemahaman baru bahwa pahlawan tidak selalu mereka yang mengangkat senjata atau memenangkan peperangan besar. Kadang-kadang, pahlawan adalah mereka yang berani berenang melawan arus, mereka yang berani meletakkan tanduknya, dan mereka yang berani melepaskan suaranya demi sebuah kemungkinan untuk dicintai apa adanya. Ariel tetap menjadi ikon karena ia mewakili kerinduan setiap jiwa untuk bebas, dan melalui kacamata nilai-nilai Ferdinand, kita belajar bahwa kebebasan tersebut hanya bisa dicapai melalui kelembutan dan keteguhan hati. Baik di kedalaman samudra yang biru maupun di bawah terik matahari Spanyol, pesan yang disampaikan tetap sama: jadilah dirimu sendiri, karena di dunia yang terus mencoba mengubahmu menjadi sesuatu yang lain, menjadi diri sendiri adalah pencapaian terbesar yang bisa dilakukan oleh makhluk mana pun.