Film Coyote vs. Acme sejatinya direncanakan sebagai sebuah surat cinta bagi penggemar animasi klasik Looney Tunes, sebuah hibrida live-action dan animasi yang menjanjikan kesegaran di tengah kejenuhan pasar film keluarga. Disutradarai oleh Dave Green dan diproduseri oleh James Gunn, film ini bukan sekadar kartun biasa; ia merupakan adaptasi dari artikel humor legendaris karya Ian Frazier yang diterbitkan di The New Yorker pada tahun 1990. Premisnya sangat brilian: Wile E. Coyote, setelah puluhan tahun gagal menangkap Road Runner akibat kegagalan produk dari Acme Corporation, akhirnya memutuskan untuk membawa perusahaan raksasa tersebut ke meja hijau. Dengan bintang-bintang papan atas seperti John Cena yang berperan sebagai pengacara Acme dan Will Forte sebagai pengacara Wile E. Coyote, film ini diharapkan menjadi sebuah komedi satir yang cerdas tentang hukum, kapitalisme, dan keteguhan hati seorang karakter yang tidak pernah menyerah meski selalu tertimpa anvil.
Namun, narasi di balik layar film ini berubah menjadi sebuah melodrama industri yang memilukan ketika Warner Bros. Discovery (WBD) mengumumkan pada akhir 2023 bahwa mereka akan membatalkan perilisan film tersebut sepenuhnya. Yang membuat keputusan ini mengejutkan bukan karena kualitas filmnya buruk—bahkan, skor tes penonton dilaporkan sangat tinggi, jauh melampaui rata-rata film keluarga sejenis—melainkan karena alasan finansial murni. WBD memilih untuk melakukan “penghapusan pajak” (tax write-off) sebesar $30 juta daripada merilis film yang menghabiskan biaya produksi sekitar $70 juta. Keputusan ini memicu gelombang kemarahan di Hollywood, di mana para sineas mulai merasa bahwa karya seni mereka hanyalah sekadar angka di atas lembaran akuntansi yang bisa dihapus kapan saja demi keuntungan jangka pendek perusahaan. Meskipun sempat ada harapan ketika Warner Bros. mengizinkan produser untuk menawarkan film tersebut ke studio lain seperti Amazon, Netflix, atau Paramount, kesepakatan tersebut kabarnya gagal karena harga yang dipatok WBD dianggap terlalu tinggi, meninggalkan Coyote vs. Acme terombang-ambing di dalam gudang digital tanpa kepastian tanggal tayang.
Secara tematik, Coyote vs. Acme sebenarnya mencerminkan ironi yang terjadi pada dirinya sendiri di dunia nyata. Di dalam film, Wile E. Coyote melawan sistem korporasi besar yang memonopoli hidupnya; di dunia nyata, film itu sendiri menjadi korban dari sistem korporasi yang lebih memprioritaskan efisiensi pajak dibandingkan nilai budaya. Kehilangan film ini bukan hanya kerugian bagi penonton yang merindukan komedi berkualitas, tetapi juga menjadi preseden berbahaya bagi masa depan perfilman. Jika sebuah film yang sudah selesai diproduksi, disukai oleh penonton uji, dan digarap oleh talenta berbakat bisa dibuang begitu saja demi keuntungan pembukuan, maka integritas kreatif berada dalam ancaman serius. Coyote vs. Acme kini berdiri sebagai monumen bagi ketegangan antara seni dan bisnis, sebuah pengingat bahwa di Hollywood modern, terkadang musuh terbesar bagi sebuah karakter kartun bukanlah jatuh dari tebing atau tertimpa bom, melainkan sebuah tanda tangan di ruang rapat eksekutif.
Pembatalan Coyote vs. Acme mengirimkan gelombang kejut ke komunitas animasi global. Animasi sering kali dipandang sebagai “anak tiri” dalam industri hiburan besar, meskipun secara konsisten menghasilkan pendapatan miliaran dolar. Dengan membatalkan proyek yang sudah matang seperti ini, eksekutif mengirimkan pesan bahwa dedikasi ribuan seniman CGI, penulis naskah, dan pengisi suara dapat dihapus hanya dengan satu keputusan administratif. Hal ini memicu diskusi luas mengenai hak cipta dan pelestarian film di era digital.