(876Unimmafm) Magelang — Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-1120, Pemerintah Kota Magelang menghadirkan beragam rangkaian kegiatan yang sarat makna budaya dan kebersamaan masyarakat. Salah satu agenda yang paling dinantikan adalah Grebeg Gethuk, tradisi khas yang menegaskan identitas kuliner Kota Magelang.
Grebeg Gethuk menjadi simbol kekayaan lokal yang telah melekat erat dengan citra Kota Magelang. Gethuk, makanan tradisional berbahan dasar singkong, tidak hanya dikenal sebagai kuliner legendaris, tetapi juga merepresentasikan nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan gotong royong masyarakat.
Dalam perayaan tahun ini, Grebeg Gethuk kembali digelar dengan meriah. Gunungan gethuk yang disusun artistik menjadi pusat perhatian warga dan wisatawan yang memadati lokasi acara. Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal kegiatan, mulai dari prosesi kirab budaya hingga momen perebutan gunungan yang menjadi tradisi penuh makna.
Wali Kota Magelang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-1120, khususnya pelaksanaan Grebeg Gethuk tahun 2026.
“Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung rangkaian hari jadi, khususnya Grebeg Gethuk hari ini, sehingga dapat berjalan dengan baik dan lancar. Terima kasih juga kepada masyarakat Kota Magelang, para seniman, dan budayawan yang telah menampilkan berbagai seni budaya dengan luar biasa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan Grebeg Gethuk tahun ini juga menghadirkan sejumlah inovasi, salah satunya perubahan rute kirab budaya yang menyesuaikan dengan keberadaan Pendopo Alun-Alun sebagai fasilitas baru milik masyarakat.
“Pendopo Alun-Alun ini merupakan hibah dari Kementerian Keuangan kepada Pemerintah Kota Magelang dan tahun ini sudah bisa dimanfaatkan secara penuh. Karena itu, rute kirab kita sesuaikan, dimulai dari pendopo menuju Alun-Alun Kota Magelang,” jelasnya.
Meski menghadirkan inovasi, Wali Kota menegaskan bahwa pelaksanaan tradisi tetap berpijak pada nilai dan pakem sejarah yang menjadi identitas Kota Magelang.
“Kita boleh berinovasi, tetapi tidak boleh keluar dari pakem sejarah dan nilai budaya Kota Magelang. Ini yang harus terus kita jaga dan lestarikan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang, Nurwiyono Slamet Nugroho, menjelaskan bahwa pusat perhatian dalam Grebeg Gethuk terletak pada dua gunungan utama, yakni Gunungan Gethuk Lanang dan Gunungan Gethuk Wadon.
“Masing-masing memiliki diameter 2,5 meter dengan tinggi mencapai 3 meter, dengan bahan baku dibuat dari total 2 kuintal ketela,” ungkapnya.
Ia menambahkan, terdapat perubahan signifikan dalam konsep tampilan gunungan pada tahun ini. Jika sebelumnya gunungan identik dengan hasil bumi atau palawija, kini setiap kelurahan didorong untuk menampilkan visualisasi ekonomi kreatif dan kearifan lokal masing-masing.
“Setiap kelurahan diminta menghadirkan representasi potensi ekonomi kreatif dan kearifan lokal yang dimiliki, sehingga tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memperkuat identitas wilayah di Kota Magelang,” jelasnya.
Selain Grebeg Gethuk, berbagai kegiatan lain turut memeriahkan peringatan hari jadi, mulai dari lomba, pentas seni, hingga event ekonomi kreatif yang melibatkan masyarakat luas.
Momentum Hari Jadi ke-1120 ini diharapkan menjadi refleksi bagi seluruh warga untuk terus menjaga semangat kebersamaan, memperkuat kemandirian daerah, serta meningkatkan daya saing Kota Magelang di berbagai sektor.
Dengan semangat kebersamaan dan pelestarian budaya, Kota Magelang terus melangkah sebagai kota yang tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga kokoh dalam menjaga warisan budaya yang menjadi jati dirinya.